Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2022

Definisi Kebahagiaan dan Kesenangan

sumber foto: https://www.republika.co.id/berita/poqzt1313/hakikat-kebahagiaan

Dalam tulisan kali ini, akan dibahas definisi antara kesenangan dan kebahagiaan. Semoga bermanfaat.

Kebahagiaan adalah berbeda dengan kesenangan. Kebahagiaan lebih tinggi derajatnya daripada kesenangan. Kesenangan dapat diperoleh secara instan dengan melakukan hal-hal yang dapat membuat suasana hati kita menjadi senang. Sedangkan kita tahu bahwa suasana hati itu berubah-ubah.

Untuk memperoleh kebahagiaan, kita harus bersakit-sakit terlebih dahulu. Kebahagiaan adalah hasil dari perjuangan yang kita lakukan. Oleh karenanya, kebahagiaan itu bersifat kokoh, sulit berubah. Karena proses mendapatkannya juga tidak mudah.

Suasana hati tidak layak dijadikan nahkoda dalam keseharian kita, karena sifatnya yang mudah berubah-ubah. Hal yang pantas menjadi nahkoda dalam keseharian kita adalah sesuatu yang agung, yaitu visi hidup, cita-cita, ataupun impian.

Jika kita dapat mencapai visi hidup kita, mencapai cita-cita atau mewujudkan impian, tentulah kita akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Jika dalam suatu hari kita dihadapkan di antara dua pilihan aktivitas: pertama adalah aktivitas yang ingin kita lakukan dan dapat membuat hati kita senang sedangkan aktivitas kedua adalah aktivitas yang terlintas di dalam pikiran kita namun rasanya malas untuk melakukannya namun dapat mengantarkan kita lebih dekat dengan visi hidup kita. Maka pilihan yang tepat adalah mengerjakan aktivitas kedua. 

Sekian dan terima kasih.

Sabtu, 11 Mei 2019

EMPAT KEBUTUHAN DASAR MANUSIA YANG MESTI TERPENUHI

Menurut Aristoteles, manusia adalah hewan yang berakal. Pernyataan tersebut mengandung makna manusia memiliki persamaan dengan hewan yang salah satunya adalah hawa nafsu. Namun yang memisahkannya dari dunia hewan adalah satu hal, yaitu akal. Manusia memiliki akal, sedangkan hewan tidak memilikinya.

Berbicara mengenai manusia, maka terdapat satu hal yang menjadi bagian dari dirinya, yaitu kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar manusia ada empat yang terkandung dalam sebuah frasa: “To Live, To Love, To Learn, To Leave a Legacy”. To Live atau “untuk hidup” adalah kebutuhan dasar kita yang berhubungan dengan bidang fisik, seperti kesehatan, uang, tempat perlindungan, pakaian, dan kebutuhan biologis. To Love atau “untuk mencintai” adalah kebutuhan dasar kita yang berhubungan dengan bidang sosial. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain demi keberlangsungan hidupnya. Penelitian terkini mengenai neuroscience (ilmu tentang saraf) menemukan bahwa otak kita tercipta untuk saling berhubungan satu sama lain (baca lebih lanjut dalam buku Kecerdasan Sosial, penulis Daniel Goleman). Dalam otak kita juga terdapat bagian-bagian yang khusus menangani persoalan-persoalan sosial yang masih perlu untuk dieksplor lebih lanjut oleh para peneliti neuroscience. 

To Learn atau “untuk belajar” adalah kebutuhan dasar kita yang menyangkut bidang mental, yaitu untuk bertumbuh dan berkembang. Belajar adalah kebutuhan, olehnya itu belajar adalah seumur hidup. Dengan belajar, kita berkembang, tidak stagnan, sehingga ada kepuasan mental yang dirasakan. To Leave A Legacy atau “untuk meninggalkan warisan” adalah kebutuhan kita yang menyangkut bidang spiritual, seperti melakukan kontribusi. Melakukan kontribusi adalah kebutuhan kita, agar kita memiliki perasaan berarti dalam diri kita, dan agar kita dikenang. Usia kita memang singkat, hanyalah sekitar 65-an tahun. Akan tetapi, benarkah usia kita sesingkat itu? 

Penulis jadi teringat dengan sebuah film. Dalam film tersebut, ada seorang dokter yang memiliki impian ingin menumbuhkan bunga sakura di daerah yang sangat dingin dan bersalju. Iapun menghabiskan waktu hidupnya selama 30 tahun untuk melakukan penelitian yang pada akhirnya berhasil. Bersamaan dengan keberhasilannya itu, iapun mendapat berita bahwa semua dokter-dokter di dalam istana kerajaan sedang menderita sakit. Iapun menuju istana kerajaan, dan sebelum menuju ke istana, ia sempat menitipkan bibit-bibit bunga sakura hasil penelitiannya ke seorang sahabatnya untuk di suatu kelak nanti ditumbuhkan di daerah dingin tersebut. Sesampainya di istana kerajaan, ia pada akhirnya baru menyadari bahwa berita itu hanyalah kebohongan semata, dan merupakan taktik raja agar sang dokter menampakkan diri untuk kemudian ingin dieksekusi. Menanggapi itu, sang dokter mengatakan: “syukurlah, tidak ada yang sakit”. Iapun melanjutkan perkataannya:

“Menurut kalian kapan seorang manusia mati?”

“Ketika peluru dari senapan menembus jantungnya?”

“Bukan”

“Ketika dia terserang penyakit mematikan?”

“Bukan”

“Ketika dia memakan sup jamur beracun?”

“Bukan”

“Seseorang akan mati, ketika orang-orang melupakannya…”

Kematiannya pun ditutup dengan perkataan: 

“Aku mengalami hidup yang menyenangkan!”

Walaupun dokter tersebut telah mati, tapi ia masih hidup di dalam hati orang-orang karena hasil penelitiannya, bunga sakura yang telah tumbuh di daerah dingin, yang telah ditumbuhkan oleh sahabatnya itu. Kurang lebih, seperti itulah makna kontribusi, yang merupakan bagian dari kebutuhan dasar kita sebagai manusia. 

Jadi, kesimpulannya kita memiliki empat dimensi dalam hidup ini, yang keempatnya mesti dipenuhi, yaitu kebutuhan dalam dimensi fisik, sosial, mental, dan spiritual. Jika salah satu dari keempat kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka kita akan mengalami kehampaan, dan jika terpenuhi maka kita mengalami hidup yang berkualitas. 

Keempat kebutuhan tersebut, harus terpenuhi secara seimbang, tidak dapat hanya satu, dua, atau tiga saja, melainkan harus keempat-empatnya terpenuhi. Hal ini selaras dengan ajaran Islam, yang mengajarkan keseimbangan dalam hidup. Islampun tidak mengajarkan kita hanya untuk memikirkan persoalan akhirat, praktisnya hanya untuk beribadah di masjid saja. Di situlah letak tantangannya, yaitu cara memenuhi keempat kebutuhan tersebut secara seimbang.

Kita tidak boleh mengisi hidup kita hanya untuk bersosialisasi terus menerus dan mengabaikan ketiga dimensi lainnya. Kita tidak boleh juga mengisi hidup kita hanya untuk belajar terus-menerus dan mengabaikan ketiga dimensi lainnya. Kita juga tidak boleh mengisi hidup kita hanya untuk uang sebagai kebutuhan kita, dan mengabaikan ketiga dimensi lainnya. Keempatnya harus terpenuhi secara seimbang.

Sekian dari penulis. Penulis bukanlah orang yang sempurna, dan belum tentu pula mampu memenuhi keempat kebutuhan dasar secara seimbang. Butuh kepemimpinan dari dalam diri untuk menyeimbangkannya. Tulisan ini dibuat hanya untuk satu tujuan, yaitu untuk berbagi. Semoga apa yang dibagikan ini bermanfaat bagi para pembaca. Wassalam.

Minggu, 12 Februari 2017

Mendefenisikan Ulang Arti Ikhlas (Konsep Ikhlas dalam Ajaran Islam)

Sumber foto: health.kompas.com

Ilmu ikhlas adalah hal yang menarik bagi penulis, karena ilmu ini merupakan ‘obat’ dan dapat menjadi pencegah dari penyakit-penyakit hati. Jika kebaikan yang kita lakukan dibalas dengan kejahatan, maka obat yang dapat menyembuhkannya adalah ikhlas. Jika kebaikan yang akan kita lakukan dikhawatirkan tidak akan dibalas dengan kebaikan pula, maka sikap yang dapat dipilih adalah memperbaiki niat untuk ikhlas.

Ikhlas tidak hanya sampai pada berbuat baik kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Konsep ikhlas lebih mulia dari itu. Ikhlas secara etimologi berasal dari kata kholusho, yaitu kata kerja intransitif yang artinya bersih, jernih, murni, suci, atau bisa juga diartikan tidak ternoda (tidak terkena campuran). Sehingga jika diartikan secara utuh, maka ikhlas adalah sesuatu yang murni, tidak tercampur dengan hal-hal lain yang dapat mencampurinya (Mustafa, 2013: 9). Di dalam Al-Qur’an, pelajaran tentang ikhlas diterangkan melalui binatang ternak. Berikut kutipan lengkapnya:

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (QS. An-Nahl: 66).

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, sapi adalah binatang ternak yang menghasilkan susu yang dapat dikonsumsi oleh manusia dan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Namun hal yang menarik dari itu adalah fenomena terpisahkannya susu dari kotoran dan darah, padahal ketiga zat tersebut berada dalam satu wadah, yaitu perut sapi. Hal tersebutlah yang membuat kita dapat dengan mudah meminum susu sapi.

Niat yang ikhlas dapat dianalogikakan dengan fenomena terpisahkannya susu dari kotoran dan darah. Jika kotoran dan darah adalah keinginan agar perbuatan baik kita dilihat maupun dipuji orang atau keinginan untuk mendapatkan balas jasa, maka susu adalah niat yang semata-mata hanya untuk Allah SWT. Namun, bagaimana cara memeriksa niat kita, apakah sudah murni hanya untuk Allah SWT atau masih bercampur dengan keinginan-keinginan untuk dilihat dan dipuji atau mendapatkan balas jasa dari orang ?

Secara alamiah, kita dianugerahi kesadaran diri oleh Tuhan, yaitu kemampuan untuk memeriksa kondisi internal kita. Kesadaran diri membuat kita mampu mendeteksi emosi kita, apakah sedang senang, sedih, marah, atau emosi lainnya, juga dapat membuat kita mampu mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, termasuk apa yang sedang kita niatkan. Sehingga kesadaran diri ini dapat digunakan sebagai radar pendeteksi niat.

Jika dipikirkan secara sepintas, konsep ikhlas tentu bertentangan dengan konsep melakukan kewajiban dan menuntut hak (konsep keadilan). Akan tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Bekerja dengan ikhlas tetap menginginkan imbalan, akan tetapi bukan terhadap manusia, melainkan terhadap Allah SWT. Seseorang yang ikhlas (dinamakan mukhlis) dengan segera melupakan perbuatan baiknya terhadap orang lain, sambil mengharapkan imbalan dari Tuhan berupa rahmat, pengampunan, ataupun pahala di akhirat. Jadi seseorang yang mukhlis adalah orang yang berpikiran jauh ke depan, melampaui batas waktu. Motivasinya adalah mendapatkan pahala di akhirat.

Sifat ikhlas juga tentu berhubungan dengan keimanan kepada Allah SWT dan hari akhirat, sehingga secara logika, seseorang belum dapat dikatakan ikhlas jika tidak beriman kepada Allah SWT dan hari akhirat. Karena iman kepada Allah SWT dan hari akhirat adalah dasar atau pondasi dari sifat ikhlas.

Di samping ikhlas, terdapat juga suatu sikap yanh hampir serupa, yaitu berbuat kebaikan tanpa mengharapkan imbalan (pamrih). Sikap tersebut merupakan sikap yang terpuji, namun menurut penulis sikap tersebut tidak jelas. Suatu sikap yang tidak tentu arahnya. Jika ikhlas adalah berbuat kebaikan dengan mengharapkan rahmat, pengampunan, ataupun pahala dari Allah SWT, maka sikap ikhlas jelas arahnya. Namun jika berbuat suatu kebaikan tanpa mengharapkan sesuatu, tanpa mengharapkan imbalan (pamrih), maka hal tersebut tentulah tidak jelas arahnya. Berbuat kebaikan tanpa mengharapkan sesuatu merupakan suatu sikap yang tidak jelas, karena bertentangan dengan teori psikologi. Dalam teori psikologi, segala tindakan manusia memiliki motif, yang kemudian menjadi motivasi. Motivasi inilah yang menjadi bahan bakar untuk menggerakkan tubuh kita untuk melakukan tindakan. Oleh karena itu, konsep ikhlas dan konsep berbuat kebaikan tanpa pamrih adalah dua hal yang berbeda.

Dalam prakteknya, kebaikan orang-orang yang ikhlas itu ibarat susu sapi murni, sehingga jika diminum akan memberi manfaat kepada yang meminumnya tanpa efek samping. Sedangkan kebaikan orang-orang yang tidak ikhlas ibarat susu sapi yang telah terkena campuran, sehingga jika diminum walaupun memberi manfaat, namun akan memiliki efek samping. Akhir kata, konsep ikhlas memang terdengar sederhana sehingga mudah untuk diucapkan, namun relatif tidak mudah untuk dijalankan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya, dan semoga para pembaca, juga penulis sanggup untuk menerapkan sifat ikhlas.

Kamis, 24 Desember 2015

Rezeki yang Datangnya tidak Disangka-Sangka


Sumber foto:  https://ustadzkholish.files.wordpress.com/2010/02/brg-5.jpg

Ada tiga jenis alarm dalam hidupku: yang pertama adalah alarm HP; yang kedua adalah alarm sosial, dan yang ketiga adalah alarm finansial. Alarm jenis pertama sering berbunyi pada waktu subuh atau pada hari-hari penting; alarm jenis kedua (alarm sosial) berbunyi saat ‘rekening bank emosi’ ku sudah mulai menipis atau perasaanku sudah mulai tidak peka lagi terhadap lingkungan sosialku, dan alarm ketiga akan berbunyi saat uang di dompetku menipis.

Hari Rabu ini (23 Desember 2015), alarm jenis ketiga-ku berbunyi, hati menjadi was-was karena uang bensin pun tidak cukup, padahal bensin motorku sudah mendekati error. Tanpa motor, atau tepatnya tanpa bensin, gerak-gerikku menjadi terbatas. Dalam kondisi finansial seperti ini, otakku dikuasai oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat finansial, dan pengetahuan-pengetahuan terkait ekonomi yang pernah kupelajari muncul seketika. Berikut adalah pemikiran-pemikiran yang muncul di kepalaku saat itu:

“Bagaimana caranya agar saya bisa punya uang saat ini???”

“Orang kaya menjadi semakin kaya dan orang miskin akan tetap miskin, karena pada saat mendapatkan uang, mindset keduanya berbeda. Mindset orang kaya yang semakin kaya adalah bagaimana caranya agar uang yang diperolehnya dapat bertambah banyak ?, sedangkan mindset orang miskin yang tetap miskin adalah mau belanja apa ya dengan uang ini? (kutipan dari buku Financial Revolution, karya Tung Desem Waringin).”

“Saya telah berusaha untuk memiliki mindset orang kaya yang semakin kaya, sebelumnya. Namun pada ujung-ujungnya kondisi finansialku seperti ini juga. Lantas, saya harus bagaimana lagi ??”

“Tiap makhlukh hidup di muka bumi ini tidak diciptakan melainkan rezekinya telah dijamin, bahkan binatang melata pun telah dijamin rezekinya oleh Sang Pemberi Rezeki. Binatang melata saja rezekinya dijamin, apalagi saya sebagai manusia ?? Tapi mengapa Sang Pemberi Rezeki membiarkanku dalam kondisi seperti ini ?? Bagaimana caranya agar uang di dompetku ini dapat bertambah??”

“apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan uang ??”

Saya pun menjadi galau.

Pikiran-pikiran tersebut bermunculan saat saya sedang mengendarai motor menuju kantor pajak Makassar untuk suatu urusan. Kemudian, pada saat berpikir itu, telepon genggamku berdering. Sayapun menghentikan motorku.

“021****.. Wah, ini dari Jakarta. Sayapun dengan segera memencet tombol hijau di HP-ku”.

Ternyata, telepon tersebut membawa kabar gembira bagi saya. Apa yang kubutuhkan, saat itu juga datang kepadaku, secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka !! Benar-benar rezeki yang datangnya tidak disangka-sangka !! Saldo di rekeningku bertambah !

Apa yang kuperoleh tersebut bukannya tanpa usaha, melainkan hasil dari kesabaran atas usaha yang telah kulakukan sebelumnya. Beberapa bulan yang lalu saya telah membuat sebuah tulisan untuk sebuah jurnal, dan hasil dari kerjaku tersebut baru kuperoleh saat ini. Tuhan memang telah menjamin rezeki untuk semua makhluk hidup di muka bumi ini, namun rezeki tidak akan diperoleh tanpa usaha. Burung-burung akan bangun di pagi hari untuk mencari rezeki berupa cacing, binatang melata seperti kadal harus berusaha untuk memperoleh rezeki berupa makanan, bahkan seekor nyamuk pun mempertaruhkan nyawanya untuk memperoleh rezeki berupa darah.

Uang yang kuperoleh memang tidak stabil atau tidak terjamin untuk kebutuhan hidupku, namun di balik semua itu terdapat rasa syukur. Saat alarm finansialku berbunyi, itu tandanya saya harus bergerak ! Saya harus berfikir ! Alam telah mendidikku untuk tidak menjadi pemalas. Saat alarm finansialku berbunyi, maka akan bermunculan ide-ide kreatif, otakku pun bekerja ! Kita harus belajar dan terus belajar untuk memperoleh ilmu, karena dengan ilmu hidup akan menjadi lebih mudah. Pembelajaran dalam hidup ini tidak akan pernah berhenti, karena belajar adalah kebutuhan !

Rabu, 11 Maret 2015

MOTIF/ MOTIVASI

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar percakapan seperti ini:

Si A = Mau ke mana bro ?

Si B = Mau ke perpus [misalnya] dulu, bro ! [tanda seru menandakan bahwa orang yang berkata sedang bersemangat]

[Si A pun tersentak heran, sehingga memunculkan pertanyaan di dalam hati: untuk apa Si B ke perpus ?] Si A pun menanggapi:

Si A = Kau ada motif lagi kaaah ?!

[FIN]

Perkataan “kau ada motif lagi kaaah ?!” jika diartikan sama dengan motivasi. Kata itulah (motif/ motivasi) yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Teringat seorang motivator yang baru saja terkenal, namanya Dr. Ibrahim Elfiky. Ia mengatakan bahwa sebuah hasil (baik itu positif maupun negatif) berawal dari fikiran. Siklusnya adalah dari fikiran, kemudian fikiran yang berulang-ulang menimbulkan emosi/ perasaan. Perasaan inilah yang menjadi bahan bakar penggerak tubuh. Perasaan atau emosi dalam siklus tersebut sama dengan motif/ motivasi.

Mengacu pada siklus yang dikatakan oleh Dr. Ibrahim Elfiky, maka segala tindakan kita digerakkan oleh emosi (menurut Daniel Goleman, emosi berasal dari kata muuvre bahasa inggris, move, yang artinya bergerak). Dengan begitu, jika pada saat ini kita sedang berada di rumah, lantas esok paginya kita pergi ke suatu tempat (ke tempat kerja misalnya), maka untuk sampai ke tempat kerja, tubuh kita digerakkan oleh emosi. Seseorang pergi ke suatu tempat, punya ‘motif’.

Hanya sekedar berbagi pengalaman. Saat sedang berpartisipasi dalam suatu kegiatan sosial, penulis terkadang mencoba mencari tahu motif dari orang-orang yang tergabung dalam kegiatan sosial tersebut. Entah apa yang mendasari pencarian tersebut. Mungkin karena sifat dasar kita (memiliki rasa ingin tahu). Karena hanya satu kemungkinan, jadi untuk saat ini pencarian tersebut memang didasari oleh sifat dasar kita, memiliki rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut, jika ingin memperoleh jawaban yang mendekati kebenaran, tentunya dengan ilmu, dan ilmu yang tepat adalah sosiologi (mungkin sosiologi, muncul dari pertanyaan seperti itu: apa yang mendasari orang-orang ‘bergerak’ ?).

Sampai di sini dulu,, terima kasih karena telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan dalam blog ini !

Senin, 05 Mei 2014

Perubahan Paradigma

Sumber gambar: University of Harvard

Ada banyak pengertian paradigma menurut para ahli. Tapi katanya, paradigma itu berasal dari bahasa Yunani, digunakan dalam istilah ilmiah. Saat ini, kata paradigma digunakan secara umum. Mengutip sebuah defenisi, seperti halnya defenisi paradigma, haruslah dengan cara berfikir historis yaitu dengan mencari asal kata tersebut untuk menghormati orang yang telah menemukan kata tersebut. Tapi, untuk tujuan tulisan ini, maka dalam tulisan ini paradigma didefenisikan sebagai gambaran tentang dunia.

Teringat dengan Oprah Winfrey yang mengatakan bahwa untuk merubah kehidupan kita, maka kita harus merubah sikap kita. Hal tersebut memang benar, tapi Stephen R Covey mengatakan hal yang paling mendasar dalam kehidupan kita adalah paradigma. Oleh karena itu, untuk merubah kehidupan kita, maka hal yang harus dirubah adalah paradigma. Paradigma adalah dasar dari sebuah sikap atau tindakan. Inilah yang menggerakkan kita. Inilah yang membuat kita menyalahkan kondisi saat kita dalam kesulitan. Inilah yang membuat kita proaktif ketika kita dalam kesulitan. 

Tiap orang memiliki paradigma yang berbeda-beda terhadap dunia. Hal tersebutlah yang unik dari hidup ini. Kita boleh berbeda paradigma akan tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa paradigma sayalah yang benar. Kita hanya dapat mempertahankan paradigma kita dengan tetap terbuka terhadap paradigma orang lain.

Ada sebuah fakta yang unik mengenai paradigma. Fakta ini terjadi pada abad pertengahan, mengenai penyakit. Pada kala itu, orang-orang memiliki paradigma bahwa penyebab penyakit berada di dalam darah. Oleh karena itu, jika seseorang menderita sebuah penyakit, maka keluarkan darahnya dengan cara disedot. Bagaimanakah jadinya jika paradigma tersebut masih digunakan hingga abad ini. Bagaimanakah jadinya jika darah di dalam tubuh terlalu banyak disedot. Masa setelahnya, paradigma mengenai penyakit berubah melalui sebuah penemuan ilmiah. Penyebab penyakit adalah kuman. Paradigma tersebutlah yang mengubah tindakan para dokter dalam menangani pasiennya. Para dokter tidak lagi menyedot darah jika seseorang sakit.

Hal tersebut diistilahkan dengan perubahan paradigma oleh Thomas Kuhn. Ia memperlihatkan bahwa hampir setiap penemuan penting (seperti halnya penemuan kuman di atas) berawal dari pemutusan terhadap paradigma lama. Mari kita mengambil sebuah contoh lagi pada masa kejayaan Kristen. Pada masa berkuasanya gereja terhadap sebuah negara. Sebelumnya, paradigma terhadap alam semesta adalah pusat alam semesta adalah bumi. Namun, timbul paradigma baru yang diciptakan oleh Copernicus. Ia mengatakan bahwa pusat alam semesta adalah matahari. Paradigma baru tersebut membuat ia dihukum oleh pemerintah. Fakta tersebut menandakan bahwa paradigma adalah suatu hal yang kuat.

Perubahan paradigma dapat mengarahkan kita ke arah positif atau negatif. Seperti halnya jika kita memiliki paradigma bahwa yang menyebabkan kondisi saya seperti sekarang ini adalah orang tuaku yang tidak mendidikku dengan baik, atau yang menyebabkan kondisi kita seperti sekarang ini adalah karena pemerintah yang tidak bijaksana dalam menerapkan keputusan-keputusannya. Melalui paradigma tersebut, kita akan terus dirasuki dengan fikiran negatif, akan terus menyalahkan kondisi, menyalahkan apa yang ada di luar diri kita tanpa lupa untuk berbenah diri. Namun jika kita memiliki paradigma bahwa kita sendirilah yang harus bertanggung jawab terhadap fikiran dan perasaan kita, maka kita tidak akan menyalahkan apa yang berada di luar diri kita. Kita tidak akan menyalahkan kondisi. Kita akan bersikap proaktif bukan reaktif.

Perubahan paradigma dapat terjadi secara spontan atau bertahap. Sebagai contoh perubahan paradigma secara spontan adalah penerapan hukum Islam. Jika seseorang dipergok mencuri, maka tangannya akan dipotong, dan hal tersebut dipertontonkan di depan umum. Hal tersebut besar kemungkinan akan secara langsung (spontan) merubah paradigma si pelaku, dan juga orang-orang yang menyaksikan hukuman tersebut, bahwa mencuri itu tidak baik. Tapi hal tersebut tidak akan terjadi karena negara kita mengadopsi hukum dari Belanda, hukum penjara. Saya sendiri juga sepertinya memilih menjadi kura-kura yang bersembunyi di dalam tempurung (pura-pura tidak tau) terhadap hukum Islam ini. Saya sendiri juga mual jika melanjutkan tulisan ini membahas mengenai hukum Islam terhadap orang-orang yang berbuat kriminal. Oleh karena itu, mari kita ganti topik (lanjut).

Menggambarkan perubahan paradigma secara bertahap, terdapat sebuah istilah: kontinum kematangan. Kontinum kematangan, menggambarkan proses dari paradigma ketergantungan ke paradigma kemandirian lalu ke paradigma kesalingtergantungan. Pada awalnya, kita bergantung terhadap orang lain akan kehidupan kita. Masa itu adalah pada saat kita bayi. Tanpa orang tua, kita tidak akan bertahan lama untuk hidup. Seiring bertumbuhnya kita, secara psikologi, emosi dan fisik, kita mulai sadar bahwa kitalah yang harus bertanggung jawab atas fikiran dan perasaan kita, kita sendirilah yang harus bertanggungjawab atas kehidupan kita. Oleh karena itu, kita mulai untuk mencari nafkah sendiri, mencuci baju sendiri, memasak sendiri, dan semuanya serba sendiri. Setelah masa itu, kita bertumbuh dewasa, menjadi matang, mulai sadar akan hukum alam, hukum kausalitas. Hukum tersebut juga berlaku terhadap hubungan antar manusia. Jika kita bertindak sesuatu pasti akan menghasilkan dampak atau akibat terhadap orang lain. Kita mulai sadar, bahwa kita membutuhkan orang lain dan orang lain juga membutuhkan kita untuk saling bekerja sama, agar hasil yang kita peroleh dapat lebih maksimal dibandingkan jika kita sendiri.

Ada pepatah yang berbunyi: “Cara terbaik untuk belajar adalah mengajar”. Tulisan ini adalah berdasarkan pada hasil belajar penulis terhadap buku yang berjudul “The 7 Habits of Highly Effective People”, yang baru penulis baca sampai pada kebiasaan 1: Jadilah Proaktif. Oleh karena itu, tulisan ini merupakan proses pembelajaran penulis. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Jumat, 25 April 2014

Masalah Kita

Sebuah Playstation, awal dari kesadaranku bahwa teknologi telah berkembang. Saat itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Orang tuaku membeli sebuah Playstation 1 buat saya dan saudara(i)ku di rumah. Saat itu, Playstation adalah sebuah teknologi yang populer di lingkungan tempatku tinggal.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Playstation adalah sebuah teknologi untuk hiburan. Berbagai permainan dapat dimainkan dengan Playstation, seperti permainan bertemakan adventure (seperti: Legend of Legaia, Suikoden, Final Fantasy), action (seperti: Delta Force, Fighting Force, Medal of Honor), fighting (seperti: Guilty Gear, Bloody Roar, Tekken), dan tema-tema lainnya. Hal tersebut tentunya sangat menarik dan menghibur. Namun, dampak buruknya lebih besar. Saya masih ingat perkataan ayahku: “Jangan sampai diperbudak oleh teknologi !”. Perkataan ayahku itu ada benarnya. Saya melihat orang-orang duduk berjam-jam di depan Playstation, karena mereka memang telah diperbudak oleh teknologi, dan salah satu dari mereka adalah saya. Masa kepopuleran Playstation itulah awal dari kesadaranku bahwa memang teknologi telah berkembang.

Tidak hanya Playstation, dalam dunia publikasi, teknologi juga telah mengalami perkembangan. Saya masih ingat, ketika itu saya masih berada di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu adalah masa kepopuleran internet yang disediakan oleh warung-warung yang dikenal dengan istilah warung internet atau warnet. Namun, lagi-lagi dampak buruk teknologi lebih besar bahkan sangat mengkhawatirkan. Memang, dengan internet kita dapat terhubung dengan orang-orang dari berbagai budaya, berbagai bahasa, bahkan untuk mencari jodoh. Namun dengan internet, akses terhadap pornografi menjadi mudah.

Orang-orang menjadi mudah mengakses pornografi, bahkan tanpa dicari sekalipun. Pada situs-situs bertemakan download gratis juga pornografi dapat terakses. Pada situs tersebut, saat kita mengklik tombol download, terkadang kita dialihkan (redirecting) secara otomatis ke sebuah halaman yang bergambar porno. Kemudahan akses pornografi tersebut menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan, utamanya pada anak-anak, dan kekhawatiran tersebut telah menjadi realita.

Mengutip dari sebuah buku yang berjudul “Nikah”, terdapat sekumpulan anak-anak berumuran kelas 4 – 6 SD yang didampingi oleh para konselor remaja. Tujuan dari pendampingan tersebut adalah untuk membantu anak-anak tersebut menghadapi masa-masa pubertasnya. Namun sungguh mengejutkan tatkala mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Saya masih ingat sewaktu masih kecil dulu (seperti mereka), yang menjadi topik bahasan saat berkumpul dengan teman-teman adalah permainan-permainan dalam Playstation, film-film kartun, dan sedikit soal pelajaran. Namun pertanyaan-pertanyaan yang anak-anak tersebut ajukan kepada para konselor remaja sungguh mengejutkan. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan adalah: “Bagaimana cara ngesex yang baik ?”, “Berapa kali seminggu dalam melakukan sex ?”, “Puaskah memakai alat kontrasepsi ?”, “Bagaimana memasukkan penis yang baik dan benar ?”, “Bagaimana melayani cewek yang gila sex ?”. Fenomena tersebut adalah akibat dari mudahnya akses terhadap pornografi. Kemudahan akses pornografi telah menjadi masalah yang serius hingga saat ini.

Memang, hawa nafsu seks adalah naluri dasar manusia. Namun, beriringan dengan hal tersebut, kita juga diberi akal agar tidak melampaui batas. Mengutip perkataan Prof.Dr.Mutjaba Musawi Lari yang mengatakan bahwa: “Di awal kehidupan ini, setiap orang meyakini dalam hatinya bahwa kesucian dan penahanan hawa-nafsu dalam hal seks memiliki nilai moral tersendiri dan pelampauan nilai moral tersebut akan menyebabkan degradasi moral. Namun kebenaran ini perlahan-lahan telah dilupakan atau bahkan sengaja dimusnahkan dari keyakinan hati nurani manusia dengan cara berbagai perusakan”. Degradasi moral yang dimaksud tersebut telah terbukti di negara-negara barat. Negara-negara barat yang menganut paham liberal, paham yang mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, telah mengalami degradasi moral. Negara-negara tersebut adalah negara maju dalam hal teknologi dan sains, namun banyak penyimpangan seksual yang terjadi. Mengutip data dari sebuah buku dikatakan bahwa: “Data statistik tahun 1957 menunjukkan bahwa angka kelahiran di luar nikah di AS sebanyak 200.000 kelahiran. Dalam waktu dua puluh tahun, meningkat sebesar 5%” (Jurnal Teheran dalam Musawi Lari, 2010: 62-63). Fenomena selanjutnya, “Angka aborsi setiap tahunnya di AS lebih dari 1.000.000. Sebanyak 65% dari total seluruhnya disebabkan hubungan bebas di luar ikatakan perkawinan dan 50% di antaranya dikarenakan masih gadis belasan tahun yang belum menikah” (Black, White No.380 dalam Ibid, hlm.63). Hal tersebut menandakan bahwa perkembangan teknologi tidak berbanding lurus dengan peningkatan moral.

Mengenai hal tersebut, Stephen R Covey dalam bukunya yang berjudul “The 8th Habbit” mengatakan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, bukan penemuan-penemuan teknologi yang akan mengisi sejarah kita, namun lebih kepada perubahan dalam hal moralitas. Jika melihat perkembangan kita, maka perkembangan dalam hal teknologi dapat dikatakan perkembangan yang sungguh mengagumkan sehingga patut tertulis dalam catatan sejarah kita. Sebagai contoh: telepon genggam (HP). Sebelum adanya HP, orang-orang menulis surat kemudian mengirimnya dengan menggunakan jasa kantor pos sehingga untuk sampai ke tujuan, kita harus menunggu relatif lama. Namun setelah ditemukannya HP, untuk mengirim surat, kita hanya cukup dengan mengirim SMS ke alamat tujuan yang hanya membutuhkan waktu singkat untuk pesan tersebut sampai ke penerima. Contoh lain adalah komputer mobile (laptop). Sebelum adanya laptop, kita hanya dapat bekerja (mengetik) di rumah, namun dengan adanya laptop, kita telah dapat bekerja (mengetik) secara mobile (seperti halnya kita dapat menginput data di lapangan). Perkembangan teknologi tersebut patut tertulis dalam sejarah kita, akan tetapi karena sangat terasanya perubahan moral, maka sejarah perkembangan teknologi tersebut ditenggelamkan oleh sejarah perubahan moral.

Mengutip perkataan Dr. Randall F.Hyde, Ph.D, seorang psikolog senior Amerika: “Percayalah pornografi adalah suatu bencana yang kami sendiri keteteran. Negara kami dapat mempersiapkan perang, dengan senjata dan tentara. Negara kami bisa menghadapi penyakit dengan temuan obat-obat dengan penelitian ilmuwan kami. Tapi untuk pornografi, percayalah, pada awalnya kami tidak siap dan tidak tahu cara apa yang harus dilakukan untuk melawannya”. Perkataan psikolog senior Amerika tersebut menekankan bahwa pornografi memang adalah masalah serius. Banyak dampak negatif yang diakibatkan olehnya. Dalam beberapa artikel di website-website yang membahas soal pornografi, dijelaskan secara rinci dampak buruk pornografi. Berdasarkan artikel-artikel tersebut, pornografi akan berdampak pada hormon Dopamine, hormon Neuropiniphrin, hormon Serotonin, dan hormon Oksitosin yang terdapat dalam tubuh. Ketika hormon-hormon tersebut telah terjangkit oleh pornografi, maka kemungkinan besar akan terjadi penyimpangan seksual, sesuai dengan tujuan (produk akhir) dari pornografi.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah ingin menyampaikan bahwa perkembangan atau kemajuan teknologi tidak berbanding lurus dengan peningkatan moral. Walaupun negara-negara maju (seperti AS) telah mengalami kemajuan teknologi, namun perkembangan/ kemajuan tersebut tidak memberi efek terhadap moral, bahkan menurunkan moralitas penggunanya. Kita dapat menarik nafas legah, karena hal tersebut hanya terjadi di negara-negara maju, tidak di negara-negara berkembang seperti negara kita, Indonesia.

Senin, 02 April 2012

Teori Pengaruh Pikiran Terhadap Hasil Pencapaian

Sumber foto: www.backgroundsppt.net

Saya mengapresiasi teori ini. Teori ini adalah dari Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya yang berjudul "Terapi Positive Thinking". Teori ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Berfikir
V
Perhatian
V
Perasaan
V
Tindakan
V
Hasil:
Negatif/ Positif


Hasil yang dicapai berawal dari pemikiran atau kegiatan berfikir. Dari kegiatan berfikir, kemudian otak akan memberikan perhatian (fokus) terhadap yang difikirkan. Setelah itu, muncullah perasaan terhadap yang difokuskan. Perasaan tersebut kemudian menjadi bahan bakar (penggerak) tubuh, yang menggerakkan tubuh untuk melakukan tindakan. Dari tindakan itulah, hasil diperoleh. Tidak peduli apakah pemikiran awalnya adalah positif ataupun negatif.
Jika pemikiran awal adalah negatif, maka hasilnya negatif. Dengan hasil tersebut, maka pikiran negatif akan bertambah kuat, sehingga menghasilkan hasil yang negatif lagi. Proses ini akan terus berulang, sampai pola pikir dirubah. Hal ini sejalan dengan Firman Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d: 11).

Di samping itu, jika pemikiran awal adalah positif, maka hasilnya adalah positif. Dengan hasil tersebut, maka fikiran positif akan bertambah kuat, sehingga menghasilkan hasil yang positif lagi. Proses ini akan terus berulang. Dan tentu saja, dengan itu kebahagiaan akan dirasakan. Namun, proses tersebut tidak selamanya seperti itu. Seperti halnya pemikiran negatif yang dapat berubah. Pemikiran positif pun dapat berubah. Faktor yang merubah pikiran positif berbeda dengan faktor yang merubah pikiran negatif. Jika faktor yang merubah pikiran negatif adalah faktor internal yaitu diri sendiri, maka faktor yang merubah pikiran positif adalah kebalikannya; faktor eksternal, yaitu orang lain.
Jika orang mengatakan sesuatu hal yang negatif tentang diri kita, kemudian kita mempercayainya atau menafsirkannya sebagai hal yang negatif, maka fikiran kita akan bergeser dari positif ke negatif. Perkataan tersebut didukung oleh pernyataan Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul “Social Intelligence” yang mengatakan bahwa: orang yang lebih kuat emosinya akan menularkan emosinya ke orang yang lebih lemah emosinya.