Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2017

Mendefenisikan Ulang Arti Ikhlas (Konsep Ikhlas dalam Ajaran Islam)

Sumber foto: health.kompas.com

Ilmu ikhlas adalah hal yang menarik bagi penulis, karena ilmu ini merupakan ‘obat’ dan dapat menjadi pencegah dari penyakit-penyakit hati. Jika kebaikan yang kita lakukan dibalas dengan kejahatan, maka obat yang dapat menyembuhkannya adalah ikhlas. Jika kebaikan yang akan kita lakukan dikhawatirkan tidak akan dibalas dengan kebaikan pula, maka sikap yang dapat dipilih adalah memperbaiki niat untuk ikhlas.

Ikhlas tidak hanya sampai pada berbuat baik kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Konsep ikhlas lebih mulia dari itu. Ikhlas secara etimologi berasal dari kata kholusho, yaitu kata kerja intransitif yang artinya bersih, jernih, murni, suci, atau bisa juga diartikan tidak ternoda (tidak terkena campuran). Sehingga jika diartikan secara utuh, maka ikhlas adalah sesuatu yang murni, tidak tercampur dengan hal-hal lain yang dapat mencampurinya (Mustafa, 2013: 9). Di dalam Al-Qur’an, pelajaran tentang ikhlas diterangkan melalui binatang ternak. Berikut kutipan lengkapnya:

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (QS. An-Nahl: 66).

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, sapi adalah binatang ternak yang menghasilkan susu yang dapat dikonsumsi oleh manusia dan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Namun hal yang menarik dari itu adalah fenomena terpisahkannya susu dari kotoran dan darah, padahal ketiga zat tersebut berada dalam satu wadah, yaitu perut sapi. Hal tersebutlah yang membuat kita dapat dengan mudah meminum susu sapi.

Niat yang ikhlas dapat dianalogikakan dengan fenomena terpisahkannya susu dari kotoran dan darah. Jika kotoran dan darah adalah keinginan agar perbuatan baik kita dilihat maupun dipuji orang atau keinginan untuk mendapatkan balas jasa, maka susu adalah niat yang semata-mata hanya untuk Allah SWT. Namun, bagaimana cara memeriksa niat kita, apakah sudah murni hanya untuk Allah SWT atau masih bercampur dengan keinginan-keinginan untuk dilihat dan dipuji atau mendapatkan balas jasa dari orang ?

Secara alamiah, kita dianugerahi kesadaran diri oleh Tuhan, yaitu kemampuan untuk memeriksa kondisi internal kita. Kesadaran diri membuat kita mampu mendeteksi emosi kita, apakah sedang senang, sedih, marah, atau emosi lainnya, juga dapat membuat kita mampu mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, termasuk apa yang sedang kita niatkan. Sehingga kesadaran diri ini dapat digunakan sebagai radar pendeteksi niat.

Jika dipikirkan secara sepintas, konsep ikhlas tentu bertentangan dengan konsep melakukan kewajiban dan menuntut hak (konsep keadilan). Akan tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Bekerja dengan ikhlas tetap menginginkan imbalan, akan tetapi bukan terhadap manusia, melainkan terhadap Allah SWT. Seseorang yang ikhlas (dinamakan mukhlis) dengan segera melupakan perbuatan baiknya terhadap orang lain, sambil mengharapkan imbalan dari Tuhan berupa rahmat, pengampunan, ataupun pahala di akhirat. Jadi seseorang yang mukhlis adalah orang yang berpikiran jauh ke depan, melampaui batas waktu. Motivasinya adalah mendapatkan pahala di akhirat.

Sifat ikhlas juga tentu berhubungan dengan keimanan kepada Allah SWT dan hari akhirat, sehingga secara logika, seseorang belum dapat dikatakan ikhlas jika tidak beriman kepada Allah SWT dan hari akhirat. Karena iman kepada Allah SWT dan hari akhirat adalah dasar atau pondasi dari sifat ikhlas.

Di samping ikhlas, terdapat juga suatu sikap yanh hampir serupa, yaitu berbuat kebaikan tanpa mengharapkan imbalan (pamrih). Sikap tersebut merupakan sikap yang terpuji, namun menurut penulis sikap tersebut tidak jelas. Suatu sikap yang tidak tentu arahnya. Jika ikhlas adalah berbuat kebaikan dengan mengharapkan rahmat, pengampunan, ataupun pahala dari Allah SWT, maka sikap ikhlas jelas arahnya. Namun jika berbuat suatu kebaikan tanpa mengharapkan sesuatu, tanpa mengharapkan imbalan (pamrih), maka hal tersebut tentulah tidak jelas arahnya. Berbuat kebaikan tanpa mengharapkan sesuatu merupakan suatu sikap yang tidak jelas, karena bertentangan dengan teori psikologi. Dalam teori psikologi, segala tindakan manusia memiliki motif, yang kemudian menjadi motivasi. Motivasi inilah yang menjadi bahan bakar untuk menggerakkan tubuh kita untuk melakukan tindakan. Oleh karena itu, konsep ikhlas dan konsep berbuat kebaikan tanpa pamrih adalah dua hal yang berbeda.

Dalam prakteknya, kebaikan orang-orang yang ikhlas itu ibarat susu sapi murni, sehingga jika diminum akan memberi manfaat kepada yang meminumnya tanpa efek samping. Sedangkan kebaikan orang-orang yang tidak ikhlas ibarat susu sapi yang telah terkena campuran, sehingga jika diminum walaupun memberi manfaat, namun akan memiliki efek samping. Akhir kata, konsep ikhlas memang terdengar sederhana sehingga mudah untuk diucapkan, namun relatif tidak mudah untuk dijalankan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya, dan semoga para pembaca, juga penulis sanggup untuk menerapkan sifat ikhlas.

Selasa, 21 Februari 2012

Manusia Komponen Sistem Alam Semesta

         
        Manusia merupakan komponen sistem alam semesta. Sistem adalah satuan yang terdiri dari komponen-komponen atau subsistem-subsistem yang mempunyai hubungan saling ketergantungan satu sama lain untuk suatu tujuan. Jadi, sistem alam semesta ini pun diciptakan oleh si pencipta sistem untuk suatu tujuan. Walaupun belum diketahui tujuan diciptakannya sistem alam semesta, tapi si pencipta sistem sudah menerangkan kepada masing-masing komponen suatu prosedur-prosedur untuk mencapai tujuan sistem alam semesta. Adapun beberapa komponen-komponen sistem alam semesta adalah manusia, hewan, dan tumbuhan, yang ketiganya saling bergantung satu sama lain.  Namun, diantara komponen-komponen tersebut, komponen yang paling berperan penting dalam sistem alam semesta adalah manusia. Manusia adalah komponen yang termulia yang telah diciptakan oleh si pencipta sistem. Manusia adalah komponen yang telah diberikan kelebihan di antara semua komponen yang ada di alam semesta.
Kelebihan tersebut tak terhingga bila dimanifestasikan dalam syukur. Walaupun demikian, komponen yang termulia dan yang dilebihkan di antara semua komponen ini, haruslah tetap bersyukur. Pencipta sistem alam semesta ini adalah Allah subhanahuwata’ala, yang hidup kekal, berdiri sendiri, dan tidak ada yang menyamai-Nya. Kita diperintahkan untuk bersyukur atas kelebihan yang telah diberikan kepada kita. Kelebihan utama yang telah diberikan-Nya itu adalah pikiran, yang terdapat di dalam otak, yang terletak di kepala. Itulah sebabnya, sewaktu melaksanakan prosedur sholat, dalam prosedur tersebut, ada yang namanya sujud. Sujud adalah kepala ditundukkan dan disentuhkan ke tanah yang maknanya adalah rasa syukur terbesar kita kepada-Nya atas pemberian otak—yang di dalamnya terletak pikiran—ini.
Manusia: saya, anda, dan semua orang adalah komponen sistem alam semesta. Oleh karena itu, manusia dan bumi membutuhkan kita. Dan oleh karenanya pula, kita tidak boleh beranggapan bahwa keberadaan kita tidak penting di dunia ini. Tingkah laku kita, akan berpengaruh terhadap alam semesta ini.
Sistem alam semesta ini sangatlah rumit, jika ingin diketahui. Bahkan mungkin tidak dapat diketahui. Tapi, karena dalam diri kita terdapat hasrat ingin tahu, maka kita tetap berupaya untuk mengetahui sistem alam semesta ini. Komponen manusia adalah merupakan suatu sistem dari sistem alam semesta. Sistem yang terdapat dalam sistem disebut subsistem. Suatu subsistem berhubungan dengan subsistem lain. Suatu sistem yang lebih besar adalah lingkungan bagi sistem yang lebih kecil. Dalam suatu sistem, dikenal istilah input, proses, dan output. Kita mempunyai 5 panca indera. Indera penglihatan, indera pendengaran, indera penciuman, indera pengecap, dan indera peraba. Kita dan lingkungan (sistem yang lebih besar) saling berinteraksi. Interaksi tersebut adalah interaksi antar subsistem dari sistem alam semesta. Contoh: indera penglihatan seorang pemburu ‘menangkap’ suatu komponen obyek rusa. Maka ‘tangkapan’ komponen obyek rusa tersebut adalah input yang kemudian diproses oleh otak. Hasil proses—yang kemudian disebut output—itu merubah (mentransformasi) si pemburu. Hasil proses tersebut kemudian menimbulkan suatu perasaan. Perasaan tersebut kemudian merubah gerak tubuh, maupun ekspresi wajah pemburu. Hasil gerakan tubuh (yang misalnya: menusukkan tombak ke tubuh rusa, yang membuat rusa tersebut mati) kemudian akan memberi pengaruh terhadap sistem alam semesta.
Untuk menambah kesadaran bahwa kita adalah komponen sistem alam semesta, maka penulis memaparkan sebuah contoh lagi. Contoh yang sudah sangat umum, yaitu komponen siklus hidrologi (komponen sirkulasi air). Air di bumi, memiliki jumlah yang tetap. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita bertanya: mengapa terjadi hujan? Maka jawabannya adalah: karena panas matahari membuat air menguap, kemudian uap tersebut bergerak ke atas. Suhu udara semakin ke atas, maka akan semakin rendah. Pada tingkatan tertentu, maka uap air berubah wujud menjadi zat padat, yang kemudian dikenal dengan nama: awan. Awan tersebut kemudian dipengaruhi oleh daya tarik (gravitasi) bumi, sehingga awan tersebut jatuh ke bumi dalam bentuk titik-titik air, yang kemudian dinamakan: hujan. Namun, pada hakekatnya, mengapa terjadi hujan adalah karena makhluk hidup membutuhkan air. Dengan hujan, maka tumbuh-tumbuhan tumbuh, hingga menghasilkan buah. Buah tersebut kemudian dinikmati oleh manusia dan hewan.
Pemikiran adalah awal suatu hasil. Apa yang kita pikirkan hari ini adalah realita di hari esok. Jika kita memilih untuk menanam benih apel, maka yang tumbuh adalah bukan anggur, bukan jeruk, bukan durian, ataupun langsat, melainkan buah apel. Begitupun dengan pemikiran. Jika kita menanamkan pikiran positif di dalam benak kita, maka hasilnya adalah hal positif. Jika kita menanamkan pikiran negatif, maka hasilnya adalah hal negatif. Pikiran kita, akan berpengaruh terhadap alam semesta. Oleh karena itu, kita harus memilih pikiran yang sebaik-baiknya untuk ditanam di benak kita demi kebaikan kita sendiri, dan kebaikan bersama. Dengan itu, maka terciptalah kedamaian. Peace. J
Alhamdulillah...

Rabu, 09 November 2011

Review buku "Sejarah Hidup MUHAMMAD"

Perang Badr
Sumber gambar: warofweekly.blogspot.com

Setelah membaca buku ini, terlintas di pikiran untuk menulis reviewnya. Buku "Sejarah Hidup Muhammad" yang ditulis oleh Muhammad Husain Haekal ini terdiri dari 672 halaman (yang terhitung hanya isi dan lampiran). Buku ini diterjemahkan dari Bhs. Arab ke Bhs. Indonesia oleh Ali Audah. Ali Audah adalah seorang Sastrawan yang diakui oleh tingkat nasional. Ia menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia di samping juga menguasai bahasa-bahasa lain. Haekal sendiri adalah lulusan dalam bidang ilmu Hukum di Universitas Paris. Selain itu, ia juga berkecimpung di dunia politik. Namun, ia juga memiliki jiwa pengarang.

Buku ini dibuat berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode ilmiah. Yang dimaksud metode ilmiah di sini adalah membebaskan prasangka-prasangka serta kepercayaan yang sudah ada ketika hendak mengadakan penyelidikan. Penulis mengadakan perbandingan-perbandingan yang sistematis terhadap data-data yang terkumpulkan lalu dibuatlah kesimpulan-kesimpulan. Kesimpulan-kesimpulan itu pun kemudian diselidiki lagi. Jadi dalam bukunya ini, nabi Muhammad tidak dikisahkan dengan mengikutsertakan prasangka-prasangka penulis yang sudah ada sebelumnya, tidak melebih-lebihkan dan tidak pula menjelek-jelekkan; singkat kata buku ini tidak subyektif melainkan obyektif.
Sebelum membaca buku ini, saya belum mempunyai prasangka (baik dan buruk) terhadap nabi Muhammad. Memang sering terdengar di telinga tentang kebesaran nabi Muhammad, tapi saya selama itu cuek-cuek saja. Sehingga tulisan ini juga bisa dibilang obyektif.

Yang pertama saya uraikan dalam tulisan ini adalah kritikan terhadap kekurangan buku ini, karena menurutku buku ini terasa lebih banyak bagusnya--sama halnya juga saat menyantap telur mata sapi, yang didahulukan dimakan telur putihnya karena telur kuningnya terasa lebih enak. Kritikan saya terhadap buku ini adalah keterangan yang terkesan melebih-lebihkan. Karena itulah terkadang saya merasa jengkel sehingga melewatkan bagian yang menjengkelkan itu. Seharusnya tidak usalah ada keterangan tersebut, biar pembaca sendiri yang merasakan, biar pembaca sendiri yang menyimpulkan, 'kalau memang hasil penelitian (buku) ini obyektif'. Dengan adanya keterangan-keterangan tersebut, itu akan terkesan melebih-lebihkan cerita. Namun, keterangan-keterangan tersebut memang hasil (kesimpulan) dari penulis berdasarkan metode ilmiahnya. Tetapi bagusnya keterangan-keterangan itu tidak ada. Yang dimaksud keterangan yang terkesan melebih-lebihkan seperti: saat penulis menyebut-nyebutkan (menerangkan) kebaikan-kebaikan nabi Muhammad, kejahatan-kejahatan musuhnya, dll. Dengan membaca bagian-bagian kisah--yang semestinya tidak perlu ada keterangan itu--pembaca sudah mengerti sifat-sifat nabi, mengerti sifat-sifat musuhnya, dll, karena memang yang dikisahkan itu sudah jelas. Sudah jelas dalam artian tidak akan ada lagi prasangka yang berlainan berdasarkan bagian kisah tersebut.

Yang bagus dalam buku ini--selain hasil penelitiannya yang obyektif--adalah emosi kita dapat bangkit saat membacanya; juga surah-surah dalam Qur'an terjelaskan kronologis diturunkannya. Di sini, saya hanya membahas bagian-bagian kisah yang telah membangkitkan emosi saja, karena itulah yang paling berkesan saat membaca buku ini. Kisah-kisah tersebut adalah sbb:
1. Semangat Pasukan Muslimin dalam Perang Badr.
Pada saat itu pasukan Muslimin yang dipimpin oleh nabi Muhammad sedang berhadapan dengan Pasukan Quraisy. Melihat jumlah pasukannya yang sangat sedikit dibanding jumlah pasukan Quraisy, nabi pun merasa sangat cemas jika kemenangan tak berpihak kepadanya. Oleh karenanya, ia 'ke belakang' (bersama Abu Bakar) lalu berdoa memohon pertolongan kepada Allah SWT. Saat berdoa itu nabi tertidur sebentar, lalau segera tersadar lagi, kemudian--beserta Abu Bakar--kembali maju. Saat itulah, nabi mengerahkan sahabat-sahabatnya sambil berkata: "Demi Allah. Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga". Dengan kata-kata itu, semangat Pasukan Muslimin bangkit sehingga membuat mereka bertambah kuat. Satu orang pasukan muslimin seakan (sama dengan) 10 orang. Kepala-kepala pasukan Quraisy berjatuhan dari batang lehernya. Bangkitnya semangat pasukan muslimin ini membuat bulu-bulu merinding.

2. Tewasnya Paman Nabi dalam Perang Uhud.
Hamzah, paman nabi ditombak dari jarak yang cukup jauh oleh Wahsyi dari Abisinia. Tombak tersebut kena tepat di bawah perut Hamzah. Hamzah pun tewas. Setelah kemenangan jatuh di tangan pasukan Quraisy, perut Hamzah lalu di bedah, jantungnya diambili lalu dikunyah. Yang melakukan perbuatan keji itu adalah Hindun, seorang wanita Quraisy. Mayat-mayat yang lain pun dianiaya oleh kawan-kawan Hindun. Hal ini menjijikkan bagiku. Setelah mayat-mayat dibedah dan pasukan Quraisy pergi, Nabi Muhammad mendatangi mayat pamannya. Melihat mayat pamannya itu, beliau sungguh marah sehingga beliau berjanji Dengan Nama Allah bahwa apabila suatu ketika Tuhan memberikannya kemenangan, ia akan menganiaya mereka lebih keji, bahkan lebih keji lagi dari yang pernah dilakukan oleh orang Arab. Pada saat itulah firman Tuhan turun (Q.S. an-Nahl, 126-127). Dengan firman tersebut, hati nabi lalu memaafkan mereka dan melarang orang menganiaya. Kesedihan nabi itu, membuat saya turut merasa sedih. Di samping itu, saya sangat terharu akan sikap beliau yang tabah dan lebih-lebih lagi mau memaafkan (dalam hati) orang yang mengunyah jantung pamannya itu serta kawan-kawannya. Ujung-ujungnya setelah Hindun masuk Islam (beserta kawan-kawannya), ia dimaafkan oleh nabi Muhammad. Sungguh luar biasa.

3. Fitnah Tentang Aisyah, Istri Nabi
Ketika itu, kaum muslimin sedang berkemah, melakukan perjalanan pulang menuju Medinah. Pada saat itu Aisyah, dengan mengenakan kalung kesayangannya, keluar dari kemah nabi karena hendak berhajat. Sewaktu selesai, ia tersadar bahwa kalungnya itu sudah tidak ada. Ia lalu pergi mencarinya kemudian menemukannya setelah sekian lama mencari. Sewaktu kembali di perkemahan, rombongan sudah pergi. Aisyah tidak panik dengan ketertinggalannya itu, karena ia yakin kalau rombongan tersadar akan ketidakberadaannya itu, mereka pasti kembali ke perkemahan untuk mencarinya. Jadi ia berbaring sambil menunggu rombongan. Ketika itu, datanglah Safwan bin’l-Mu’attal lewat di tempat tersebut yang juga tertinggal karena melaksanakan suatu perintah. Ia lalu menyuruh Aisyah naik ke untanya dan bersama-sama menuju ke Medinah. Sesampainya di Medinah, masyarakat di sana terheran-heran melihat mereka berdua berboncengan, sehingga timbullah fitnah. Fitnah tentang Aisyah dan Safwan bin'l-Mu'Attal. Fitnah ini pun sampai ke telinga nabi, sehingga nabi bingung antara percaya atau tidak. Dengan itu, Aisyah—yang belum sampai di telinganya fitnah tentang dirinya—merasa aneh melihat sifat suaminya yang sekarang begitu kaku, yang sebelumnya lemah lembut dan penuh kasih sayang kepadanya. Lama-kelamaan berita fitnah itu pun sampai ke telingah Aisyah, sehingga ia hampir jatuh pingsan dan tidak tahu harus berbuat apa sewaktu mendengarnya. Karena sangat merasa terganggu sekali dengan berita tentang Aisyah, nabi Muhammad pun menemui Aisyah untuk meminta pengakuannya. Aisyah membantah fitnah tentang dirinya itu. Ketika nabi hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia terlelap oleh kedatangan wahyu dari Tuhan. Saat ia tersadar kembali, ia lalu yakin akan ketidakbenaran fitnah tersebut, dan mengatakan kepada Aisyah bahwa berita itu sama sekali tidak benar. Aisyah pun sangat gembira. Dengan itu, masalah fitnah ini sudah selesai. Adapun orang yang menyebarkan fitnah tersebut mendapatkan hukuman. Di sini, hati merasa turut simpati melihat pertengkaran dalam rumah tangga antara Aisyah dan suaminya. Dan mengenai orang yang menyebarkan fitnah (atau bahasa sekarangnya gosip) itu, lagi-lagi nabi memaafkan. Nabi memaafkan, bukan berarti beliau lemah. Bisa saja beliau memerintahkan agar orang yang menyebar fitnah itu dibunuh, akan tetapi karena ketabahan hatinya dan rasa kasih sayangnya kepada sesama manusia yang membuat ia sanggup memaafkan.

4. Umar bin Khattab Menangis???
Ibrahim, anak nabi dari Maria lahir. Dengan kelahirannya itu, nabi sangat gembira. Karena sangat gembiranya, ia lebih memperhatikan anak dan ibunya itu daripada istri-istrinya yang lain. Dengan begitu, timbul kecemburuan pada istri-istrinya. Dengan kecemburuan itu, timbul masalah-masalah emosional antara nabi dengan istri-istrinya. Lama-kelamaan nabi marah sehingga bermaksud menceraikan sebagian istri-istrinya. Nabi lalu memutuskan untuk memisahkan diri dari istri-istrinya selama sebulan, lalu menetap di sebuah bilik yang ditemani oleh Rabah, pelayannya. Singkatnya, tersebar berita-berita bahwa nabi sudah menceraikan istri-istrinya. Berita itupun tersebar di kalangan muslimin, dan juga istri-istrinya. Mendengar berita tersebut, istri-istrinya lalu merasa gelisah, menyesal, mengapa ia sampai begitu jauh menyakiti hati suaminya yang selama ini mereka kenal sebagai suami yang sangat lemah lembut kepadanya. Sudah sebulan lamanya nabi memisahkan diri. Ketika itu, kaum muslimin yang di tengah-tengahnya juga ada Umar bin Khattab, sedang membicarakan berita bahwa nabi sudah menceraikan istri-istrinya. Mendengar itu, Umar lalu berdiri dan bermaksud menemui nabi di biliknya itu. Sesampainya di depan bilik, Umar lalu meminta kepada Rabah bahwa ia mau menemui nabi. Rabah pun lalu masuk ke bilik. Tapi, sewaktu Rabah keluar, ia tidak mengatakan apa-apa yang bertanda bahwa nabi tidak mengizinkannya masuk. Umar pun lalu meminta untuk yang kedua kalinya, namun nabi tetap tidak mengizinkan. Yang ketiga kalinya, Umar berkata dengan suara keras: “Rabah, mintakan aku izin kepada Rasulullah. Kukira dia sudah mengetahui kedatangannku ini ada hubungannya dengan Hafsah. Sungguh. kalau dia menyuruhku memenggal leher Hafsah, akan kupenggal”. Hafsah adalah anak Umar yang pernah menentang nabi, protes kepada nabi terhadap tingkah laku beliau yang lebih memerhatikan anaknya Ibrahim dan Istrinya Maria daripada istri-istrinya yang lain, sehingga membuat nabi gusar sepanjang hari.Untuk yang ketiga kalinya itu, nabi lalu mengizinkan Umar masuk untuk menemuinya. Umar pun masuk. Ia lalu memandang ke sekeliling biliknya itu, dan seketika itu, Umar menangis. Nabi pun bertanya: “Apa yang membuat engkau menangis Ibn’l Khattab?”. Ia menjawab bahwa yang membuatnya menangis adalah melihat tikar tempat ia berbaring yang sampai meninggalkan bekas di rusuknya, dan juga bilik sempit yang ia tempati yang tidak berisi apa-apa selain gandum, dan kacang-kacangan yang digantung. Umar pun berkata: “Rasulullah, apa yang menyebabkan tuan tersinggung karena para istri itu? Kalau mereka itu tuan ceraikan, nisacaya Tuhan di sampingmu, demikian juga para malaikat—Jibril dan Mikail—juga saya, Abu Bakar (sahabat dekat nabi), dan semua orang-orang beriman pun ada di pihakmu”. Nabi Muhammad lalu memberi keterangan bahwa ia tidak menceraikan istri-istrinya. Perbincangan terus berlangsung, amarah Umar pun mulai berangsung-angsur hilang. Dengan itu, Umar lalu segera ke mesjid untuk mengumumkan hal yang telah dibicarakkannya dengan nabi, kepada kaum muslimin yang masih tinggal di mesjid. Ia berkata: “Rasulullah tidak menceraikan istrinya”. Dengan demikian, masalah ini selesai. Istri-istri nabi pun kembali sadar.
Umar bin Khattab, yang bertubuh kekar, terkenal keras dan kasar--sehingga orang-orang takut kepadanya--menangis. Ia menangis karena tidak tega melihat orang yang dicintainya, orang yang sangat dihormatinya itu tidur di tikar yang sampai meninggalkan bekas di rusuknya, dan tinggal di sebuah bilik seperti itu. Bahkan, karena cinta dan hormatnya itu pula lah, Umar rela akan memenggal kepala anaknya yang telah membuat gusar nabi sepanjang hari. Hal ini dapat dikatakan tidak logis, tapi itulah yang namanya ‘emosi’. Emosi dapat mengalahkan logika. (rujukan: “Emotional Intelligence”, Daniel Goleman).

5. Ibadah Haji Perpisahan
25 Zulkaidah, tahun kesepuluh Hijrah nabi dari Mekah ke Medinah. Pada Ibadah Haji itu nabi sendiri yang memimpin rombongan haji. Dalam ibadah haji, dalam pidatonya, Rasulullah membacakan firman Tuhan kepada rombongan haji, yang di tengah-tengah rombongan itu ada pula Abu Bakar:
“Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian, dengan Kuucapkan nikmat-Ku kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu” (Q.S. al-Ma’idah: 3). Mendengar ayat itu, Abu Bakar lalu menangis. Ia merasa bahwa risalah nabi sudah selesai sampai di sini dan sudah dekat pula saatnya nabi menghadap Tuhan. Dan apa yang terjadi, memang betul firasat Abu Bakar. Inilah ibadah terakhir yang diikuti oleh nabi, yang setelahnya itu, ia pun berpulang ke rahmatullah. Oleh karenanya ibadah ini dikatakan sebagai Ibadah Haji Perpisahan. Membaca kisah ini, saya pun turut merasa sedih...

Itulah tadi kelebihan buku ini, khususnya kisah-kisah pembangkit emosi yang telah diuraikan di atas. Selain itu, masih ada lagi kisah-kisah yang tidak sempat diuraikan pada tulisan ini.
Wassalam... :)