Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Minggu, 12 Februari 2017

Mendefenisikan Ulang Arti Ikhlas (Konsep Ikhlas dalam Ajaran Islam)

Sumber foto: health.kompas.com

Ilmu ikhlas adalah hal yang menarik bagi penulis, karena ilmu ini dapat menjadi ‘obat’ maupun pencegah dari penyakit hati. Jika kebaikan yang kita lakukan dibalas dengan kejahatan, maka obat yang dapat menyembuhkannya adalah ikhlas. Jika kebaikan yang akan kita lakukan dikhawatirkan tidak akan dibalas dengan kebaikan pula, maka sikap yang dapat dipilih adalah memperbaiki niat untuk ikhlas.

Berbicara mengenai ikhlas, beberapa orang memiliki konsep yang hanya sampai pada kulit luarnya saja. Ikhlas tidak hanya sampai pada berbuat baik kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Konsep ikhlas dapat lebih mulia dari itu. Penulis sendiri merupakan orang yang dikendalikan oleh rasa ingin tahu, sehingga menjadi pemicu untuk memperoleh pemahaman mengenai konsep ikhlas yang tidak hanya sampai pada kulit luarnya saja. Sehingga pemahaman yang diperoleh melalui hasil bacaan dan pengamatan di lingkungan sekitar, maka rasa-rasanya mubadzir jika tidak dibagikan ke orang lain. Hal tersebutlah yang memicu penulis untuk membuat tulisan ini.

Ikhlas secara etimologi berasal dari kata kholusho, yaitu kata kerja intransitif yang artinya bersih, jernih, murni, suci, atau bisa juga diartikan tidak ternoda (tidak terkena campuran). Sehingga jika diartikan secara utuh, maka ikhlas adalah sesuatu yang murni, tidak tercampur dengan hal-hal lain yang dapat mencampurinya (Mustafa, 2013: 9). Di dalam Al-Qur’an, pelajaran tentang ikhlas diterangkan melalui binatang ternak. Berikut kutipan lengkapnya:

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (QS. An-Nahl: 66).

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, sapi adalah binatang ternak yang menghasilkan susu yang dapat dikonsumsi oleh manusia dan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Namun hal yang menarik dari itu adalah fenomena terpisahkannya susu dari kotoran dan darah, padahal ketiga zat tersebut berada dalam satu wadah, yaitu perut sapi. Hal tersebutlah yang membuat kita dapat dengan mudah meminum susu sapi.

Niat yang ikhlas dapat dianalogikakan dengan fenomena terpisahkannya susu dari kotoran dan darah. Jika kotoran dan darah adalah keinginan agar perbuatan baik kita dilihat maupun dipuji orang atau keinginan untuk mendapatkan balas jasa, maka susu adalah niat yang semata-mata hanya untuk Allah SWT. Namun, bagaimana cara memeriksa niat kita, apakah sudah murni hanya untuk Allah SWT atau masih bercampur dengan keinginan-keinginan untuk dilihat dan dipuji atau mendapatkan balas jasa dari orang ?

Secara alamiah, kita dianugerahi kesadaran diri oleh Tuhan, yaitu kemampuan untuk memeriksa kondisi internal kita. Kesadaran diri membuat kita mampu mendeteksi emosi kita, apakah sedang senang, sedih, marah, atau emosi lainnya, juga dapat membuat kita mampu mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, termasuk apa yang sedang kita niatkan. Sehingga kesadaran diri ini dapat digunakan sebagai radar pendeteksi niat.

Jika dipikirkan secara sepintas, konsep ikhlas tentu bertentangan dengan konsep melakukan kewajiban dan menuntut hak (konsep keadilan). Akan tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Bekerja dengan ikhlas tetap menginginkan imbalan, akan tetapi bukan terhadap manusia, melainkan terhadap Tuhan. Seseorang yang ikhlas (dinamakan mukhlis) dengan segera melupakan perbuatan baiknya terhadap orang lain, sambil mengharapkan imbalan dari Tuhan berupa rahmat, pengampunan, ataupun pahala di akhirat. Jadi seseorang yang mukhlis adalah orang yang berpikiran jauh ke depan, melampaui batas waktu. Motivasinya adalah mendapatkan pahala di akhirat.

Sifat ikhlas juga tentu berhubungan dengan keimanan terhadap Allah SWT dan hari akhirat, sehingga tidak logis jika seseorang mengatakan bahwa dirinya ikhlas namun tidak beriman kepada Allah SWT dan hari akhirat. Karena iman kepada Allah SWT dan hari akhirat adalah dasar atau pondasi dari sifat ikhlas.

Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat juga suatu sikap, berbuat kebaikan tanpa mengharapkan imbalan (pamrih). Walaupun sikap seperti itu adalah suatu sikap yang terpuji, namun menurut penulis sikap seperti itu tidak jelas. Suatu sikap yang tidak tentu arah. Jika ikhlas adalah berbuat kebaikan dengan hanya semata-mata mengharapkan rahmat, pengampunan, ataupun pahala dari Allah SWT, maka sikap ikhlas jelas arahnya. Namun jika seseorang berbuat kebaikan tanpa mengharapkan imbalan (pamrih), maka hal tersebut tentulah tidak jelas arahnya. 

Berbuat kebaikan tanpa pamrih dikatakan tidak jelas, karena bertentangan dengan teori psikologi. Dalam teori psikologi, segala tindakan manusia memiliki motif, yang kemudian menjadi motivasi. Motivasi inilah yang menjadi bahan bakar untuk menggerakkan tubuh kita untuk melakukan tindakan. Oleh karena itu, konsep ikhlas dan konsep berbuat kebaikan tanpa pamrih adalah dua hal yang berbeda.

Dalam prakteknya, kebaikan orang-orang yang ikhlas itu ibarat susu sapi murni, sehingga jika diminum akan memberi manfaat kepada kita tanpa ada efek sampingnya. Sedangkan kebaikan dari orang-orang yang tidak ikhlas ibarat susu sapi yang telah terkena campuran, sehingga jika diminum memang memberi manfaat, namun akan ada efek sampingnya. Akhir kata, konsep ikhlas memang terdengar sederhana sehingga mudah untuk diucapkan, namun relatif tidak mudah untuk dijalankan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca.