Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Sabtu, 29 Oktober 2022

Definisi Kebahagiaan dan Kesenangan

sumber foto: https://www.republika.co.id/berita/poqzt1313/hakikat-kebahagiaan

Dalam tulisan kali ini, akan dibahas definisi antara kesenangan dan kebahagiaan. Semoga bermanfaat.

Kebahagiaan adalah berbeda dengan kesenangan. Kebahagiaan lebih tinggi derajatnya daripada kesenangan. Kesenangan dapat diperoleh secara instan dengan melakukan hal-hal yang dapat membuat suasana hati kita menjadi senang. Sedangkan kita tahu bahwa suasana hati itu berubah-ubah.

Untuk memperoleh kebahagiaan, kita harus bersakit-sakit terlebih dahulu. Kebahagiaan adalah hasil dari perjuangan yang kita lakukan. Oleh karenanya, kebahagiaan itu bersifat kokoh, sulit berubah. Karena proses mendapatkannya juga tidak mudah.

Suasana hati tidak layak dijadikan nahkoda dalam keseharian kita, karena sifatnya yang mudah berubah-ubah. Hal yang pantas menjadi nahkoda dalam keseharian kita adalah sesuatu yang agung, yaitu visi hidup, cita-cita, ataupun impian.

Jika kita dapat mencapai visi hidup kita, mencapai cita-cita atau mewujudkan impian, tentulah kita akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Jika dalam suatu hari kita dihadapkan di antara dua pilihan aktivitas: pertama adalah aktivitas yang ingin kita lakukan dan dapat membuat hati kita senang sedangkan aktivitas kedua adalah aktivitas yang terlintas di dalam pikiran kita namun rasanya malas untuk melakukannya namun dapat mengantarkan kita lebih dekat dengan visi hidup kita. Maka pilihan yang tepat adalah mengerjakan aktivitas kedua. 

Sekian dan terima kasih.

Minggu, 15 Mei 2022

Berawal dari Nggak Pengen ke Kepengen Banget. Curhat Dikit Nggak Apa-Apa Kan? Dasar-Dasar Fotografi.

Sumber foto: www.unsplash.com

Pengantar

Saya mulai mengenal fotografi sejak tahun 2012 / 2013. Sebelum tahun tersebut sebenarnya juga sudah bersentuhan dengan dunia fotografi namun hanya sekedar motret-motret biasa saja menggunakan kamera handphone. Tahun 2012 atau kalau tidak salah ingat tahun 2013, itu adalah momen pertamaku menggunakan kamera DSLR (kamera DSLR yang kugunakan saat itu adalah Nikon D3200). Saya diberi job oleh senior untuk mendokumentasikan sebuah acara temu alumni walaupun saya hanyalah fotografer backup (fotografer kedua) dalam acara tersebut. Saat kegiatan usai, satu komentar dari senior yang masih kuingat sampai sekarang adalah: KENAPA KURANG SEKALI FOTONYA?!. Itulah pelajaran pertama yang kudapat dalam fotografi. Saat mendapatkan job fotografi dan Anda masih pemula, maka perbanyaklah memotret.

Sejak mahasiswa, saya memang sudah menanamkan mindset, bahwa saya tidak tertarik dengan fotografi, dan saya tidak akan pernah mengambil job tersebut. Di tahun 2014, saya mendapatkan panggilan untuk mengikuti penelitian tema megalitik di Lembah Bada, Poso, Sulawesi Tengah selama sebulan. Terdapat berbagai job dalam penelitian tersebut, yang salah satunya adalah fotografi. Karena kebetulan saya juga memiliki keahlian menggambar, sehingga saya memiliki alasan untuk tidak mengambil job fotografi. Karena job dalam penelitian tersebut dirolling, maka saya sampai mengeluarkan argumen bahwa job apapun akan saya terima asal jangan motret. Saya tidak tahu motret.

Tahun 2015 saya menyelesaikan studi S1 ku dan langsung magang di tempatku menimba ilmu. Karena hanya saya seorang yang magang di sana, maka job apapun harus kuterima, termasuk fotografi. Di tempatku magang inilah saya mulai mempelajari fotografi. Jadi bisa dibilang motivasi awalku belajar fotografi adalah karena tuntutan pekerjaan. Di masa magangku ini saya mulai serius belajar fotografi. Mindset awal ku pun musnah tergantikan dengan keinginanku untuk belajar fotografi. Tidak puas dengan materi gratisan, saya pun sempat rela mengeluarkan uang untuk materi berbayar.

Waktu terus berlalu. Karirku dalam dunia fotografi pun bisa dibilang meningkat. Karena yang tadinya hanya skala departemen, sekarang menjadi skala fakultas. Saya pun menjadi fotografer fakultas. Dalam tulisan ini sebenarnya hal yang ingin disampaikan adalah sharing mengenai dasar-dasar fotografi. Hanya sekedar berbagi dengan para pembaca. Adapun kisah penulis berkenaan dengan fotografi hanyalah sebuah pengantar.

Dasar-Dasar Fotografi

Berawal dari Mode Auto atau Program ke Mode Manual

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Jika Anda sudah beranjak dari mode Auto / Program ke mode Manual dalam menggunakan kamera DSLR, maka itu adalah permulaan yang baik. Awal karir penulis di dunia fotografi juga seperti itu, berawal dari mode Auto atau Program ke Mode Manual. Di dalam kamera DSLR terdapat beberapa mode yang dapat digunakan. Dalam tulisan ini, penulis membaginya ke dalam dua golongan besar, yaitu Mode Otomatis dan Mode Non Otomatis. Kamera DSLR pada umumnya memiliki tiga mode otomatis, yaitu (1) Mode Auto, (2) Mode Program, dan (3) Mode Auto tanpa Flash Light. Mode Auto sama halnya dengan memotret dengan menggunakan kamera handphone. Pengaturan kamera diserahkan sepenuhnya ke kamera. Sehingga mode ini cocok digunakan untuk fotografer pemula.

Selanjutnya adalah Mode Auto tanpa Flash Light. Terkadang, di beberapa tempat, pemilik tempat mengizinkan untuk memotret di dalam ruangan, namun karena suatu alasan sehingga dilarang menyalakan flash light. Dalam kondisi seperti ini, mode Auto tanpa Flash Light inilah yang cocok digunakan. Satu perbedaan lagi antara Mode Auto dengan Mode Auto tanpa Flash Light adalah saat kondisi obyek yang akan difoto disinari cahaya yang tidak cukup, maka built-in flash light kamera akan secara otomatis terbuka sedangkan saat obyek mengalami kondisi minim cahaya dengan menggunakan mode Auto tanpa Flash Light, maka built-in flash light tidak akan terbuka dan sebagai penggantinya nilai ISO kamera dinaikkan, yang biasanya dua kali lipat. Selain itu, terdapat satu alasan menggunakan mode ini. Penulis sendiri dulunya sering menggunakan Mode Auto tanpa Flash Light ini karena tidak menyukai hasil foto yang menggunakan flash light. Hasil foto dengan menggunakan built-in flash light akan menimbulkan bayangan tajam di belakang obyek yang difoto.

Mode Otomatis yang terakhir adalah Mode Program. Sebenarnya mode program ini adalah mode semi otomatis. Karena dengan menggunakan mode ini, pengguna kamera masih dapat melakukan pengaturan pada kamera. Nilai yang dapat diatur adalah nilai ISO-nya, sedangkan untuk nilai Aperture dan Shutter Speed-nya diatur oleh kamera. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa mode ini dikelompokkan ke dalam mode semi otomatis di dalam tombol dial kamera.

Mode Non Otomatis terdiri dari: (1) Mode P, (2) Mode S, (3) Mode A, dan (4) Mode M. Sebelum menggunakan mode ini, pemahaman mengenai segitiga fotografi adalah hal yang mutlak untuk diketahui. Mode semi otomatis ini sangat jarang penulis gunakan dalam memotret, sehingga hanya tahu secara teoritis saja. Mode P adalah seperti yang telah dijelaskan di atas. Mode S adalah singkatan dari Mode Shutter Speed Priority. Mode ini lebih memprioritaskan pengaturan shutter speed kamera dan nilai aperture-nya otomatis atau dengan kata lain, Mode S ini mengotomatiskan pengaturan nilai aperture dan memanualkan pengaturan nilai shutter speed. Mungkin mode ini cocok digunakan dalam kondisi obyek yang ingin difoto memiliki pergerakan yang dinamis, yaitu kadang cepat, kadang lambat. Sehingga pemotret harus mengatur nilai shutter speednya secara manual. Jika Mode S memanualkan nilai shutter speed kamera, maka Mode A (Aperture Priority) memanualkan nilai aperture kamera, dan mengotomatiskan nilai shutter speed kamera.

Mode terakhir adalah Mode Manual, mode yang penulis gunakan dalam motret hingga saat ini. Mode ini menjadi mode favorit penulis karena dengan mode ini, kendali penuh terhadap kamera berada di tangan si pemegang kamera. Jadi lebih memainkan kreativitas kita dalam memotret. Dalam mode ini, nilai ISO, aperture, dan shutter speed diatur oleh si pemegang kamera.

Segitiga Fotografi dan Komponen Utama dalam Memotret

Sumber gambar: shotsbyalexander.com


Segitiga Fotografi atau Segitiga Eksposur adalah pengetahuan mutlak yang harus dimiliki oleh orang-orang yang ingin berkecimpung di dalam dunia fotografi. Segitiga Eksposur terdiri dari tiga komponen yang satu sama lain saling mempengaruhi. Pengaturan ketiga komponen inilah yang menentukan terang gelapnya foto. Ketiga komponen tersebut adalah ISO, Aperture, dan Shutter Speed. Namun, selain ketiga komponen tersebut, terdapat satu komponen utama yang sangat penting dalam motret. Komponen tersebut adalah cahaya. Tanpa cahaya, kamera sebagus apapun tidak akan ada gunanya. Dari cahaya inilah kita dapat melakukan pengaturan terhadap ISO, Aperture dan Shutter Speed.

Dalam kamera DSLR, terdapat tiga komponen penting, yakni sensor, cermin, dan aperture pada lensa. Dengan melakukan pengaturan nilai ISO, berarti kita melakukan pengaturan terhadap tingkat kepekaan sensor kamera terhadap cahaya. Dengan melakukan pengaturan nilai shutter speed, berarti kita melakukan pengaturan terhadap lamanya cermin terangkat atau dengan kata lain, lamanya cahaya mengenai sensor kamera. Dengan melakukan pengaturan nilai aperture, berarti kita melakukan pengaturan terhadap besar kecilnya bukaan lensa, sehingga menentukan jumlah cahaya yang masuk mengenai sensor kamera.

Kondisi tempat motret dapat dibagi dua, yaitu indoor dan outdoor. Kedua kondisi ini membuat perbedaan pengaturan kamera yang sangat signifikan utamanya pada nilai ISO. Saat berada di luar ruangan (outdoor), sumber cahaya adalah matahari sehingga cahaya melimpah ruah, yang mengharuskan kepekaan sensor kamera di-setting rendah. Misalnya ISO 100 hingga 800. Saat berada di dalam ruangan (indoor), sumber cahaya adalah lampu. Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu: jika jumlah cahaya lampunya cukup, maka settingan nilai ISO tidak usah terlalu tinggi, tapi jika jumlah cahaya lampunya tidak cukup (ruangannya gelap), maka settingan nilai ISO harus tinggi. Berdasarkan pengalaman penulis, biasanya menggunakan nilai ISO ribuan. Seperti 1250, 1600, hingga 6400. Kesimpulannya adalah jika cahaya tidak memadai, maka sensor kamera harus lebih dipekakan lagi terhadap cahaya agar foto menjadi terang. Namun jika cahaya yang tersedia cukup memadai, maka sensor kamera tidak usah ditinggikan nilai kepekaannya terhadap cahaya.

Komponen yang kedua adalah shutter speed. Pengaturan ini bergantung pada pergerakan obyek yang ingin difoto. Jika obyek yang ingin difoto adalah benda yang tidak bergerak (benda mati), maka lama cahaya mengenai sensor kamera dapat disetting lama (dapat disetting 1/60 ke bawah hingga 2 detik). Namun jika obyek yang ingin difoto adalah obyek yang bergerak, maka settingan shutter speednya harus dipertimbangkan. Berdasarkan pengalaman penulis, jika obyek yang ingin difoto adalah orang-orang dengan kegiatan seperti rapat, seminar, dan kegiatan-kegiatan sejenis, maka nilai shutter speednya cukup dengan 1/60, 1/80 hingga yang paling tinggi adalah 1/125. Pergerakan orang-orang dalam kegiatan rapat ataupun seminar adalah relatif lambat, sehingga tidak perlu mengatur nilai shutter speed terlalu cepat. Berbeda dengan orang-orang yang sedang berada dalam kegiatan olah raga apalagi balapan motor atau mobil. Maka shutter speed harus disetting cepat untuk membekukan obyek yang ingin difoto.

Komponen yang terakhir adalah aperture. Pengaturan nilai aperture ini bergantung dari tata letak obyek yang ingin di foto. Jika kita ingin memfokuskan kedua obyek yang dekat dan jauh dari kamera, maka aperture (bukaan) lensa harus dipersempit, dan jika kita hanya ingin memfokuskan satu obyek saja (obyek yang dekat atau yang jauh saja), maka bukaan lensa harus diperlebar.

Jadi kesimpulannya adalah saat dihadapkan dengan kondisi cahaya yang tidak cukup, maka sensor kamera dipekakan yang berarti nilai ISO dinaikkan. Saat dihadapkan dengan kondisi obyek yang bergerak cepat, maka lama cahaya mengenai sensor kamera dipercepat. Saat ingin menajamkan semua obyek, maka persempitlah aperture lensa.

Hubungan Antara Ketiga Komponen, Kelebihan dan Kekurangannya

To Be Continued…

Kamis, 03 Maret 2022

Manusia Mirip Keramik

Ilustrasi 1 : Bibir
Sumber foto: Angelina Jolie (Lelabbra di Angelina Jolie on Facebook)
Keramik (www.unsplash.com

Dari judul tulisan ini, mungkin beberapa pembaca sudah bisa menebak isinya. Tulisan ini muncul akibat kebingungan dan keresahan yang penulis alami setelah berhari-hari berhadapan dengan keramik-keramik untuk diinput ke dalam database lab. Sebagai seorang alumni arkeologi yang mungkin karena nasib sehingga lebih sering dihadapkan dengan persoalan-persoalan applied archaeology dan IT ketimbang pure archaeology, saya sempat dibuat kaget oleh sebuah realita. Saat melihat plastik klip (masyarakat umum menyebutnya dengan istilah kantung obat) yang—dengan menggunakan spidol permanen—bertuliskan kurang lebih seperti ini:

“Fragmen Tembikar (Badan)”

“Fragmen Tembikar (Bibir)”

“Fragmen Tembikar (Kaki)”

Lima atau mungkin tujuh tahun telah berlalu semenjak penulis berpisah dengan persoalan-persoalan pure archaeology, istilah tersebut masih digunakan sampai sekarang, dan yang lebih ironisnya lagi entah mengapa persoalan ini baru dipersoalkan.

Realitas ini sekaligus membuat saya kagum terhadap pencipta terminologi bagian-bagian keramik. Ia adalah orang yang hebat, karena istilah yang diciptakannya masih bertahan hingga kini.

Dalam buku panduan keramik, diuraikan istilah-istilah untuk menyebut bagian-bagian keramik, yaitu bibir, tepian, leher, karinasi, badan, dasar, kaki, pegangan, cerat, kupingan, dan pundak. Ada dua hal yang menarik dari terminologi tersebut. Pertama adalah ide yang menerapkan nama-nama bagian tubuh manusia ke dalam keramik. Kedua adalah karena sayangnya keramik tidak seutuhnya mirip dengan manusia, maka diberikanlah istilah tambahan seperti karinasi, dasar, pegangan, dan cerat.

Bagian-bagian Keramik
(Puslitarkenas, 1991, hlm.10)

Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada baiknya persoalan yang diutarakan di sini dikembalikan ke pribadi pembaca masing-masing. Apakah para pembaca yang Budiman merasa nyaman jjika bagian pinggir keramik disebut dengan bibir? Apakah nyaman jika bagian atas keramik disebut dengan pundak, leher, dan bagian lainnya disebut dengan kuping? Apakah nyaman jika bagian bawah keramik disebut dengan kaki? Sebagai seorang yang lebih cenderung berpikir menggunakan otak kanan yang imajinatif, penulis sendiri merasa tidak nyaman dengan istilah-istilah tersebut.

Sebagai penutup, persoalan yang diutarakan melalui tulisan ini dapat diibaratkan sebutir pasir di alam semesta. Hanyalah persoalan kecil di dalam dunia arkeologi. Oleh karenanya, jika dianggap tidak penting, silahkan dilupakan, beserta penulisnya.

Selasa, 01 Maret 2022

Harga Sebuah Usia

Sumberfoto: www.unsplash.com


Sering kita mengucapkan “Selamat Ulang Tahun. Semoga Panjang Umur” dengan harapan bahwa orang yang diberi ucapan tersebut memperoleh umur yang panjang. Umur yang panjang diartikan sebagai jatah hidup terpanjang yang dapat kita raih. Namun terdapat makna usia yang berbeda menurut sebuah kisah yang penulis kutip dari sebuah buku berjudul “Kamu Bukan Bintang: 10 Hal yang Menjadikanmu Pecundang” karya Ragil Romly. Berikut adalah kisahnya.

Ada sebuah kisah tentang usia. Dua orang kakak beradik melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Sepanjang perjalanan mereka berdua bertemu dengan berbagai macam orang. Di kota pertama, mereka bertemu dengan penggali sumur. Penggali itu ada di bawah sumur dan berharap ada seseorang yang mengulurkan tali dari atas karena talinya putus saat ia berusaha naik ke atas. Sang kakak meminta adiknya agar tetap berjalan, sementara sang adik merasa iba dengan teriakan minta tolong dari bawah sumur. Ia kembali menuju sumur yang dilewatinya dan membantu penggali sumur naik ke permukaan sumur.

Penggali sumur bersyukur. Ia berterima kasih kepada lelaki muda itu dan memberi imbalan sekantung air sebagai perbekalan lelaki muda itu. Lelaki itu menerimanya dan segera menyusul sang kakak yang berjalan mendahuluinya.

Di kota berikutnya, mereka bertemu dengan seorang kafilah dagang yang kehabisan air. Kafilah itu merasa haus dan berharap kakak beradik itu memberinya seteguk air. Sang kakak berfikir sejenak, air yang dibawanya tidak cukup banyak sementara mereka masih harus menempuh satu kota lagi untuk mencapai kota tujuan mereka. Ia memutuskan pergi sementara sang adik memberi air kepada kafilah dagang tersebut. Kafilah itu lalu memberi segenggam gandum sebagai imbalan atas air yang diberikan oleh adik itu.

Sampai satu kota terakhir, sebelum tiba di kota tujuan, mereka berdua bertemu dengan pengemis wanita berpenyakit kusta. Pengemis itu lapar dan berharap ada seseorang yang memberinya makanan untuk bertahan hidup. Sang kakak memalingkan muka dari pengemis itu, sementara sang adik memberikan segenggam gandum yang diperoleh dari kafilah dagang yang ditemuinya, beserta jubahnya agar penyakit kusta pengemis wanita itu tidak mengganggu orang-orang di sekitarnya. Pengemis itu berterima kasih.

Setiba di kota tujuan keduanya memulai usaha mereka. Selama setahun mereka berdagang hingga menjadi saudagar kaya. Dagangan mereka menyilaukan mata perampok hingga membuat perampok mengambil paksa barang dagangannya. Sang adik meninggal saat ia berusaha menasihati perampok agar berusaha. Sementara sang kakak pergi melarikan diri. Ia meninggalkan kota itu untuk kembali ke kotanya tanpa bekal apa-apa, hanya dengan pakaian yang berlumuran darah.

Tiba di kota pertama sebelum sampai di kota tujuannya, luka sang kakak membusuk. Ia tidak memiliki pakaian ganti dan akhirnya hanya duduk di sudut kota untuk meminta belas kasihan. Seorang penjual roti wanita tiba di sisinya. Ia menghampiri laki-laki itu dan memberikan sebuah jubah baru yang bersih sebagai ganti jubahnya yang berlumuran darah.

Kakak itu terkejut dan mengajukan pertanyaan “Mengapa Anda begitu peduli kepada saya?”. “Sudah menjadi kewajiban saya,” jawab sang wanita. “Setahun yang lalu saya sangat miskin hingga seorang laki-laki memberi saya jubah ini dan segenggam gandum. Dari gandum itu saya buat roti. Setengahnya saya makan dan setengahnya saya jual. Saya juga gadaikan jubah yang diberikan laki-laki itu untuk biaya pengobatan. Saya sehat dan dapat bekerja kembali, hingga akhirnya saya tebus kembali jubah yang diberikan lelaki itu. Saya berjanji untuk mengembalikan kembali jubah itu jika saya bertemu dengannya. Saya berharap bertemu dengannya tapi ternyata ia tidak ada. Ia mirip Anda. Anda boleh pakai jubah ini karena Anda mengingatkan saya pada kondisi awal saya.”

Sang kakak terenyuh. Ia melanjutkan perjalanannya, berterima kasih kepada wanita yang memberinya jubah, dan bersyukur atas kebajikan yang dilakukan laki-laki yang mirip dengannya. Sampai di kota berikutnya, perutnya merasa lapar. Ia melirik dompetnya dan tidak menemukan sekeping uangpun di sana. Ia melihat seorang saudagar dan berharap bisa menjual jubah yang diberikan wanita yang ditemui di kota sebelumnya untuk mendapatkan sepotong roti. Saudagar itu mengamati laki-laki itu dan akhirnya memberikan roti gratis dari gandum yang dibuatnya.

“Terima kasih atas rotinya. Berapa yang harus saya bayar atas roti yang saya makan ini?” tanyanya. “Tidak perlu,” jawab sudagar. “Jubah yang Anda kenakan mengingatkan saya pada orang yang saya temui setahun yang lalu. Saat itu saya kehausan dan tidak mungkin sampai pada kota tujuan saya. Jika saya tidak memeroleh seteguk air dari orang yang mengenakan jubah seperti Anda mungkin saya tidak akan selamat dari teriknya matahari gurun. Saya bersyukur atas kebaikannya dan berjanji akan memberikan apapun kepada orang yang memberi saya minum, yaitu kepada orang yang mengenakan jubah seperti yang Anda kenakan. Tapi saya tidak pernah menemukan lelaki seperti itu lagi. Bawalah kantung air ini. Mungkin ini akan berguna bagi Anda.”

Sang kakak berjalan dengan membawa sekantung air. Namun hari itu matahari sangat terik dan ia telah menghabiskan air di seluruh kantungnya meski belum sampai ke kota asal tujuannya. Iapun pingsan saat ia melihat sebuah sumur yang berjarak seratus meter di depannya. Tiba-tiba tenggorokannya yang kering dibasahi air. Ia meneguk air itu dan membuka matanya hingga melihat seorang laki-laki yang memberinya minum.

“Mengapa Anda begitu baik?”

“Ini semua karena saudaramu,” jawab lelaki itu.

“Saudaraku?” tanyanya.

“Ya,” jawabnya. “Setahun yang lalu saat kau hanya melongokku dari atas sumur dan tidak kembali ketika aku meminta bantuanmu naik ke atas, saudaramu kembali kepadaku untuk membantuku naik ke atas sumur. Aku ingat kau karena kau sangat mirip dengannya. Dan aku semakin yakin bahwa kau saudara orang yang membantuku naik ke atas sumur karena jubah ini adalah jubah yang dikenakan saudaramu. Wadah air ini juga wadah milikku yang kuberikan kepada saudaramu. Benar bukan, kau memiliki saudara laki-laki ? Di mana ia sekarang? Aku ingin sekali berterima kasih kepadanya karena ia telah memberiku kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Sumur yang kubuat kini telah menjadi perkampungan kecil. Orang-orang yang singgah di sini membeli air dari sumurku dan mulai menetap di sekitar sumurku untuk berdagang. Sekarang aku menjadi gubernur di kota yang baru berdiri selama satu tahun ini. Dimana saudaramu? Aku tak akan pernah lupa segala kebaikannya.”

Sang kakak terdiam. Tiba-tiba air matanya menitik saat mengingat adiknya yang telah meninggal dunia ketika seluruh dagangannya dijarah perampok. Tamat.

Umur sang kakak lebih panjang dari sang adik, akan tetapi ia tidak memberi kebermanfaatan bagi orang lain. Sang adik telah meninggal, namun ia masih hidup di dalam fikiran orang-orang yang pernah ditemuinya.

Dalam hidup ini, terdapat juga orang-orang yang telah meninggal lima, seratus, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun ia masih tetap hidup di dalam fikiran orang-orang. Sebabnya adalah amal yang telah dilakukannya semasa hidup di dunia. Akhir kata, mengutip perkataan dari sebuah buku “Kualitas hidup seseorang seringkali terlihat pada saat akhir hayatnya. Apakah akan banyak orang yang bersedih di atas pemakamanya atau tidak.” Semoga tulisan ini dapat menjadi refleksi bagi para pembaca dan juga bagi penulis sendiri. Wassalam.

Sabtu, 13 November 2021

Antara Pertemanan dan Persahabatan

Sumber gambar: unsplash.com/s/photos/friend


Pada bagian pendahuluan buku 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif karya Stephen R Covey, diuraikan mengenai proses pertumbuhan non-fisik (psikis dan emosi) manusia yang diistilahkan dengan Kontinum Kematangan (rangkaian atau tingkatan kematangan). Hidup setiap individu berawal dari Paradigma Ketergantungan atau diistilahkan juga dengan Paradigma Kamu-Kamu, yaitu suatu individu tidak dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Paradigma Kamu-Kamu berbunyi: jika KAMU tidak mengurusku dan tidak menolongku, maka KAMU yang bersalah. Kondisi psikis dan emosi ini terjadi saat kita baru saja lahir ke dunia ini, tumbuh menjadi balita, hingga pada akhirnya menjadi dewasa. Saat dewasa kita mulai menuju ke kontinum kematangan selanjutnya yaitu Paradigma Kemandirian atau yang juga dikenal dengan istilah Paradigma Aku-Aku. Kita sudah dapat melakukan berbagai hal sendiri. Pardigma Aku-Aku berbunyi: jika AKU gagal, maka AKU yang salah dan AKU lah yang akan menerima dampaknya.

Hanya sekedar pendapat pribadi penulis bahwa kebanyakan orang terjebak dalam kontinum kematangan level 2 ini. Penulis sendiri pun terkadang terjebak dalam Paradigma Aku-Aku. Aku belajar, maka akulah yang akan mendapatkan ilmunya. Aku bekerja, maka akulah yang akan memperoleh hasilnya. Aku yang berusaha, maka akulah yang akan memperoleh kesuksesannya. Namun paradigma tersebut bukanlah kontinum kematangan tertinggi. Kontinum kematangan tertinggi adalah Paradigma Kesalingtergantungan atau Paradigma Kita-Kita. KITA berusaha, maka KITA lah yang memperoleh hasilnya dan jika KITA gagal, maka kegagalan tersebut menjadi milik KITA bersama. Dasar pemikiran dari kontinum kematangan ketiga ini adalah bahwa dengan bekerja sama, kita dapat memperoleh hasil yang lebih besar dibandingkan dengan bekerja sendiri.

Menurut pendapat pribadi penulis, relasi yang paling sehat adalah relasi yang dibangun berdasarkan Paradigma Kesalingtergantungan. Kita bergantung kepada orang lain, dan orang tersebut juga bergantungan kepada kita. Ada kelebihan yang kita miliki tetapi tidak dimiliki oleh orang lain sehingga membuat orang tersebut bergantung kepada kita dan ada kelebihan yang orang lain miliki tetapi tidak dimiliki oleh kita sehingga membuat kita bergantung kepadanya. Namun pada kenyataannya, tingkat kematangan fisik tidak selamanya berbanding lurus dengan tingkat kematangan psikis-emosional. Hal yang ironis adalah ketika seseorang sudah dewasa secara fisik atau umur, namun masih berada pada Kontinum Kematangan Kesatu: Paradigma Kamu-Kamu. Terus-terusan bergantung pada orang lain tanpa memperoleh sesuatu yang dapat ditawarkan kepada orang tersebut. Jika kondisi seperti ini terjadi dalam sebuah relasi, maka relasi tersebut dapat dikatakan relasi yang tidak sehat.

Terkadang, kita melihat orang hebat beserta kesuksesannya. Akan tetapi, kesuksesan tersebut dibangun atas dasar Paradigma Aku-Aku. Hal tersebut bukanlah pencapaian tertinggi. Pencapaian tertinggi adalah kesuksesan yang dibangun atas dasar Paradigma Kita-Kita.

Saat berada di bangku kuliah, seorang dosen pernah berkata seperti ini di ruang kelas: “ada dua jenis teman, yaitu : teman main dan teman kepercayaan.” Sampai sekarang, saya masih mempercayai hal tersebut. Teman main memang jumlahnya ada banyak, namun teman kepercayaan hanya sedikit, dan inilah yang disebut sebagai sahabat. Teman main hanya ada di saat kita senang, bermain dan tertawa bersama. Namun teman kepercayaan atau sahabat ada saat dibutuhkan dan memang jumlahnya hanya sedikit. Relasi persahabatan yang sehat adalah relasi yang dibangun atas dasar Paradigma Kesalingtergantungan. Oleh karenanya, menurut pendapat pribadi penulis, persahabatan itu adalah sebuah takdir. Jika kelebihan yang kita kembangkan selama ini dibutuhkan oleh orang lain, dan kelebihan orang lain tersebut yang ia kembangkan juga kita butuhkan, maka disitulah terjalin relasi persahabatan. Tidak hanya itu, persahabatan juga terjalin atas dasar kesamaan hobi, kesamaan sejarah hidup, nasib, kesamaan pola pikir, ideologi atau kesamaan karakter. Bersyukurlah bagi kita yang memilikinya, dan pekerjaan selanjutnya adalah mempertahankan relasi tersebut, hingga pada akhirnya dapat berkembang menjadi sebuah jejaring atau networking.

Sabtu, 02 Oktober 2021

Review Buku Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif (Part 1)

 

Sumber foto: unsplash.com


Buku ini merupakan buku yang sangat terkenal, karya Stephen R Covey, dan saya rasa karena buku inilah penulis tersebut menjadi terkenal. Dilihat dari kulit luarnya, sekilas buku ini adalah buku motivasi hidup, namun tidak sesederhana itu. Buku ini lebih kompleks dari hanya sekedar tentang motivasi hidup.

Sewaktu mahasiswa baru, tepatnya pada tahun 2009, ada hal baru yang kuperoleh dari kegiatan Basic Study Skills (BSS). Hal tersebut adalah ilmu tentang managemen waktu. Aktivitas kita dapat dibagi ke dalam empat kuadran, yaitu: Kuadran I adalah aktivitas-aktivitas yang penting dan mendesak, Kuadran II adalah aktivitas-aktivitas yang penting tapi tidak mendesak, kuadran III adalah aktivitas-aktivitas yang tidak penting, namun mendesak, dan yang terakhir kuadran IV adalah aktivitas-aktivitas yang tidak penting dan tidak mendesak. Karena materi tersebut sangat berkesan bagiku pada saat itu, maka saya masih mengingatnya sampai sekarang.

Di hari-hari kemudian, saya tersadar, ternyata pembagian aktivitas berdasarkan empat kuadran itu sudah diketahui oleh banyak orang. Sehingga pengetahuan tersebut sudah dapat dikategorikan ke dalam pengetahuan umum. Darinya, timbullah pertanyaan di dalam benakku: “dari mana kah asal pengetahuan ini?”. Yah, terkadang memang otak kita sudah merasa puas jika hanya bertanya tanpa memperoleh jawaban. Saat itu, saya tidak memperoleh jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam benakku tersebut.

Hari-hari pun berlalu. Saat itu, orang-orang pada membicarakan tentang 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif. Nomor 1 adalah jadilah proaktif, kedua adalah mulailah dari tujuan akhir, 3 adalah dahulukan yang utama, empat adalah berusahalah untuk mendengarkan terlebih dahulu baru didengarkan, 5 adalah berpikir menang-menang (win-win solution), 6 adalah tentang sinergitas, dan 7 adalah asahlah gergaji. Namun saya memperoleh pengetahuan tersebut hanya sebatas ringkasannya saja. Karena tertarik ingin mengetahuinya lebih jauh, saya pun berniat untuk memiliki buku 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif karya Stephen R Covey.

Pada awalnya, kuberpikir bahwa buku 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif tentunya sudah sulit ditemukan saat itu, karena buku tersebut merupakan buku terbitan lama. Namun dugaanku tersebut ternyata salah. Saya menemukan buku tersebut secara tidak sengaja di sebuah toko buku di jalan Bulukunyi Makassar. Para pembaca pasti sudah mengetahui toko buku yang dimaksud.

Karena rasa ingin tahuku yang relatif besar untuk mengetahui lebih jauh mengenai 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif, maka saya bersemangat membaca buku tersebut pada saat itu. Butuh waktu untuk membacanya, karena buku tersebut bukan seperti buku pada umumnya yang hanya dibaca sekali. Saya mulai membacanya dari pengantar, pendahuluan, kebiasaan 1, kebiasaan 2, dan pada akhirnya sampai pada kebiasaan 3: dahulukan yang utama. Pada bagian inilah saya memperoleh jawaban atas pertanyaanku dahulu: “darimanakah pengetahuan tentang pembagian aktivitas ke dalam empat kuadran itu berasal?”. Jawabannya adalah dari buku 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif, atau lebih tepatnya bahwa pengetahuan tersebut berasal dari penulisnya, yakni Stephen R Covey. Saya pun menghembuskan nafas legah saat memperoleh jawaban atas pertanyaanku dahulu.

Selasa, 19 Januari 2021

My Little Experience of Photography



Photography becoming part of my life about 4 years ago. I began to learn it in my career as apprentice at an institution. I have had other skills other than photography. Therefore, I still need the skill because every single activity needed a photographer for either freezing moments or documentation. So, those all were my reasons to learn photography. 

I remember the time in 2014. When I did an archaeological project in Lembah Bada, Center of Sulawesi province. I and other people in the team had each role and it was shifted sometimes. At a time of discussing to shift roles, there was a statement said by me. It was “apapun peran itu akan saya terima, asal jangan memotret” or “whatever the role, I will take it while it is not a photographer”. The statement I said clearly described how small my interest in photography. 

But my mind had changed, exactly in 2016. The situation in my workplace at the time forced me to learn photography because the skill was extremely needed for documenting every single activity. So, I started to learn photography from zero. Where should I start? The question was kept in my mind for days. Then I remembered the time when I took a job as a photographer in alumni gathering of archaeology Hasanuddin University in 2012s where I was forced to do the job. At the end of the activity, my senior checked the results of my job. She said “Kenapa sedikit sekali fotomu?!” or “Why are there a few photos?”. I could not answer the question. Then, that became my first lesson of photography. If you are the beginner, then just take a lot of pictures.

I have no idea anymore to continue this writing..

Kamis, 23 April 2020

AWAL MASUK VIRUS CORONA DI INDONESIA

Sumber foto: http://blog.ryan-collection.com/?p=3328

Pendahuluan

Dalam masalah penyebaran wabah, terdapat sebuah istilah yang menarik, yaitu pasien 0. Istilah tersebut sebenarnya berawal dari sebuah kesalahpahaman yang terjadi pada saat wabah HIV. Pada saat itu, karena kesalahan baca, istilah pasien 0 yang dimaksud adalah pasien o (bukan angka nol melainkan huruf “o”) yang kepanjangannya adalah pasien “outside”. Kesalahan tersebut pun bertahan hingga saat ini. Pasien 0 sendiri adalah orang yang pertama kali terjangkit wabah. 

Untuk kasus sebuah pandemik, apalagi pandemik global seperti yang terjadi saat ini, maka tentulah sangat sulit untuk mengidentifikasi siapa pasien 0 dan para peneliti pun belum dapat mengidentifikasinya hingga saat ini. Sejauh yang kita ketahui bersama bahwa wabah COVID-19 berawal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Negara Cina. Kemudian menyebar hingga hampir ke seluruh permukaan bumi. 

Berbeda halnya dengan wabah virus Ebola yang terjadi pada tahun 2014 lalu di beberapa negara di dunia. Virus tersebut belum dapat dikategorikan sebagai pandemik global karena hanya mewabah di beberapa negara saja, seperti: Afrika, Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, dan beberapa negara lainnya. Mungkin istilah yang tepat untuk kasus itu adalah pandemik benua, satu tingkat ke bawah dari pandemik global. Implikasinya adalah walaupun pasien 0 sulit diidentifikasi, tapi masih memungkinkan dan para peneliti pun dapat mengidentifikasinya pada saat itu, yaitu seorang anak di Guinea yang diduga terinfeksi pada saat bermain di sebuah pohon yang merupakan sarang kelelawar. 
Mengetahui siapa pasien 0 adalah hal yang penting dalam ilmu pengetahuan, karena dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meliputi: kapan, mengapa, dan bagaimana suatu wabah dapat bermula. Tapi di sisi lain, memiliki dampak negatif. Seseorang yang teridentifikasi sebagai pasien 0 bisa dianggap sebagai “biang kerok” atau pembawa masalah oleh masyarakat. Oleh karenanya, beberapa ilmuwan tidak suka dengan istilah tersebut, dan oleh karenanya pula dalam tulisan ini penulis tidak menggunakan istilah pasien 0.

Awal Masuk Virus Corona di Indonesia

Senin, 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama Virus Corona di Indonesia, yaitu dua orang perempuan yang memiliki hubungan ibu dan anak, warga Depok, Jawa Barat. Keduanya diberi istilah dengan pasien 1 dan pasien 2. Pasien 1 bernama Sita Tyasutami, berumur 31 tahun, yang merupakan penari professional atau guru dansa; dan pasien 2 (ibunya) bernama Maria Darmaningsih, berumur 64 tahun, Dosen Tari di Institut Kesenian Jakarta. 

Kejadiannya bermula pada tanggal 14 Februari 2020. Saat pasien 1 melakukan kontak fisik dengan WN (Warga Negara) Jepang, seorang perempuan berusia 41 tahun yang bekerja (berdomisili) di Malaysia sejak 14 Februari 2020, yang merupakan teman dekat pasien 1. Kontak fisik yang dimaksud adalah berdansa. Dua hari kemudian, tanggal 16 Februari 2020, pasien 1 mengalami batuk-batuk sehingga membawa dirinya ke rumah sakit terdekat. Mungkin karena dianggap batuk biasa, pasien 1 diperbolehkan pulang dan mengalami rawat jalan. Namun, batuk yang dideritanya tidak kunjung sembuh, sehingga pada tanggal 26 Februari 2020, ia dirujuk ke sebuah rumah sakit. Pada saat itulah, batuk yang dideritanya disertai dengan sesak napas. 

Tanggal 28 Februari 2020, pasien 1 mendapatkan telepon dari temannya (WN Jepang) di Malaysia bahwa temannya tersebut telah dinyatakan positif Corona. Mendengar berita tersebut, pasien 1 lalu memberitahukan informasi tersebut ke perawat rumah sakit. 

Kasus WN Jepang tersebut merupakan kasus ke-24 di Malaysia, yang telah dirawat di rumah sakit sejak 17 Februari 2020. Tes dilakukan pada tanggal 20 Februari 2020, dan hasilnya baru dikonfirmasi positif Corona pada tanggal 27 Februari 2020, 1 hari sebelum ia menelepon pasien 1. 

Menanggapi pemberitahuan dari pasien 1, pihak rumah sakit lalu memasukkan pasien 1 dalam status pemantauan. Hingga pada akhirnya, pasien dinyatakan positif Corona pada tanggal 1 Maret 2020. Tidak hanya ia, ibunya pun dinyatakan positif Corona. Selanjutnya, pasien dibawa ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Setelah kejadian ini, pemerintah membentuk tim khusus untuk melakukan tracing, untuk mengetahui siapa-siapa saja yang telah melakukan kontak dengan pasien 1. Karena orang-orang yang telah melakukan kontak dengan pasien 1, kemungkinan besarnya juga tertular Virus Corona. 

Pengumuman kembali dikeluarkan oleh pemerintah pada tanggal 6 Maret 2020 mengenai kasus penginfeksian virus Corona, yaitu 2 orang: pasien 3 dan pasien 4. Informasi tersebut merupakan hasil tracing dari pasien 1, oleh tim khusus yang telah dibentuk oleh pemerintah sebelumnya. Pasien 3 adalah Ratri Anindyajati, seorang wanita berusia 33 tahun, kakak pasien 1. 

Tanggal 2 Maret 2020, pasien 3 diperiksa dan hasilnya adalah negative Corona. Dua hari kemudian, tanggal 4 Maret 2020, pasien ketiga dipanggil kembali untuk diperiksa ulang, dan hasilnya adalah positif Corona. Pasien 3 ini dirawat di RSPI Sulianto Saroso sejak 4 Maret 2020. Kemudian pada Senin (16 Maret 2020), pasien 3, pasien 1 dan pasien 2 diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena dinyatakan sudah sembuh. Selanjutnya, pasien keempat adalah seseorang yang berusia 34 tahun dan jenis kelamin tidak disebutkan. 

Tanggal 8 Maret 2020, pemerintah kembali mengumumkan kasus 5 Virus Corona, yaitu pasien 5, seorang laki-laki berumur 55 tahun. Kasus ini merupakan hasil tracing dari pasien 1. Baik kasus 1, 2, 3 dan 4 dan 5 semuanya di Jakarta. 

Tanggal 9 Maret 2020, pemerintah mengumumkan lagi kasus Virus Corona, yaitu jumlah orang yang terinfeksi mencapai 19 orang. Kasus 6 atau pasien 6 bukan merupakan hasil tracing dari kasus awal. Ia adalah seorang laki-laki berumur 36 tahun, yang merupakan ABK (Anak Buah Kapal) kapal pesiar Diamond Princess, di Jepang yang sempat di karantina di Yokohama, pada bulan Februari. Kasus 6 ini adalah imported case, yakni Warga Negara Indonesia (WNI) yang kasus penularannya terjadi di luar Indonesia. Pasien 7 dan 8 adalah pasangan suami istri. Pasien 7 adalah seorang perempuan, berumur 59 tahun diketahui baru pulang dari luar negeri. Dengan begitu, kasus 7 ini merupakan imported case pula. Pasien 8 adalah suaminya yang berusia 56 tahun, tertular dari istrinya. Pasien 9 adalah seorang perempuan berusia 55 tahun yang baru datang dari luar negeri. Ini juga merupakan Imported case. 

Pasien 10, 11, dan 12, merupakan hasil tracing dari pasien 1. Pasien 10, seorang laki-laki berusia 29 tahun, dan pasien 11 seorang perempuan berusia 54 tahun. Keduanya adalah Warga Negara Asing (WNA), yang tidak disebutkan asal negaranya. Selanjutnya, pasien 12 adalah seorang laki-laki berumur 31 tahun. 

Pasien 13 adalah seorang perempuan berusia 16 tahun, masih ada hubungannya dengan pasien 3. Pasien 14, seorang laki-laki berusia 50 tahun, dan pasien 15 seorang perempuan berusia 34 tahun (namun di salah satu sumber lain mengatakan berusia 43 tahun). Pasien atau kasus 14 dan 15 adalah imported case. Pasien 16, adalah seorang perempuan berusia 17 tahun yang masih ada kaitannya dengan kasus 15. 

Selanjutnya pasien 17, 18 dan 19 semuanya adalah laki-laki yang secara berurutan berusia 56 tahun, 55 tahun, dan 40 tahun. Ketiganya diketahui baru bepergian di negara yang memang sudah terinfeksi virus Corona. Dengan begitu, kasus untuk ketiga pasien ini adalah imported case. 

Tanggal 10 Maret 2020, pemerintah kembali mengumumkan jumlah positif corona di Indonesia bertambah 8 orang (2 orang WNA, dan 6 orang WNI), sehingga total menjadi 27 orang. Pasien 20 adalah WNI. Pasien 21 juga WNI, dari Jakarta. Pasien 22 merupakan seorang perempuan berusia 36 tahun yang masuk dalam imported case. Pasien 23 adalah seorang perempuan berusia 73 tahun yang masuk dalam imported case. Pasien 24 adalah seorang laki-laki berusia 46 tahun, WNI. Pasien 25 adalah seorang perempuan berusia 53 tahun, WNA dan masuk dalam kategori imported case. Pasien 26 adalah seorang laki-laki berusia 46 tahun. Terkahir, pasien 27 adalah seorang laki-laki berusia 33 tahun. 

Untuk lebih mudahnya, berikut bagannya:

Selanjutnya berikut laju virus corona di Indonesia, berdasarkan sumber COVID19.GO.ID:
Dibuat oleh: Lukman Hakim

Dibuat oleh: Lukman Hakim

Prediksi Sebelumnya

Sebelumnya, Dr. Nuning Nuraini, Kamal Khairudin S., dan Dr. Mochamad Apri S, ilmuwan dari Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS), Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan prediksi bahwa puncak wabah di Indonesia berada pada pertengahan April, tepatnya 12 April 2020 dengan jumlah kurang lebih 8.000 kasus. Prediksi tersebut diberitakan pada tanggal 18 Maret 2020 melalui website https://www.itb.ac.id/

Prediksi tersebut didasarkan pada pembuatan model, pengembangan dari model Richard’s Curve (kurva Richard), yang diperkenalkan oleh F.J Richards. Model kurva tersebut dipilih karena terbukti memberi hasil yang baik sebelumnya, yaitu pada kasus endemik SARS di Hong Kong pada tahun 2003. Sekarang adalah 23 April 2020, dan jumlah positif Corona di Indonesia sebanyak 7.418 kasus. Dengan begitu, prediksi yang dibuat oleh Dr. Nuning beserta rekannya bisa dibilang hampir tepat. Berikut kurva yang dimaksud:

Minggu, 19 April 2020

JANGAN MELUPAKAN CORONA

Sumber Foto: https://qz.com/1600886/the-best-thing-you-can-do-on-earth-day-is-sit-perfectly-still/

Saat ini, bumi kita sedang dilanda sebuah wabah bernama COVID-19. Dalam menanggapi wabah yang tersebut, ada berbagai tanggapan dari kita, mulai dari yang sangat cuek, cuek, biasa-biasa saja, khawatir, dan sangat khawatir. Penulis sendiri, berada di tingkat khawatir. Entah apa penyebabnya yang membuat kita menjadi berbeda dalam menanggapi wabah tersebut. 

Rasa ketertarikan penulis terhadap virus, berawal dari tahun 2013, dari sebuah buku yang tanpa sengaja penulis beli di sebuah toko buku di Makassar. Buku tersebut berjudul Hot Zone, karya Richard Preston, terbitan tahun 1994, yang berisi sebuah kisah nyata mengenai penginfeksian Virus Ebola. Melalui buku tersebut, virus yang pertama kali penulis kenal adalah Virus Ebola. Pengetahuan-pengetahuan yang penulis peroleh dari buku tersebutlah yang mungkin secara tidak langsung menjadi penyebab rasa khawatir penulis dalam menanggapi wabah COVID-19 ini.

Jika mau dibandingkan antara Virus Ebola dengan Virus yang menyebabkan COVID-19, maka virus yang meyebabkan COVID-19 ini tidak ada apa-apanya. Virus Ebola lebih ganas dari virus tersebut. Jika terdapat 10 orang yang terinfeksi Virus Ebola, maka hanya satu orang yang kemungkinan dapat bertahan hidup. Jika di antara 90% populasi yang terinfeksi, maka kemungkinan yang dapat bertahan hidup hanya 10%. Virus Ebola juga hanya membutuhkan waktu 2 minggu untuk membunuh suatu organisme. Hal ini pula yang membuat penulis bersyukur, karena virus yang mengglobal ini, bukan jenis virus seperti virus Ebola. Padahal secara teori, virus Ebola dapat menyebar hingga ke seluruh permukaan bumi.

Adapun kekhawatiran lain penulis adalah jika wabah ini dilupakan nantinya. Karena tidak begitu berkesan, wabah ini memiliki potensi untuk dilupakan. Padahal, wabah COVID-19 ini sudah merupakan bagian dari sejarah dunia yang memiliki dampak yang cukup berarti, terutama bagi ekonomi dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Beberapa dampak yang cukup berarti bagi penulis adalah tidak ada lagi sholat berjamaah di masjid, tidak ada lagi sholat Jumat, bahkan pemerintah akan memberlakukan aturan tidak diperbolehkan sholat taraweh, buka puasa bersama, dan tidak diperbolehkan sholat Idul Fitri. Selain itu, dampak yang berarti juga adalah dalam dunia kampus. Pertemuan tatap muka antara dosen dengan mahasiswa beralih ke sistem daring (dalam jaringan), dan masih banyak lagi dampak-dampak lain yang cukup berarti yang tidak sempat penulis uraikan satu persatu dalam tulisan ini. Dengan dampak-dampak tersebut, maka sejarah akan wabah ini tidak patutlah untuk dilupakan.

Virus Corona yang sedang mewabah secara global ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya sudah ada 6 varian virus yang telah ditemukan, yaitu: 229E, NL63, OC43, HKU1, MERS-CoV, dan SARS-CoV. Keenam varian virus tersebut masuk ke dalam Family Virus Corona (Coronaviridae) yang dapat menginfeksi manusia. Dengan munculnya Virus Corona varian baru ini, berarti sudah ada 7 varian virus Corona yang dapat menginfeksi manusia.

Adapun nama virus yang sedang mewabah ini adalah Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau Koronavirus Sindrom Pernapasan Akut Berat 2. Nama itu diberikan oleh Kelompok Studi Virus Corona dari International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) atau Komite Internasional Taksonomi Virus. Pada awal-awal kemunculannya, virus ini diberi nama sementara Novel Coronavirus (novel dalam Bahasa Inggris berarti kata sifat yang artinya baru) disingkat NCoV yang dideklarasikan oleh pemerintah Jepang bertepatan dengan kasus pertama penginfeksian di negaranya pada tanggal 16 Januari 2020. Namun walaupun nama virus corona varian baru ini sudah ada, sebagian orang masih menyebut nama virus corona varian baru itu dengan nama sementaranya, mungkin karena lebih enak disebut dan lebih mudah diingat. Selanjutnya pada tanggal 11 Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Heritage Organization (WHO) mendeklarasikan nama resmi dari penyakit yang disebabkan oleh NCoV sebagai COVID-19 (Co adalah Corona, Vi adalah Virus, D adalah Disease, dan angka 19 adalah tahun dimana wabah virus pertama kali diidentifikasi, yaitu pada tahun 2019, tepatnya pada tanggal 31 Desember 2019).

Sejak saat itu, ternyata wabah COVID-19 terus saja meluas. Hingga pada tanggal 11 Maret 2020, WHO membuat sebuah deklarasi yang menyatakan bahwa COVID-19 adalah sebuah pandemik. Pernyataan tersebut diawali dengan penguraian fakta: 118.000 lebih kasus penginfeksian dengan 114 negara yang terinfeksi dan 4.291 orang yang telah meninggal. 

Ada hal yang juga cukup menarik untuk dibahas terkait Virus Corona, yaitu asal-usul penamaannya. Mengapa dinamakan Virus Corona? Jawabannya simpel karena bentuknya seperti Corona Matahari saat dilihat menggunakan mikroskop.

Foto 1  Virus Corona (SARS-CoV-2)
Sumber:  https://hpd.de/artikel/neue-ziele-fuer-alte-medikamente-17942
Foto 2  Corona Matahari yang tampak jelas saat Gerhana Matahari Total tahun 1999 di Prancis
Sumber: Wikipedia 
Foto 3  Virus Corona lainnya
Sumber: Wikipedia
Karena bentuknya yang bulat, maka virus corona dapat juga diberi nama Virus Bulat, tapi mengapa meski dinamakan virus corona? Hal tersebut adalah hak preogratif sang peneliti. Nama Virus Corona pertama kali diperkenalkan pada tahun 1968 oleh kelompok informal virolog dalam jurnal Nature. Diberi nama demikian, karena pada saat dilihat di bawah mikroskop, virus tersebut mengingatkan pada corona matahari. 

Corona matahari adalah atmosfir terluar matahari yang baru dapat terlihat jelas saat Gerhana Matahari Total (Total Eclipse). Lantas, mengapa atmosfir terluar matahari itu dinamakan dengan corona atau mahkota? Lagi-lagi hal tersebut adalah hak preogratif sang peneliti. Penamaan corona matahari diberikan oleh seorang ahli astronomi asal Spanyol bernama José Joaquin de Ferrer pada tanggal 16 Juni 1806. Pada saat itu, ia membuat sebuah sketsa Gerhana Matahari Total dan menamakan atmosfir terluar matahari yang dilihatnya dengan nama corona atau mahkota.
Gambar 1  Sketsa Gerhana Matahari Total tanggal 16 Juni 1806
oleh Jose Joaquin de Ferrer
Sumber: https://www.nasa.gov/content/goddard/1806-sketch-of-solar-eclipse

Kembali ke asal-muasal penyebaran SARS-CoV-2. Pada awalnya, yaitu pada tanggal 22 Januari 2020, diterbitkan sebuah laporan penelitian melalui sebuah jurnal bernama Journal of Medical Virology yang menyatakan bahwa reservoir atau perantara virus yang paling memungkinkan adalah ular, namun demikian masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Beberapa ilmuwan juga percaya bahwa virus corona berasal dari ular yang sangat berbisa (Bungarus multicinctus) yang dijual di pasar Wuhan, Cina. Akan tetapi, pernyataan tersebut dikritik melalui sebuah artikel yang diterbitkan di Jurnal Nature yang menyatakan bahwa ular sangat tidak mungkin menjadi reservoir, hewan yang lebih memungkinkan menjadi reservoir adalah hewan mamalia.
Foto 4  Bungarus multicinctus
Sumber: https://indonesian.alibaba.com/product-detail/bungarus-multicinctus-109023545.html

Selama masa perdebatan tersebut, muncul lagi hasil penelitian oleh seorang peneliti dari Institut Virologi Wuhan, Rumah Sakit Jinyintan Wuhan, Universitas Akademi Sains Tiongkok, dan Centers for Disease Control and Prevention (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) disingkat CDC Provinsi Hubei, Cina, melalui “jurnal bioRxiv”, yang mengatakan bahwa NCoV berasal dari kelelawar, karena berdasarkan analisis mereka, virus corona yang terdapat pada manusia memiliki kemiripan sebesar 96% dengan virus corona yang terdapat pada Rhinolophus affinis, spesies kelelawar yang banyak ditemukan di Cina.
Foto 5  Rhinolophus affinis
Sumber: https://www.sciencephoto.com/

Penulis sendiri belum mengetahui, apakah Rhinolophus affinis juga dijual di Pasar Seafood Huanan, Kota Wuhan, Cina atau tidak. Sebatas yang penulis ketahui bahwa pasar tersebut tidak mengacu pada namanya, karena di sana dijual juga daging-daging hewan non-seafood, seperti: merak, anjing, babi, keledai, domba, landak, dan hewan-hewan ekstrem, seperti: ular, buaya, anak serigala, kelelawar, dan tikus bambu. Hal yang jelas adalah penginfeksian NCoV ini berawal dari hewan ke hewan, kemudian bermutasi sehingga bisa bertransimisi dari hewan ke manusia, dan kemungkinan besarnya dari kelelawar, dan dunia percaya bahwa sumber wabah NCoV berasal dari Pasar Seafood Huanan, Kota Wuhan, Cina. Karena kebanyakan korban juga pada awalnya berasal dari para konsumen pasar tersebut. Jika ingin melihat betapa ekstremnya pasar Huanan, silahkan searching di internet, karena atas pertimbangan tertentu, penulis tidak mencantumkan foto pasar tersebut dalam tulisan ini. 

Selain itu, adapula orang yang berpikiran liar mengenai asal-muasal penyebaran NCoV. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah sebuah kesengajaan yang menjadikannya sebagai senjata biologis. Adapula yang memberitakan bahwa ini adalah sebuah kecelakan kebocoran virus di laboratorium virus di Wuhan, Cina. Penulis sendiri lebih cenderung ke pernyataan pertama, yaitu tidak ada unsur kesengajaan, dan berasal dari Rhinolophus affinis. 

Hal yang dapat disimpulkan dari tulisan ini adalah penamaan antara virus dan penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut. Di kalangan masyarakat awam, masih banyak orang yang keliru soal penyebutan nama antara virus dan penyakitnya. Oleh karenanya, dalam tulisan ini dipertegas, nama varian virus Corona yang mewabah saat ini adalah Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau Koronavirus Sindrom Pernapasan Akut Berat 2. Walaupun demikian, masih terdapat orang yang menyebut virus tersebut dengan nama Novel Coronavirus (NCoV). Hal tersebut juga tidak salah. Penulis sendiri masih sering menyebut nama virus corona varian baru itu dengan nama sementaranya, karena lebih enak disebut dan lebih mudah diingat. Selanjutnya, nama penyakit yang disebabkan oleh NCoV adalah COVID-19 (Corona Virus Disease 2019). 

NCoV adalah varian baru virus corona. Dalam sistem klasifikasi, NCoV termasuk dalam Spesies SARS-CoV, Genus Betacoronavirus (Beta-CoV), Family Coronaviridae, Kingdom Virus. Saat ini, sudah ditemukan 7 varian virus Corona, yaitu: 229E, NL63, OC43, HKU1, MERS-CoV, SARS-CoV, dan SARS-CoV-2. 

Teori yang paling kuat mengenai asal-muasal NCoV adalah penginfeksian dari hewan ke hewan yang kemudian bermutasi hingga dapat bertransmisi dari hewan ke manusia. Hewan yang diduga kuat menjadi reservoir (perantara virus) adalah kelelawar spesies Rhinolophus affinis, yang banyak ditemukan di Cina, dan sumber wabah berasal dari Pasar Seafood Huanan, Kota Wuhan, Cina. 

Akhir kata, penulis bukanlah seorang ahli virus, sehingga tidak pantaslah kiranya jika penulis membuat tulisan mengenai virus ini. Banyak tulisan yang membahas Virus Corona yang jauh lebih baik dari tulisan ini. Namun, tulisan ini dibuat atas dasar tiga alasan. Alasan pertama adalah agar orang-orang tidak melupakan bahwa bumi kita pernah dilanda wabah COVID-19, yang dampaknya cukup berkesan, utamanya dari segi ekonomi dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Alasan kedua adalah agar pengetahuan-pengetahuan yang penulis peroleh dapat bertahan sedikit lebih lama. Penulis percaya bahwa dengan menulis, pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh dapat bertahan lebih lama. Alasan ketiga adalah agar tidak ketinggalan informasi.

Sebagai penutup, dengan rendah hati, penulis menyadari bahwa tulisan ini masih memiliki banyak kekurangan. Hal yang penting adalah bahwa kita harus selalu waspada, dan tetap menjaga kesehatan, agar terhindar dari COVID-19. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Semoga kita semua, khususnya para pembaca, terhindar dari COVID-19.

Selasa, 02 Juli 2019

MENEMUKAN SESUATU YANG TIDAK DICARI

Sumber foto: https://tempatwisataseru.com/tempat-wisata-di-probolinggo-jawa-timur/


Pendahuluan

Waktu itu, saya sedang beres-beres di Lab Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unhas, merapikan arsip-arsip yang berantakan, mengklasifikasinya, agar dapat disimpan dengan baik. Untuk dapat mengklasifikasi arsip, tentu terlebih dahulu dilakukan identifikasi, sehingga setiap arsip yang ditemukan harus dibaca, dan untuk menghemat waktu, arsip tersebut harus dibaca sekilas saja (membaca cepat). Pada waktu mengidentifikasi arsip-arsip itu, saya menemukan sebuah buku tua, kusam, berukuran kecil, dan cukup tipis. 

Lembar pertama buku itu bertuliskan “Kepada : PEGAWAI INDONESIA”. Kata-kata tersebut tentu saja belum cukup untuk dapat mengidentifikasinya. Sayapun membalik lembar selanjutnya. Lembar kedua adalah Prakata (Kata Pengantar). Saya lalu membalik lagi ke lembar selanjutnya, lembar ketiga, dan pada lembar tersebutlah, saya dikejutkan oleh sebuah kalimat yang bunyinya seperti ini: 

“Pedjabat jang setiap hari melembur tidaklah membuktikan bahwa ia radjin, melainkan menundjukkan bahwa ia tidak efisien.” – TLG – 

Karena kalimat itu, saya jadi tertarik dengan buku tua itu dan ingin membacanya sampai tuntas. Bagaimana tidak, di lingkungan kerjaku, lembur adalah sesuatu yang keren, dan pegawai yang lembur adalah pegawai teladan. Tapi, buku ini memberikanku pandangan yang berbeda mengenai lembur. Saat itu, saya tidak langsung membaca buku tersebut, karena harus fokus untuk tetap melanjutkan pekerjaan mengklasifikasi arsip. Buku tersebut kusimpan untuk kubaca nanti. 

Sepulang kerja, saya lalu memasukkan kegiatan membaca buku tersebut ke dalam jadwal mingguanku. Buku tersebut, tidak kubaca sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur. Berkat perencanaan yang telah kubuat, saya dapat selesai membacanya. Akhirnya, setelah membaca bukunya, muncullah ide untuk membagikan apa yang penulis dapatkan dari buku tersebut dan tulisan ini merupakan media dari ide tersebut.

Struktur Buku

Tidak tahu siapa penulisnya, tidak tahu judul bukunya, tidak tahu kapan terbit dan siapa penerbitnya. Semua itu karena bukunya telah kehilangan sampul dan halaman depan. Buku tersebut adalah buku tua karena masih menggunakan Bahasa Indonesia zaman dulu. Subyek buku tersebut adalah membahas perihal Efisiensi dalam Bekerja. Namun setelah membaca buku yang tidak ditahu judulnya ini, penulis dapat berasumsi bahwa penulis bukunya adalah The Liang Gie. Pasalnya, hampir setiap bab selalu diawali dengan kalimat kutipan dari The Liang Gie yang disingkat dengan TLG. 

Dari segi fisik, buku tersebut berukuran 18,2 x 12,6 cm, ketebalan 89 halaman, dan dijilid dengan menggunakan benang. Model jilid seperti itu sepertinya sudah tidak ditemukan lagi di zaman sekarang. Dari segi isi, bukunya terdiri dari 10 bab, dan tiap bab diawali dengan kalimat kutipan. Berikut uraiannya: 

BAB I ARTI EFISIENSI 
“Pedjabat jang setiap hari melembur tidaklah membuktikah bahwa ia radjin, melainkan menundjukkan bahwa ia tidak efisien." ---TLG--- 

BAB II SJARAT-SJARAT BEKERDJA EFISIEN 
“Tidak setiap perubahan akan membawa perbaikan, tapi tanpa perubahan takkan ada perbaikan. Dan untuk mengadakan perubahan itu dibutuhkan keberanian." ---TLG--- 

BAB III PEDOMAN-PEDOMAN BEKERDJA EFISIEN 
“Bekerdja keras sadja belum tentu memberikan hasil. Jang akan lebih berhasil ialah bekerdja setjara efisien menurut pedoman-pedoman jang baik." ---TLG--- 

BAB IV KEADAAN SEKELILING JANG EFISIEN 
“Bukan kita jang harus menjesuaikan diri dengan keadaan sekeliling, melainkan keadaan sekelilinglah jang harus dibuat agar sesuai untuk kebutuhan kita." ---TLG--- 

BAB V ALAT-ALAT UNTUK BEKERDJA EFISIEN 
“Manusia adalah binatang jang mempergunakan alat …. Tanpa alat ia tak dapat berbuat apa-apa, dengan alat ia dapat berbuat segala apa.”
(Man is a tool-using animal …. Without tools he is nothing, with tools he is all). ---Thomas Carlyle--- 

BAB VI PENGGUNAAN WAKTU 
“Pedjabat jang tak efisien akan kekurangan waktu untuk menjelesaikan pekerdjaannja. Pedjabat jang efisien akan kekurangan pekerdjaan untuk menghabiskan waktunja.” ---TLG--- 

BAB VII PENGHEMATAN GERAK 
“Pedjabat efisien jang dapat menghemat gerak dikantor akan mempunjai tjukup kelebihan tenaga untuk beladjar dirumah. Dan pengetahuan jang diperolehnja itu dapat membuatnja mendjadi pedjabat jang semakin efisien.” ---TLG--- 

BAB VIII TJARA MENGHADAPI TUMPUKAN SURAT 
“Pedjabat jang efisien akan berenang di atas arus surat. Pedjabat jang tak efisien akan tenggelam dalam lautan surat.” ---TLG--- 

BAB IX TJARA MEMETJAHKAN MASALAH 
“Masalah jang dirumuskan setjara baik adalah sudah separo terpetjahkan.
(The problem well started is half solved). ---John Dewey--- 

BAB X MEMPERKEMBANGKAN DIRI 
“Pedjabat jang efisien takkan mengeluh walaupun banjak jang harus dikerdjakannja. Pedjabat jang tak efisien akan mengeluh walaupun sedikit jang dikerdjakannja.” ---TLG---

Tanggapan Penulis

Setelah membaca buku tersebut, penulis berkesimpulan bahwa buku ini adalah buku yang bagus, dan merupakan sesuatu yang penulis butuhkan selama ini, namun tidak dicari. Ini pula yang menginspirasiku untuk memberi judul tulisan ini: “Menemukan Sesuatu yang tidak Dicari.” 

Sebelum membaca buku ini, penulis memiliki pemahaman efisiensi yang sempit. Efisien itu hanyalah menyangkut persoalan waktu saja. Bagaimana cara agar dapat bekerja dengan benar. Namun buku ini memberikan pemahaman efisien yang terperinci. Efisien tidak hanya menyangkut soal penghematan waktu saja, melainkan juga menyangkut soal sumberdaya-sumberdaya lainnya: tenaga, benda dan ruang. Hal tersebutlah yang tidak terpikirkan oleh penulis sebelumnya, terutama soal penghematan tenaga. Contohnya adalah seorang pelayan di sebuah restoran yang sedang mengantarkan pesanan. Untuk menghemat tenaganya, ia menggunakan penampan agar dapat membawa pesanan lebih banyak, sehingga dapat diantarkan di beberapa meja pelanggan hanya dalam sekali jalan. Jika tidak demikian, ia akan bolak-balik, dan tentunya hal tersebut lebih menguras tenaganya. 

Dalam bekerja, penulis tidak mempertimbangkan persoalan penghematan tenaga, hanya memikirkan bagaimana cara agar tujuan pekerjaan dapat tercapai. Hal tersebut tentunya dapat membuat sebuah pekerjaan lebih lama dikerjakan dan lebih menguras banyak tenaga. Padahal dengan berpikir efisien, pekerjaan yang dulunya diselesaikan dalam waktu satu minggu, kini dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari saja. Pekerjaan yang dulunya diselesaikan dalam waktu satu hari, kini dapat diselesaikan dalam waktu setengah hari saja. Berpikir efisien akan memberikan perbedaan yang signifikan. 

Efisien adalah perbandingan terbalik antara usaha dan hasil. Suatu usaha dapat dikatakan efisien kalau usaha yang dilakukan adalah usaha yang minimun, namun memberikan hasil yang maksimum dari segi kuantitas ataupun kualitas. Jika usaha yang dilakukan walaupun mencapai hasil yang maksimum, namun banyak memboroskan sumberdaya (waktu, tenaga, benda atau ruang), maka usaha tersebut belum dapat dikatakan efisien. Berikut ilustrasinya:


Pada Ilustrasi A, Jika usaha yang dilakukan mencapai hasil c, maka usaha tersebut belum dapat dikatakan efisien, melainkan usaha yang biasa-biasa saja. Hasil b adalah usaha yang masih lebih baik dari hasil c. Di antara ketiganya, hasil a adalah hasil yang terbaik, sehingga usahanya dapat dikatakan usaha yang efisien.


Pada ilustrasi B, jika usaha yang dilakukan mencapai hasil X, maka usaha tersebut dapat dikatakan usaha yang efisien, tapi dengan syarat usaha yang dilakukan adalah yang paling minimum seperti lingkaran a. Jika usaha yang dilakukan adalah sebesar lingkaran c (memboros sumberdaya: waktu, tenaga, benda dan ruang), walaupun hasil yang dicapai maksimum (X), maka usaha tersebut masih belum dapat dikatakan efisien. Seperti itulah gambaran efisiensi dari buku ini. 

Faktor yang membuat pegawai A lebih efisien dari pegawai B adalah cara bekerjanya. Misalnya saja, pegawai A dan B masing-masing diberi waktu 1 jam untuk mengetik. Si A dapat mengetik 4 laporan dalam waktu 1 jam, sedangkan si B hanya dapat mengetik 2 laporan. Apa yang menyebabkan perbedaan antara keduanya? Jawabannya adalah cara kerja. Pegawai A menggunakan cara bekerja efisien, sedangkan si B tidak.

Kritik Penulis terhadap Buku

Walaupun buku ini adalah buku bagus, namun terdapat satu hal yang penulis ingin kritik. Dalam buku ini, penulisnya membandingkan antara efisiensi dan efektivitas, dan perbandingan tersebutlah yang membuat saya tidak sepakat. Seolah efisiensi lebih penting dari efektifitas. Efektivitas adalah mengerjakan hal-hal yang benar, sedangkan efisiensi adalah mengerjakan hal-hal dengan benar. Dari kedua pengertian tersebut, maka hal yang pertama seharusnya dipikirkan adalah soal efektivitas atau pekerjaan-pekerjaan apa yang benar untuk dikerjakan. Setelah itu terjawab, maka barulah persoalan efisiensi dipikirkan, yaitu bagaimana mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang benar tersebut dengan benar. Jadi, kita tidak dapat berpikir soal efisiensi dulu sebelum berpikir soal efektifitas.

Sabtu, 11 Mei 2019

EMPAT KEBUTUHAN DASAR MANUSIA YANG MESTI TERPENUHI

Menurut Aristoteles, manusia adalah hewan yang berakal. Pernyataan tersebut mengandung makna manusia memiliki persamaan dengan hewan yang salah satunya adalah hawa nafsu. Namun yang memisahkannya dari dunia hewan adalah satu hal, yaitu akal. Manusia memiliki akal, sedangkan hewan tidak memilikinya.

Berbicara mengenai manusia, maka terdapat satu hal yang menjadi bagian dari dirinya, yaitu kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar manusia ada empat yang terkandung dalam sebuah frasa: “To Live, To Love, To Learn, To Leave a Legacy”. To Live atau “untuk hidup” adalah kebutuhan dasar kita yang berhubungan dengan bidang fisik, seperti kesehatan, uang, tempat perlindungan, pakaian, dan kebutuhan biologis. To Love atau “untuk mencintai” adalah kebutuhan dasar kita yang berhubungan dengan bidang sosial. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain demi keberlangsungan hidupnya. Penelitian terkini mengenai neuroscience (ilmu tentang saraf) menemukan bahwa otak kita tercipta untuk saling berhubungan satu sama lain (baca lebih lanjut dalam buku Kecerdasan Sosial, penulis Daniel Goleman). Dalam otak kita juga terdapat bagian-bagian yang khusus menangani persoalan-persoalan sosial yang masih perlu untuk dieksplor lebih lanjut oleh para peneliti neuroscience. 

To Learn atau “untuk belajar” adalah kebutuhan dasar kita yang menyangkut bidang mental, yaitu untuk bertumbuh dan berkembang. Belajar adalah kebutuhan, olehnya itu belajar adalah seumur hidup. Dengan belajar, kita berkembang, tidak stagnan, sehingga ada kepuasan mental yang dirasakan. To Leave A Legacy atau “untuk meninggalkan warisan” adalah kebutuhan kita yang menyangkut bidang spiritual, seperti melakukan kontribusi. Melakukan kontribusi adalah kebutuhan kita, agar kita memiliki perasaan berarti dalam diri kita, dan agar kita dikenang. Usia kita memang singkat, hanyalah sekitar 65-an tahun. Akan tetapi, benarkah usia kita sesingkat itu? 

Penulis jadi teringat dengan sebuah film. Dalam film tersebut, ada seorang dokter yang memiliki impian ingin menumbuhkan bunga sakura di daerah yang sangat dingin dan bersalju. Iapun menghabiskan waktu hidupnya selama 30 tahun untuk melakukan penelitian yang pada akhirnya berhasil. Bersamaan dengan keberhasilannya itu, iapun mendapat berita bahwa semua dokter-dokter di dalam istana kerajaan sedang menderita sakit. Iapun menuju istana kerajaan, dan sebelum menuju ke istana, ia sempat menitipkan bibit-bibit bunga sakura hasil penelitiannya ke seorang sahabatnya untuk di suatu kelak nanti ditumbuhkan di daerah dingin tersebut. Sesampainya di istana kerajaan, ia pada akhirnya baru menyadari bahwa berita itu hanyalah kebohongan semata, dan merupakan taktik raja agar sang dokter menampakkan diri untuk kemudian ingin dieksekusi. Menanggapi itu, sang dokter mengatakan: “syukurlah, tidak ada yang sakit”. Iapun melanjutkan perkataannya:

“Menurut kalian kapan seorang manusia mati?”

“Ketika peluru dari senapan menembus jantungnya?”

“Bukan”

“Ketika dia terserang penyakit mematikan?”

“Bukan”

“Ketika dia memakan sup jamur beracun?”

“Bukan”

“Seseorang akan mati, ketika orang-orang melupakannya…”

Kematiannya pun ditutup dengan perkataan: 

“Aku mengalami hidup yang menyenangkan!”

Walaupun dokter tersebut telah mati, tapi ia masih hidup di dalam hati orang-orang karena hasil penelitiannya, bunga sakura yang telah tumbuh di daerah dingin, yang telah ditumbuhkan oleh sahabatnya itu. Kurang lebih, seperti itulah makna kontribusi, yang merupakan bagian dari kebutuhan dasar kita sebagai manusia. 

Jadi, kesimpulannya kita memiliki empat dimensi dalam hidup ini, yang keempatnya mesti dipenuhi, yaitu kebutuhan dalam dimensi fisik, sosial, mental, dan spiritual. Jika salah satu dari keempat kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka kita akan mengalami kehampaan, dan jika terpenuhi maka kita mengalami hidup yang berkualitas. 

Keempat kebutuhan tersebut, harus terpenuhi secara seimbang, tidak dapat hanya satu, dua, atau tiga saja, melainkan harus keempat-empatnya terpenuhi. Hal ini selaras dengan ajaran Islam, yang mengajarkan keseimbangan dalam hidup. Islampun tidak mengajarkan kita hanya untuk memikirkan persoalan akhirat, praktisnya hanya untuk beribadah di masjid saja. Di situlah letak tantangannya, yaitu cara memenuhi keempat kebutuhan tersebut secara seimbang.

Kita tidak boleh mengisi hidup kita hanya untuk bersosialisasi terus menerus dan mengabaikan ketiga dimensi lainnya. Kita tidak boleh juga mengisi hidup kita hanya untuk belajar terus-menerus dan mengabaikan ketiga dimensi lainnya. Kita juga tidak boleh mengisi hidup kita hanya untuk uang sebagai kebutuhan kita, dan mengabaikan ketiga dimensi lainnya. Keempatnya harus terpenuhi secara seimbang.

Sekian dari penulis. Penulis bukanlah orang yang sempurna, dan belum tentu pula mampu memenuhi keempat kebutuhan dasar secara seimbang. Butuh kepemimpinan dari dalam diri untuk menyeimbangkannya. Tulisan ini dibuat hanya untuk satu tujuan, yaitu untuk berbagi. Semoga apa yang dibagikan ini bermanfaat bagi para pembaca. Wassalam.