Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Jumat, 16 Mei 2014

Jari Memang Tercipta untuk Keyboard

sumber foto: http://www.pusatgratis.com

Dalam dunia pembelajaran, terdapat tiga istilah yang mirip namun berbeda dan seringkali menimbulkan kekeliruan. Istilah yang dimaksud adalah pengajaran, pendidikan dan pelatihan. Pengajaran adalah suatu proses pemindahan ilmu atau materi dari guru ke murid. Ilmu atau materi tersebut cukup hanya untuk dimengerti atau dipahami saja. Pendidikan adalah suatu proses pemindahan ilmu atau materi dari guru ke murid dan ilmu atau materi tersebut tidak hanya sekedar untuk dimengerti atau dipahami saja, tetapi lebih dari itu. Murid harus menghayati ilmu atau materi tersebut dan dilaksanakan dalam perbuatan. Pelatihan adalah suatu proses mengasah atau mengembangkan suatu kemampuan atau keterampilan.

Contoh ilmu atau materi yang dilakukan dengan mengajar adalah ilmu atau materi yang bersifat teori, seperti: teori kecerdasan buatan (Artificial Intelligent), teori-teori komunikasi, dan lain sebagainya. Ilmu atau materi tersebut cukup hanya untuk dimengerti atau dipahami saja. Ilmu atau materi yang dilakukan dengan mendidik adalah ilmu yang sering dikenal dengan Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, dan lain sebagainya. Pendidikan Agama maupun Pendidikan Kewarganegaraan, dalam prosesnya menuntut murid untuk melaksanakan apa yang telah disampaikan oleh guru. Ilmu atau materi yang dilakukan dengan melatih adalah ilmu beladiri. Untuk menguasai suatu gerakan atau jurus, maka murid harus berlatih.

Proses belajar yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah proses berlatih. Berlatih, butuh tekad dan kemauan yang kuat. Hal tersebutlah yang membuat orang-orang menjadi hebat dalam keterampilan tertentu. Berlatih, harus dilakukan secara terus menerus. Seperti halnya seorang atlet atau musisi yang hebat. Walaupun mereka telah memperoleh suatu kemampuan, mereka masih tetap berlatih agar kemampuan tersebut terus berkembang atau paling tidak kemampuan tersebut tidak menurun (tetap dimilikinya).

Kita telah melewati tiga zaman dan sedang berada pada zaman ke empat: zaman pekerja informasi/ pengetahuan. Ketiga zaman sebelumnya adalah zaman berburu dan mengumpulkan makanan, zaman bercocok tanam dan zaman industri. Pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan, setiap orang harus pandai berburu untuk bertahan hidup. Pada zaman bercocok tanam, setiap orang harus pandai bercocok tanam agar hasil yang diperoleh lebih baik dari zaman berburu dan mengumpulkan makanan. Pada zaman industri, orang-orang membangun pabrik dan mempekerjakan orang-orang lainnya agar hasil yang diperoleh lebih besar. Oleh karena itu, orang-orang berlatih untuk memperoleh keterampilan tertentu yang berhubungan dengan jenis suatu pabrik. Pada zaman pekerja informasi/ pengetahuan yang sedang kita jalani ini, setiap orang harus pandai berkomputer. Hanya dengan duduk di depan komputer, kita dapat menghasilkan uang. Salah satu contohnya adalah program pay per click. Hanya dengan sekali klik oleh pengunjung, maka pemilik situs akan memperoleh uang. Bagaimana jika banyak pengunjung pada situs tersebut ? Tentunya uang yang dihasilkan akan banyak.

Tapi, hal yang telah dibicarakan di atas terlalu jauh. Terlalu jauh dalam artian pembahasan dalam tulisan ini. Hal yang paling mendasar untuk dimiliki dalam berkomputer adalah keterampilan mengetik dengan 10 jari, karena kita hanya memiliki 10 jari tangan. Sebelum membahas soal keterampilan mengetik 10 jari, mari kita terlebih dahulu membahas soal keyboard (jika diartikan secara lurus, artinya adalah papan kunci).

Terdapat berbagai macam keyboard, dan yang paling umum digunakan adalah Keyboard Qwerty. Nama tersebut diambil dari tata letak tombol huruf jika dibaca dari kiri ke kanan. Secara umum, tombol keyboard terdiri dari tombol: simbol bendera (logo Windows), Escape (Esc), Tab, Shift, Alternative (Alt), Control (Ctrl), Enter, Function1 (F1), Function2 (F2) hingga Function12 (F12), Scroll Lock (ScrLk), Number Lock (NumLk), Caps Lock, Print Screen (PrtSc), Insert (Ins), Delete (Del), Home, Page Up (Pg Up), Page Down (Pg Dn), End, tanda panah kiri, kanan, atas dan bawah, angka dari 0 hingga 9, huruf dari A hingga Z, tombol Spasi (Space) dan Backspace, serta tanda baca dan simbol-simbol sederhana. Mungkin beberapa pembaca sudah memahami fungsi dari semua tombol yang telah disebutkan. Tapi dalam tulisan ini, penulis akan menjelaskan fungsi dari beberapa tombol dan juga beberapa Shorcut Key. Bagi yang telah memahaminya, dapat melangkahi paragraf selanjutnya.

Tombol Escape berfungsi untuk membatalkan (Cancel) pilihan jika ada jendela pilihan yang muncul. Tombol Alternatif (Alt) berfungsi sesuai dengan namanya, yaitu sebagai alternatif bagi mouse. Jika mouse kita sedang rusak, maka kita dapat menggunakan keyboard sebagai pengganti mouse, dan tombol yang akan banyak digunakan adalah tombol Alternatif. Tombol Control adalah sebuah tombol yang tidak dapat berfungsi sendiri. Tombol tersebut selalu berkombinasi dengan tombol-tombol lain yang kemudian diistilahkan dengan Shorcut Key. Sesuai dengan namanya, Scroll Lock, Number Lock, dan Caps Lock berfungsi untuk mengunci. Scroll Lock berfungsi untuk mengunci tombol Scroll, Number Lock berfungsi untuk mengunci tombol nomor, dan Caps Lock berfungsi untuk mengunci agar tombol-tombol huruf menjadi huruf kapital. Jika kita ingin mencetak atau ingin menyimpan gambar yang sedang tampil pada layar komputer, maka kita menggunakan tombol Print Screen (PrtSc). Untuk menyimpan gambar, tekan tombol PrtSc, kemudian masuk ke program Paint, lalu paste. Setelah gambar muncul, maka simpan gambar tersebut. Tombol Insert berfungsi untuk menukar. Jika kita sedang bekerja dalam Microsoft Word, dan “I Beam” (ikon garis hitam berkedip-kedip) berada di antara sebuah kata kemudian kita mengetik sebuah huruf, angka ataupun simbol, maka huruf yang berada di depan “I Beam” akan tergantikan dengan tombol huruf, angka atau simbol yang kita tekan. Sesuai dengan namanya, tombol Delete berfungsi untuk menghapus. Tombol Backspace adalah kebalikan dari tombol Space. Jika kita menekan tombol Backspace, maka karakter (huruf, angka ataupun simbol) yang berada di belakang “I Beam”, akan terhapus. Walaupun memiliki kemiripan, tombol Backspace dan Delete adalah berbeda. Perbedaannya sangat signifikan. Saat kita sedang berada pada jendela folder (Windows Explorer), kemudian kita menekan Drive D lalu menekan lagi Backspace, maka kita akan kembali ke My Computer (atau Computer). Tombol Backspace berfungsi untuk mengembalikan ke yang sebelumnya, sedangkan tombol Delete berfungsi untuk menghapus file atau folder.

Terdapat beberapa Shorcut Key, seperti: Alt + Tab, tombol logo Windows + Tab, tombol logo Windows + D, Ctrl + Shift + Esc, Alt + F4, Ctrl + C, Ctrl + X, Ctrl + V, Ctrl + S, Ctrl + P, dan lain sebagainya. Shortcut Key adalah kombinasi antara beberapa tombol untuk menjalankan sebuah perintah (command). Jika terdapat beberapa jendela yang sedang berjalan, maka kita dapat menggunakan Shorcut Key: Alt + Tab atau logo Windows + Tab. Shorcut Key tersebut berfungsi untuk mempercepat kita berpindah-pindah dari jendela satu ke jendela lain. Perbedaan antara kedua shortcut key tersebut hanyalah dari tampilan. Logo Windows + D berfungsi untuk kembali ke tampilan Desktop secara cepat. Ctrl + Shift + Esc berfungsi untuk membuka jendela Task Manager. Lazimnya, orang-orang menggunakan jendela Task Manager untuk menutup jendela yang terkadang tidak dapat tertutup. Alt + F4 berfungsi untuk menutup jendela, dan apabila kita sedang berada pada tampilan desktop kemudian menekan shortcut key tersebut, maka kita akan masuk pada menu shut down. Ctrl + C untuk menggandakan, Ctrl + X untuk memotong atau memindahkan, Ctrl + V untuk menempel (paste), Ctrl + S untuk menyimpan, Ctrl + P untuk mencetak (print).

Mengetik 10 jari adalah sebuah keterampilan yang dapat diperoleh dengan cara berlatih. Dengan keterampilan tersebut, pekerjaan menulis/ mengetik akan terasa sangat mudah. Orang yang memiliki keterampilan mengetik 10 jari akan sangat berbeda dengan yang tidak memilikinya. Jika pembaca adalah salah seorang yang memiliki keterampilan mengetik 10 jari, maka pernyataan penulis tersebut pastilah dibenarkan. Memiliki keterampilan mengetik 10 jari akan membuat pekerjaan mengetik lebih cepat. Pekerjaan yang dilakukan selama seharian, dapat diselesaikan hanya dalam 5 jam. Intinya, keterampilan mengetik 10 jari dapat lebih menghemat waktu (efisien).

Untuk memperoleh keterampilan mengetik 10 jari, hal pertama yang harus dimiliki adalah kemauan. Memang, terdapat berbagai hal yang harus difikirkan, sehingga kemauan untuk berlatih mengetik 10 jari tidak ada. Namun, sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya bahwa saat ini kita sedang berada pada zaman pekerja pengetahuan/ informasi. Hal tersebut menuntut agar kita memiliki keterampilan mengetik 10 jari. 

Keterampilan mengetik 10 jari memang sulit untuk diperoleh, selain harus memiliki kemauan, dibutuhkan juga latihan yang konsisten. Dalam agama Islam diajarkan bahwa Allah SWT lebih menyukai pekerjaan yang sedikit tapi konsisten. Latihan mengetik 10 jari dapat dilakukan dengan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, tetapi konsisten.

Sebenarnya, kita dapat memiliki atau mungkin membuat sendiri keyboard yang sesuai dengan keinginan kita. Huruf A berada pada urutan ke dua, huruf S berada pada urutan pertama, dan seterusnya. Tapi penulis rasa, itu adalah hal yang rumit, jika kita bukan ahli elektronika. Jadi kita sebaiknya beradaptasi dengan lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah keyboard.

Keyboard pada umumnya terdiri dari 3 baris dan 10 kolom untuk tombol-tombol huruf dan beberapa tanda baca. Jari kita harus beradaptasi dengan tata letak tombol-tombol tersebut. Kolom pertama terdiri dari: Q, A, Z; kolom ke dua terdiri dari: W, S, X; kolom ke tiga terdiri dari: E, D, C; kolom ke empat terdiri dari: R, F, V; kolom ke lima terdiri dari: T, G, B; kolom ke enam terdiri dari: Y, H, N; kolom ke tujuh terdiri dari: U, J, M; kolom ke delapan terdiri dari: I, K, tanda koma (,); kolom ke sembilan terdiri dari: O, L, titik (.); kolom ke sepuluh terdiri dari: P, titik koma (;), garis miring (/). Berikut adalah peruntukannya: untuk tangan kiri, jari kelingking untuk kolom pertama, jari manis untuk kolom ke dua, jari tengah untuk kolom ke tiga, jari telunjuk untuk kolom ke empat dan ke lima. Jari telunjuk untuk dua kolom; untuk tangan kanan, jari telunjuk untuk kolom ke enam dan ke tujuh, jari tengah untuk kolom ke delapan, jari manis untuk kolom ke sembilan, jari kelingking untuk kolom ke sepuluh. Adapun ibu jari pada kedua tangan kita adalah untuk tombol spasi yang merupakan tombol yang paling panjang di antara semuanya. Di sebelah kiri dan kanan satu set tombol, masing-masing terdapat satu tombol Shift. Jika huruf yang ingin dikapitalkan berada pada daerah kekuasaan jari-jari tangan kanan, maka tombol Shift yang ditekan adalah tombol yang berada di sebelah kiri. Jika huruf yang ingin dikapitalkan berada pada daerah kekuasaan jari-jari tangan kiri, maka tombol Shift yang ditekan adalah tombol yang berada di sebelah kanan.

Butuh waktu, agar kesepuluh jari kita dapat beradaptasi dengan keyboard. Metode atau strategi latihan dapat pembaca fikirkan sendiri. Penulis sendiri, dahulu latihan mengetik 10 jari secara autodidak sambil berbisnis (Terima Ketikan Komputer). Belajar mengetik 10 jari dengan mengetik surat, skripsi, koran, dll. Tentunya itu adalah hal yang beresiko. Tapi hal tersebutlah yang menjadi tantangan. Hasilnya, beberapa dari pelanggan tidak senang dengan hasil kerja penulis. Tapi latihan yang penulis telah lakukan tersebut, dapat dikatakan berbanding lurus dengan hasilnya. Pembaca dapat membuat metode atau strategi sendiri untuk memperoleh keterampilan mengetik 10 jari.

Apabila kita telah memiliki keterampilan mengetik 10 jari, kita akan mudah dalam mengerjakan tugas kuliah, kita akan tidak cenderung untuk melakukan kejahatan akademik: copy-paste (disingkat copas), dan masih banyak lagi manfaatnya. Selain itu, ketika kita telah memiliki keterampilan mengetik 10 jari, kita akan menikmati kegiatan yang bernama mengetik. Kita dapat mengetik tanpa melihat keyboard, oleh karena itu kita dapat melakukan hal lain, seperti menonton televisi atau berbicara dengan orang lain misalnya. Saat itulah kita akan berucap dalam hati: JARI MEMANG TERCIPTA UNTUK KEYBOARD.

Senin, 12 Mei 2014

Mengatasi Keresahan Malam Hari

 sumber foto: http://iwak.info

Malam ini begitu sunyi. Sekarang sudah hampir pukul 1. Sebagian orang memanfaatkan waktu seperti saat ini untuk tidur, yang lain memanfaatkannya untuk belajar, sebagian lainnya memanfaatkannya untuk bersenang-senang dan sebagian lainnya lagi memanfaatkannya untuk menulis.

Malam hari merupakan fenomena alam yang mengajarkan kita arti keadilan. Bukan hanya kita yang membutuhkan cahaya, tapi orang lain di belahan bumi lain juga membutuhkannya. Bumi berputar untuk mengajarkan kita arti keadilan.

Sekarang sudah pukul 1 lewat 20 menit. Itu artinya waktu telah berlalu sekitar 20 menit dan ide pun belum muncul di kepala. Hal tersebut menandakan bahwa ide adalah sesuatu yang tidak mudah didapatkan. Oleh karena itu, patutlah kiranya jika kita menghargai ide yang muncul di kepala kita. Kita tidak boleh membuang ide kita begitu saja tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Ide butuh untuk dihargai.

Sekarang sudah pukul 1 lewat 30 menit. Waktu telah berlalu 10 menit. Waktu adalah sesuatu yang berharga. Kita harus menggunakannya sebaik mungkin, karena kita tidak bisa mengendalikannya. Kita dapat menjinakkan hewan, membudidayakan tumbuhan, tapi kita tidak bisa mengendalikan waktu. Begitu berharganya waktu sehingga kita tidak diberi kuasa untuk mengendalikannya.

Sekarang pukul 1 lewat 50 menit, ide telah muncul. Cobalah sejenak kita memikirkan laut di kala malam hari. Gunakanlah imajinasi untuk dapat berada di laut saat ini dan berfikir untuk mencoba menyelam ke dalamnya. Begitu menakutkan, begitu menegangkan. Saat kita berada di dalam laut, maka tidak ada cahaya, sedangkan di samping kiri kanan kita ada ikan hiu dengan gigi-giginya yang tajam yang siap untuk memangsa kita. Jika kita sungguh berada di laut pada malam hari, beranikah kita untuk menyelam ke dalamnya ?

Ide yang baru saja muncul adalah mengenai laut di kala malam hari. Begitu hebatnya otak ini, sehingga dengan hanya memikirkan laut di kala malam hari, maka dengan cepat hal lain yang berhubungan dengan hal tersebut muncul. Hal yang dimaksud adalah pemikiran orang dahulu.

Zaman dulu, orang-orang berfikir secara mitologi. Penyebab guntur, penyebab gempa, penyebab hujan, semua itu datangnya dari dewa. Dahulu kala orang-orang percaya akan adanya dewa. Sehingga mereka harus melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati dewa. Mereka takut terhadap dewa, mereka takut terhadap alam.

Zaman prasejarah mesolitik, orang-orang tidak berani berada di luar rumah saat malam hari karena pada saat malam hari, tidak ada cahaya. Sebelum matahari terbenam, mereka segera masuk ke dalam rumah, mereka berhenti beraktifitas. Waktu terus berlalu, dan mereka menemukan alternatif cahaya, yaitu api. Mereka telah menemukan api.

Ketakutan terhadap malam hari pun hilang. Paradigma mereka mengenai malam hari telah berubah. Mereka mulai menemukan keindahan di kala malam hari, yaitu memandangi bulan dan bintang-bintang yang bergelantungan di langit.

Ketakutan penulis terhadap laut di kala malam hari sama halnya dengan ketakutan yang dialami oleh orang-orang dulu untuk keluar rumah pada malam hari sebelum ditemukannya api. Ketakutan dapat ditaklukkan dengan pengetahuan dan keberanian. Saat kita memberanikan diri untuk menyelam ke dalam laut di kala malam hari dan tidak ada ikan hiu di samping kiri kanan kita, maka ketakutan terhadap laut di kala malam hari akan hilang. Saat kita memperoleh pengetahuan tentang ikan hiu, maka ketakuan terhadapnya akan hilang dan kita akan berani mendekatinya.

Begitu hebatnya otak ini, dengan hanya memikirkan suatu hal, maka hal lain yang berhubungan akan terfikirkan. Kita hanya perlu menjelaskan bagaimana hubungan antara hal-hal tersebut.

Sekarang sudah pukul 2 lewat 48 menit. Sebenarnya tulisan ini muncul karena keresahan penulis akan aktivitas-aktivitas yang telah penulis lakukan. Apakah aktivitas yang telah dilakukan selama seharian sudah produktif ? Apakah aktivitas yang telah dilakukan selama seharian sudah berkualitas ? Sehingga dalam waktu memikirkan hal-hal tersebut, ide untuk menulis muncul. Tulisan ini ditulis apa adanya, untuk menghilangkan keresahan akan hal-hal tersebut.

Senin, 05 Mei 2014

Perubahan Paradigma

Sumber gambar: University of Harvard

Ada banyak pengertian paradigma menurut para ahli. Tapi katanya, paradigma itu berasal dari bahasa Yunani, digunakan dalam istilah ilmiah. Saat ini, kata paradigma digunakan secara umum. Mengutip sebuah defenisi, seperti halnya defenisi paradigma, haruslah dengan cara berfikir historis yaitu dengan mencari asal kata tersebut untuk menghormati orang yang telah menemukan kata tersebut. Tapi, untuk tujuan tulisan ini, maka dalam tulisan ini paradigma didefenisikan sebagai gambaran tentang dunia.

Teringat dengan Oprah Winfrey yang mengatakan bahwa untuk merubah kehidupan kita, maka kita harus merubah sikap kita. Hal tersebut memang benar, tapi Stephen R Covey mengatakan hal yang paling mendasar dalam kehidupan kita adalah paradigma. Oleh karena itu, untuk merubah kehidupan kita, maka hal yang harus dirubah adalah paradigma. Paradigma adalah dasar dari sebuah sikap atau tindakan. Inilah yang menggerakkan kita. Inilah yang membuat kita menyalahkan kondisi saat kita dalam kesulitan. Inilah yang membuat kita proaktif ketika kita dalam kesulitan. 

Tiap orang memiliki paradigma yang berbeda-beda terhadap dunia. Hal tersebutlah yang unik dari hidup ini. Kita boleh berbeda paradigma akan tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa paradigma sayalah yang benar. Kita hanya dapat mempertahankan paradigma kita dengan tetap terbuka terhadap paradigma orang lain.

Ada sebuah fakta yang unik mengenai paradigma. Fakta ini terjadi pada abad pertengahan, mengenai penyakit. Pada kala itu, orang-orang memiliki paradigma bahwa penyebab penyakit berada di dalam darah. Oleh karena itu, jika seseorang menderita sebuah penyakit, maka keluarkan darahnya dengan cara disedot. Bagaimanakah jadinya jika paradigma tersebut masih digunakan hingga abad ini. Bagaimanakah jadinya jika darah di dalam tubuh terlalu banyak disedot. Masa setelahnya, paradigma mengenai penyakit berubah melalui sebuah penemuan ilmiah. Penyebab penyakit adalah kuman. Paradigma tersebutlah yang mengubah tindakan para dokter dalam menangani pasiennya. Para dokter tidak lagi menyedot darah jika seseorang sakit.

Hal tersebut diistilahkan dengan perubahan paradigma oleh Thomas Kuhn. Ia memperlihatkan bahwa hampir setiap penemuan penting (seperti halnya penemuan kuman di atas) berawal dari pemutusan terhadap paradigma lama. Mari kita mengambil sebuah contoh lagi pada masa kejayaan Kristen. Pada masa berkuasanya gereja terhadap sebuah negara. Sebelumnya, paradigma terhadap alam semesta adalah pusat alam semesta adalah bumi. Namun, timbul paradigma baru yang diciptakan oleh Copernicus. Ia mengatakan bahwa pusat alam semesta adalah matahari. Paradigma baru tersebut membuat ia dihukum oleh pemerintah. Fakta tersebut menandakan bahwa paradigma adalah suatu hal yang kuat.

Perubahan paradigma dapat mengarahkan kita ke arah positif atau negatif. Seperti halnya jika kita memiliki paradigma bahwa yang menyebabkan kondisi saya seperti sekarang ini adalah orang tuaku yang tidak mendidikku dengan baik, atau yang menyebabkan kondisi kita seperti sekarang ini adalah karena pemerintah yang tidak bijaksana dalam menerapkan keputusan-keputusannya. Melalui paradigma tersebut, kita akan terus dirasuki dengan fikiran negatif, akan terus menyalahkan kondisi, menyalahkan apa yang ada di luar diri kita tanpa lupa untuk berbenah diri. Namun jika kita memiliki paradigma bahwa kita sendirilah yang harus bertanggung jawab terhadap fikiran dan perasaan kita, maka kita tidak akan menyalahkan apa yang berada di luar diri kita. Kita tidak akan menyalahkan kondisi. Kita akan bersikap proaktif bukan reaktif.

Perubahan paradigma dapat terjadi secara spontan atau bertahap. Sebagai contoh perubahan paradigma secara spontan adalah penerapan hukum Islam. Jika seseorang dipergok mencuri, maka tangannya akan dipotong, dan hal tersebut dipertontonkan di depan umum. Hal tersebut besar kemungkinan akan secara langsung (spontan) merubah paradigma si pelaku, dan juga orang-orang yang menyaksikan hukuman tersebut, bahwa mencuri itu tidak baik. Tapi hal tersebut tidak akan terjadi karena negara kita mengadopsi hukum dari Belanda, hukum penjara. Saya sendiri juga sepertinya memilih menjadi kura-kura yang bersembunyi di dalam tempurung (pura-pura tidak tau) terhadap hukum Islam ini. Saya sendiri juga mual jika melanjutkan tulisan ini membahas mengenai hukum Islam terhadap orang-orang yang berbuat kriminal. Oleh karena itu, mari kita ganti topik (lanjut).

Menggambarkan perubahan paradigma secara bertahap, terdapat sebuah istilah: kontinum kematangan. Kontinum kematangan, menggambarkan proses dari paradigma ketergantungan ke paradigma kemandirian lalu ke paradigma kesalingtergantungan. Pada awalnya, kita bergantung terhadap orang lain akan kehidupan kita. Masa itu adalah pada saat kita bayi. Tanpa orang tua, kita tidak akan bertahan lama untuk hidup. Seiring bertumbuhnya kita, secara psikologi, emosi dan fisik, kita mulai sadar bahwa kitalah yang harus bertanggung jawab atas fikiran dan perasaan kita, kita sendirilah yang harus bertanggungjawab atas kehidupan kita. Oleh karena itu, kita mulai untuk mencari nafkah sendiri, mencuci baju sendiri, memasak sendiri, dan semuanya serba sendiri. Setelah masa itu, kita bertumbuh dewasa, menjadi matang, mulai sadar akan hukum alam, hukum kausalitas. Hukum tersebut juga berlaku terhadap hubungan antar manusia. Jika kita bertindak sesuatu pasti akan menghasilkan dampak atau akibat terhadap orang lain. Kita mulai sadar, bahwa kita membutuhkan orang lain dan orang lain juga membutuhkan kita untuk saling bekerja sama, agar hasil yang kita peroleh dapat lebih maksimal dibandingkan jika kita sendiri.

Ada pepatah yang berbunyi: “Cara terbaik untuk belajar adalah mengajar”. Tulisan ini adalah berdasarkan pada hasil belajar penulis terhadap buku yang berjudul “The 7 Habits of Highly Effective People”, yang baru penulis baca sampai pada kebiasaan 1: Jadilah Proaktif. Oleh karena itu, tulisan ini merupakan proses pembelajaran penulis. Semoga tulisan ini bermanfaat.