Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Minggu, 01 Desember 2013

Biohazard (Bahaya Biologi)

Logo Biohazard

Biohazard adalah singkatan dari Biological Hazard yang berarti bahaya biologi. Istilah ini teristimewa hanya pada virus-virus yang tingkat bahayanya level 4.

Virus sendiri adalah mikroorganisme yang termasuk dalam golongan parasit, yaitu mikroorganisme yang hanya dapat hidup pada organisme lain. Pada awalnya virus menempel di membran (dinding) sel, lalu menembus masuk ke dalam sel kemudian menggandakan dirinya, dan akhirnya sel pun pecah. Jika kita meniup balon udara hingga udara yang di dalam balon itu berlebihan, maka balon itu akan pecah. Seperti itulah kira-kira cara kerja virus. Setelah virus-virus telah memecahkan sebuah sel, mereka beralih ke sel-sel lainnya, masuk ke dalamnya, kemudian memecahkannya lagi. Begitu seterusnya hingga suatu organisme kekurangan sel untuk hidup, termasuk manusia. 

Virus-virus yang diberi label biohazard adalah virus-virus yang penggandaannya sangat cepat. Ketika terdapat sebuah lubang atau irisan di kulit kita, virus itu dapat masuk melalui lubang atau irisan tersebut, kemudian berkembang biak.

Virus berlabel biohazard adalah virus yang tergolong sangat berbahaya, lebih berbahaya dari virus HIV yang tingkat bahayanya level 2. Virus HIV butuh waktu lama, yaitu 10 tahun untuk membunuh suatu organisme (manusia). Sedangkan virus level 4 hanya butuh waktu dua minggu. Penginfeksian virus level 4 tidak hanya melalui kulit yang teriris atau berlubang saja, tapi juga dapat melalui udara. Hal tersebut berdasarkan hasil penelitian. 

Di sebuah laboratorium, terdapat dua kelompok kera yang dimasukkan di dalam kandang yang terpisah. Jarak antara kedua kelompok kera tersebut tidak dekat juga tidak jauh. Kelompok kera pertama adalah yang telah terinfeksi virus level 4, sedangkan kelompok kera kedua adalah yang tidak terinfeksi. Kera-kera kelompok pertama, semuanya mati dan kelompok kedua pada awalnya masih baik-baik saja. Akan tetapi hal yang mengejutkan kemudian terjadi. Beberapa waktu setelah kematian kera-kera kelompok pertama, kera-kera kelompok ke dua juga ikut menyusul kematiannya.

Kesimpulan yang ditarik dari hasil penelitian tersebut adalah muntah yang dikeluarkan oleh kera-kera kelompok pertama, partikelnya terbawa oleh udara, kemudian dihirup oleh kera-kera kelompok kedua. Hal tersebut berarti virus level 4 dapat menyebar melalui udara dan penginfeksiannya melalui saluran pernafasan. 

Salah satu kasus mengenai penginfeksian virus level 4 telah terjadi di Afrika Tengah, di sebuah gunung yang bernama Gunung Elgon, yang terdapat dalam kawasan hutan hujan. Di lereng gunung tersebut terdapat sebuah gua bernama Gua Kitum. Seperti gua-gua pada umumnya. Dalam gua tersebut terdapat hewan seperti serangga dan kelelawar.

Seorang laki-laki berumur 50-an sedang berlibur ke gua itu bersama seorang teman wanitanya. Ketika memasuki gua, laki-laki itu menginjak kotoran hewan yang bertebaran di lantai gua. Kotoran tersebut berwarna hijau. Itu adalah kotoran kelelawar pemakan tumbuhan. Laki-laki tersebut terus masuk ke dalam gua dan menginjak kotoran hewan lagi, tapi warnanya berbeda, yakni berwarna hitam. Itu adalah kotoran kelelawar pemakan serangga. Karena penasaran, dia menyentuh kotoran itu.

Beberapa hari setelah liburannya, dia merasakan mual-mual, kemudian muntah-muntah. Selanjutnya muncul bintik-bintik merah di kulitnya. Matanya memerah. Kulit wajahnya seakan ingin terlepas dari wajahnya. Wajahnya menjadi terlihat seperti tak dapat mengeluarkan ekspresi apapun. Ia kemudian membawa dirinya ke rumah sakit yang terkenal. Di rumah sakit itu ia ditangani oleh seorang dokter ahli. Sewaktu ditangani, laki-laki itu memuntahi dokter yang menanganinya, tapi dokter itu mengabaikannya. Dalam proses pengobatan, laki-laki itu tidak terselamatkan. Beberapa hari setelah kematian pasien itu, dokter yang menanganinya kemudian merasakan hal yang serupa. Dokter itu pun hampir menerima ajalnya namun ia tertolong, sehingga ia termasuk orang yang beruntung karena dapat selamat dari virus tersebut.

Ciri-ciri jika seseorang terinfeksi virus level 4 adalah muncul bintik-bintik merah di kulit, wajah menjadi tak berekspresi dan kulit wajah seakan ingin terlepas; muntah-muntah yang berwarna hitam, mata memerah, perilaku berubah seakan orang yang terinfeksi itu sudah gila. Tidak hanya itu, jika kulit tergesek, maka kulit akan terkelupas. Kulit menjadi lembek seperti bubur, dan ciri-ciri yang mungkin paling parah dari semuanya adalah keluarnya darah dari seluruh lubang alami tubuh.

Setelah mayat laki-laki yang meninggal akibat virus level 4 itu diautopsi, didapatkan hasil bahwa hati, ginjal, dan organ-organ lainnya telah mati 3 hari sebelum kematiannya. Laki-laki itu telah mati 3 hari sebelum kematiannya. Virus level 4 inilah yang mungkin menjadi inspirasi dari film Resident Evil.

Virus yang termasuk dalam virus level 4 adalah virus Ebola Sudan, Ebola Zaire dan Marburg. Masing-masing dari virus itu diambil dari nama tempat ditemukannya. Virus Marburg ditemukan di sebuah tempat di Jerman dan virus Ebola ditemukan di sebuah sungai di Afrika Tengah. Dari tingkat bahayanya, virus Ebola Zaire adalah virus yang paling ganas. Dari keseluruhan populasi manusia yang terinfeksi virus Ebola Zaire, maka 90% yang akan mati. Itu artinya jika 10 orang yang terinfeksi virus Ebola Zaire, maka kemungkinan yang dapat bertahan hidup hanya 1 orang. Selanjutnya adalah Ebola Sudan, lalu Marburg.

Virus golongan Marburg (Ebola Zaire, Ebola Sudan dan Marburg) berbentuk seperti benang namun hanya butuh lima partikel (dari jenis Ebola) yang masuk ke dalam tubuh untuk dapat membunuh suatu organisme. Tapi akan sangat beruntung jika kita dapat melihat virus itu dengan mata kita sendiri. Hanya cukup dengan pembesaran 112.000 kali dari mikroskop untuk melihat virus itu berukuran sebesar jari kelingking orang dewasa.

Virus level 4 amannya hanya dapat didekati dengan menggunakan pakaian anti kuman, dan pakaian itu tentunya disediakan dalam laboratorium yang meneliti virus level 4. Untuk memasuki ruangan tempat penelitian virus level 4, seseorang terlebih dahulu harus melewati ruangan-ruangan level sebelumnya, yaitu 0, 2, dan 3. Istilah untuk ruangan level 4 atau area yang terdapat virus level 4 adalah hot zone. Ruangan 0 adalah tempat ganti pakaian. Seluruh pakaian harus dilepas termasuk pakaian dalam kemudian menggunakan satu set pakaian bedah (scrub suit), yang terdiri dari baju, celana, topi, masker serta kaus tangan. Pakaian bedah adalah pakaian yang berwarna hijau, yang umumnya dipakai para dokter untuk melakukan suatu tindakan operasi. Setelah pakaian bedah dipakai, kita baru dapat menuju ke ruangan level 2. Di ruangan level 2, cahaya ultra ungu memancar ke badan. Cahaya itu berfungsi untuk membunuh virus. Dalam ruangan level 2 itu juga tekanan udara mulai berbeda. Tekanan udara tidak mengarah ke luar ruangan, tetapi ke dalam ruangan. Hal tersebut berfungsi untuk mencegah agar virus tidak keluar ruangan bila terjadi kebocoran virus (virus keluar dari tempatnya). Selanjutnya masuk ke ruangan level 3. Ruangan level 3 merupakan ruangan persiapan (staging area) untuk masuk ke dalam ruangan level 4. Dalam ruangan itulah tersedia pakaian anti kuman. Pakaian anti kuman itu sendiri bernama Chemturion biological space suit (pakaian anti kuman Chemturion), mirip pakaian yang dipakai oleh para astronot untuk ke luar angkasa. Sebelum masuk ke ruangan level 4, terlebih dahulu kita harus melalui area kelabu (gray area). Area kelabu adalah area penghubung antara hot zone dengan area normal. Mungkin seperti halnya air payau, area perbatasan antara air laut dengan air sungai. Setelah itu, kita akan berhadapan dengan pintu dengan simbol biohazard. Setelah melewati rangkaian prosedur tersebut, maka seseorang telah dapat melihat virus level 4 secara langsung.

Menurut teori, virus Ebola dapat menyebar hingga ke seluruh permukaan bumi. Hal tersebut jika dibayangkan tentunya mengerikan. Tapi untuk meredam rasa tersebut, di sinilah mungkin saat yang tepat untuk mengatakan: “Itu hanyalah teori”. Seorang dokter yang meneliti virus Ebola mengatakan dalam candanya bahwa virus Ebola juga ada gunanya. Mereka dapat menekan laju pertumbuhan penduduk. Dari perkataannya itu yang dimaksud dengan menekan adalah penyebaran virus Ebola yang terjadi secara alami. Ke depannya juga, virus ini tidak menutup kemungkinan digunakan dalam peperangan, dalam dunia kemiliteran. Alasannya adalah karena virus Ebola merupakan ‘senjata’ pemusnah manusia yang efektif. Ilmu pengetahuan disertai nurani adalah hal yang baik. Akan tetapi ilmu pengetahuan tanpa nurani adalah sebuah bencana.

Jumat, 08 November 2013

Sebuah Cerpen: BELAJARLAH UNTUK MENDENGARKAN

 
sumber gambar: galery-lukisan.blogspot.com
Zaman dahulu, terdapat sebuah perguruan bela diri yang terletak di daerah pegunungan. Dalam perguruan itu terdapat fasilitas-fasilitas hunian: kamar tidur, ruang makan, dapur, dan tempat cuci pakaian, yang disediakan untuk murid-murid. Dalam perguruan itu, murid-murid dikarantina dengan tujuan dihasilkannya murid-murid yang berkualitas. Latihan diadakan tiga kali sehari: pagi, sore dan malam. Pagi adalah latihan untuk meningkatkan kekuatan (power), sore adalah latihan untuk meningkatkan kecepatan (speed), dan malam adalah latihan untuk mengembangkan teknik (techniques) bertarung. Inti dari semuanya adalah power, speed, techniques. Akan tetapi latihan dapat dikatakan tidak hanya di tiga waktu itu saja, melainkan latihan adalah di setiap saat. Semua murid, pada kedua tangan dan kedua kakinya dipasangkan pemberat, masing-masing 10 Kg, total berat 40 kg. Pemberat itu tidak boleh dilepas, baik itu di waktu latihan maupun di saat bukan waktu latihan. Mencuci, makan, tidur, harus memakai pemberat itu. Jika melepas pemberat itu, murid dianggap gagal, dan dikeluarkan dari perguruan. Kedisiplinan sangat ditekankan dalam perguruan ini.

Seorang murid yang tergolong unik dalam perguruan itu merasa berberat hati dengan pemberat itu. Ia selalu bertanya-tanya dalam hati: “mengapa pemberat ini tidak boleh dilepas !?”. Murid-murid yang telah dikarantina dan kemudian diikutkan dalam turnamen, kabarnya hanya sampai ke gurunya. Kabar mereka terputus sampai di situ. Murid-murid dikarantina harus menggunakan pemberat selama dua tahun, karena turnamen diadakan sekali dalam dua tahun. Turnamen itu bernama Turnamen Arsipelago, yang diambil dari bentuk kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau yang tersebar tidak beraturan. Perguruan-perguruan yang terdapat dalam kepulauan tidak hanya perguruan itu. Terdapat juga perguruan-perguruan lain. Dalam sebuah pulau terkadang terdapat dua, tiga, ataupun empat perguruan. Pulau tempat perguruan itu berada sendiri, hanya ada satu perguruan.

Latihan di waktu sore hari tiba. Di saat murid yang unik itu sudah merasa sangat tersiksa dengan pemberat di kedua tangan dan kakinya, ia melontarkan pertanyaan kepada gurunya: “mengapa pemberat ini tidak boleh dilepas, padahal ini adalah waktu untuk melatih kecepatan !?”. Suasana pun menjadi hening, murid-murid lain terdiam. Guru lalu menantang murid itu untuk bertarung, dan dengan percaya diri murid pun menerima tantangan itu. Selang beberapa detik, murid itu terhempas ke permukaan tanah. Ia lalu mengatakan: “aku kalah karena pemberat ini !”. Guru itu lalu menantangnya lagi dan murid pun bertanya: “apakah aku dapat melepas pemberat ini ?”. Guru: “tidak”. Dengan emosi yang meningkat, murid itu menerima tantangannya. Kurang dari waktu pertarungan sebelumnya, ia terhempas lagi ke permukaan tanah. Pertarungan itu sekaligus mengakhiri latihan pada sore itu. Murid itupun dengan perasaan kesal meninggalkan tempat latihan. Setelah itu, di waktu istirahat setelah latihan di malam hari, dia merenung-renung, gelisah, memikirkan turnamen yang sudah semakin dekat. Dia tidak mengenal sedikitpun lawannya. Dia tidak mengetahui sedikitpun bagaimana latihan yang telah dijalani orang-orang yang akan menjadi lawannya di turnamen nanti.

Turnamen sudah semakin dekat. Hanya beberapa di antara murid-murid yang diikutkan, dan salah satunya adalah murid yang unik itu. Porsi latihan mereka ditingkatkan, yang sebelumnya selama tiga jam, kini empat jam. Sehingga total waktu latihan adalah 12 jam. Murid yang unik itu sanggup menjalani latihan hingga pada akhirnya tiba turnamen. Mereka yang terpilih, berangkat bersama gurunya ke pulau tempat diadakannya turnamen. Selama turnamen, di perguruan itu yang melatih adalah asisten guru. Murid-murid dari seluruh perguruan berkumpul di pulau tempat diadakannya turnamen. Di pulau itu disediakan sebuah tempat penginapan untuk para peserta yang akan mengikuti turnamen. Turnamen dimulai dua hari setelah para peserta dari pulau-pulau telah berkumpul, karena satu hari digunakan untuk menyusun jadwal turnamen, dan satu hari digunakan untuk beristirahat. Malam hari sehari sebelum turnamen, jadwal telah berada di tangan para peserta. Murid yang unik itu mendapat giliran pada siang hari, sedangkan teman yang lainnya pada pagi, sore dan malam hari.

Turnamen pun dimulai, kini tiba giliran murid yang unik itu untuk bertarung. Melihat lawannya, rasa takut pun menyebar ke seluruh tubuhnya. Lawannya itu lebih tinggi dari dia, otot-ototnya sungguh mengerikan, ditambah lagi raut wajahnya yang menggambarkan hasrat untuk membunuh. Sepertinya dia dilatih untuk membunuh. Dia lalu mengatakan kepada gurunya: “guru, saya takut menghadapi lawanku”. Gurunya lalu mengatakan: “semua orang pernah mengalami rasa takut. Jika kau dapat mengalahkan rasa takutmu, maka kau adalah pemberani. Akan tetapi jika kau memang benar-benar merasa takut dengan lawanmu itu, maka tidak apa-apa jika kau mentolerir rasa takutmu itu. Mungkin dapat dengan cara jangan menatap matanya, cukup dengan memperhatikan gerak-geriknya saja”. Murid itu pun lalu menarik nafas yang panjang lalu menghembuskannya. Dahinya lalu berkerut dan kembali berkata kepada gurunya: “guru, saya masih merasa takut”. Gurunya pun sambil tersenyum berkata: “silahkan buka pemberatmu”. Murid itupun lalu tersentak, berdebar-debar, akhirnya dia bisa membuka pemberatnya itu, setelah dua tahun lamanya. Rasa takut yang telah dirasakannya kini telah terabaikan. Murid itu pun melepaskan pemberatnya. Ia lalu berjalan menuju ke tengah-tengah arena. Saat berjalan dia merasa seperti kaki dan tangannya tidak ada. Kaki dan tangannya terasa sangat ringan dibawanya. Dia pun berkata dalam hati: “inikah tujuan kami diberi pemberat selama dua tahun lamanya ?”. Kekuatan kini menyebar ke seluruh tubuhnya.

Wasit mengangkat tangan ke atas, keduanya memasang kuda-kuda, pertarungan pun dimulai. Lawannya melepaskan tendangan ke arahnya, saat itupun dia menghindar dan membaca gerakan lawannya. Setelah kakinya sampai ke tanah, lawan melancarkan lagi tinju ke arahnya dan dia menghindar dan dapat membaca gerakannya lagi. Lawannya itu terheran-heran dengan kecepatan murid itu. Pertarungan pun berlangsung selama beberapa menit, dan murid itu belum juga menyerang, melainkan hanya menghindar. Beberapa menit yang telah berlalu itu digunakannya untuk membaca gerakan lawannya. Lawannya itu gerakannya tidak cepat, tidak memiliki teknik, dia hanya mengandalkan kekuatan. Dia kurang bisa menggunakan kaki kirinya, dia lebih sering menggunakan kaki tangannya. Saat kaki kanannya berada di belakang, maka itu yang akan digunakan untuk menendang. Saat kaki kirinya berada di belakang, maka kaki kanannya pula yang digunakan untuk menendang. “Saat badannya sedikit membungkuk, itu artinya ia akan melancarkan tinju ke arah wajahku”. Untuk melancarkan tendangan, mengangkat kaki dari tanah ke arahku, ia membutuhkan waktu sekitar satu detik dan tidak ada keseimbangan pada saat itu. “Akan tetapi, jika saya terkena serangannya satu kali saja, maka itu adalah hal yang gawat bagi saya”. “Kini saatnya menyerang !”. Sadar akan kelebihan kecepatan yang dimilikinya, ia memasang kuda-kuda kaki kanan di depan saat melihat lawannya itu memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di depan dan badannya tidak membungkuk. Saat sudah melihat tumit kanan lawannya mulai terangkat, dia langsung melancarkan tendangan ke arah rusuk lawannya, dia pun memperoleh satu poin. Wasit memisahkan mereka, lalu memberi aba-aba lagi untuk memulai. Saat itu lagi-lagi tendangan dilancarkan ke rusuk lawannya itu dan dia mendapatkan satu poin lagi. Kemudian lawannya lalu memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di belakang dan tidak membungkuk, karena itu murid itu memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di depan dengan maksud untuk menjatuhkan lawannya itu ke tanah. Saat lawannya melancarkan tendangan ke arahnya, ia lalu mengangkat kaki kanannya lalu dengan cepat menempelkan kakinya ke dada lawannya kemudian mendorongnya. Lawannya itu lalu kehilangan keseimbangan, tendangpun lalu dilancarkan lagi. Tendangan itu bagaikan sebuah cangkul menyerang dada lawannya, dan lawannya pun terjatuh ke tanah, murid itu pun mendapatkan satu poin lagi, dan memenangkan permainan.

Selama turnamen, dia berhadapan dengan berbagai macam orang. Ada yang kecepatannya lebih dari dia, yang teknik bertarungnya sangat mengagumkan, yang sangat cerdik, yang semangat bertarungnya sangat besar dan yang menjadi lawan terakhirnya adalah yang lebih hebat dari dia. Dalam hal power, speed dan techniques, murid itu dikalahkan. Akan tetapi dengan arahan dari gurunya, dia pada akhirnya dapat memenangkan permainan, dan turnamen. Dia mendapatkan juara pertama dalam turnamen itu. Piala, medali serta uang pun diberi kepada murid itu yang memang berhak didapatkannya karena perjuangan yang telah dilakukannya. Seluruh peserta pun kembali ke perguruannya masing-masing, begitupun dengan murid-murid dari perguruan itu. Perjalan dari pulau tempat diadakan turnamen ke tempat perguruannya membutuhkan waktu tiga jam.

Sesampainya di tempat perguruan, orang-orang bersorak-sorak gembira atas nama baik yang dibawa oleh murid-murid yang pulang dari turnamen. Kini tiba saatnya pelepasan. Murid-murid yang tidak ikut turnamen, diperbolehkan untuk pulang, diperbolehkan pula untuk tinggal, sehingga beberapa di antara mereka ada yang memilih untuk pulang dan juga ada yang memilih untuk tetap tinggal untuk dapat mengikuti turnamen dua tahun ke depan. Suasana saat itu sangat mengharukan. Murid-murid yang telah ikut di turnamen diberi selembar kertas kecil yang baru boleh dibuka saat mereka telah sampai ke daerah asalnya. Masing-masing isi dari kertas kecil itu berbeda-beda untuk tiap-tiap murid. Kertas kecil itu berisi sebuah pelajaran, sebuah pesan yang ditulis berdasarkan perilaku murid-murid itu dalam menjalani latihan selama dua tahun.

Murid yang tergolong unik itu pun sudah berada di atas perahu. Terlintas dalam benaknya untuk membuka kertas kecil itu, akan tetapi dia teringat kata-kata gurunya untuk baru membukanya jika sudah sampai di daerah asal masing-masing. Ia lalu bersandar di sebuah box yang di dalamnya adalah pemberat-pemberatnya. Perjalanan dari perguruan menuju daerah asalnya membutuhka waktu sekitar empat jam. Tak terasa malam sudah tiba dan dia pun sudah sampai di daerah asalnya. Ia lalu mengangkat box yang di dalamnya pemberat-pemberatnya dan membawanya ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, ia lalu merobohkan tubuhnya ke tempat tidur lalu melemaskan badannya. Saat itu pun rasa sakit baru terasa di seluruh tubuhnya. Dengan cahaya bulan yang masuk ke dalam kamarnya, dia melihat luka-luka memar di tangan dan kakinya. Saat itu pun dia merasa bangga terhadap dirinya akan perjuangan yang telah dilakukannya, akan pengorbanan yang telah dilakukannya selama dua tahun, sembari mengatakan: “sepertinya saya butuh istirahat selama seharian”. Saat itu, dia mengambil kertas kecil yang diberikan oleh gurunya dan dengan rasa penasaran membukanya. Dalam kertas itu tertulis sebuah kalimat: “BELAJARLAH UNTUK MENDENGARKAN”. Melihat kalimat itu, murid itu lalu teringat akan semua perilakunya terhadap gurunya, dan pada saat yang bersamaan dia membuka boxnya lalu mengambil pemberat-pemberat yang ada di dalamnya kemudian memajangnya di dinding kamarnya lalu mengatakan: “ini adalah pengalaman hidupku yang paling berkesan, dan yang mungkin tak akan pernah kulupakan”.

Sabtu, 28 September 2013

Sebuah Karangan

sumber gambar: http://pixabay.com

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah buku berjudul Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungannya—editor: Dr. Parsudi Suparlan. Setelah membaca bagian-bagian awal buku itu, saya bertanya-tanya. So what ? Jadi kenapami ? Pada bagian-bagian awal tulisan itu dibahas keutamaan manusia. Pada bagian itu dibahas perbedaan manusia dengan hewan. Manusia itu secara biologis masuk dalam kategori hewan. Keutamaan manusia dibahas panjang lebar, hingga akhirnya saya bosan dan sudah tidak sabar untuk mendapatkan apa yang saya cari. Saya lalu menggunakan teknik membaca cepat, namun walaupun begitu, saya tetap tidak mendapatkan suatu kesimpulan, suatu tujuan tulisan. Di saat yang bersamaan, saya teringat sebuah kalimat di kata pengantar buku itu bahwa buku ini merupakan kumpulan dari berbagai karangan. Fikiranku teralihkan di kata karangan itu. Karangan menurut saya adalah sebuah tulisan yang dibuat tanpa tujuan, atau mungkin tulisan yang dibuat hanya karena mau menulis saja. Itulah yang membuat ide tulisan ini muncul. Tulisan ini dibuat, hanya karena mau menulis saja.

Sehabis sholat Magrib saya punya ide untuk makan pangsit di dekat rumah. Tempat makan itu banyak pelanggannya, sehingga untuk menunggu pesanan, dibutuhkan kesabaran. Menunggu adalah suatu hal yang tidak menyenangkan bagi saya. Sehingga ketika hal itu terjadi saya harus melakukan suatu hal yang lain. Sambil menunggu pesanan saya mengambil yang bisa saya makan dulu di depan meja, dan kebetulan yang ada di depan meja itu lontong dan lombok, ha ha ha..

Pesanan pun datang, saya lalu dengan lahap makan pangsit. Sambil makan, saya melirik sepasang suami-istri dan seorang anaknya. Suami itu memberi istrinya uang, dialog pun terjadi:

Suami: ine! (ini !)
Istri: singkammaji ?! (sebegini ji ?!)
Suami: [silence and keep smile]
Istri: punna singkammaji nusareanga’ namakkalliko manggeku. (kalau sebegini ji yang kau kasi ke saya diketawaiko bapakku)
Suami: [silence, keep smile] dan bakar rokok.
Itulah fenomena sosial. Ada pelajaran yang bisa dipetik dari situ.

Saya mau bahas lagi kepemerintahan pemerintah kota Makassar dalam paragraf ini atau mungkin akan meluas menjadi dua paragraf. Cekidot. Itu pemkot ka bikin emosi juga. Masa’ itu kontener sampah di dekat rumah, besar sekali. Besar dan tinggi. Naanggapki’ barangkali orang barat (yang tinggi-tinggi), itu. Biasa kalau buang sampah ka tidak kubuang di dalam kontener tapi kutaro’ di tanah saja. Memang ia ada untungnya karena dengan kontener sampah yang lebih besar jangka waktu untuk mengangkut kontener itu lebih panjang, sehingga uang solar untuk mobil pengangkut bisa lebih hemat. Tapi, kita cika’, nusessaki’. Itu tukang sampah juga nusessai. Pasalnya, bukan cuma saya yang begitu. Orang lain pun seperti saya. Sehingga tukang sampah itu harus mengangkut sampah-sampah dari tanah ke kontener sampah. Pasti mengeluhki itu tukang sampa ya juga. Saya jadi teringat kata-kata dosen saya: “kalau dalam suatu organisasi, bagian terkecil dari organisasi itu sudah mengeluh, maka organisasi itu ada yang tidak beres”.

Masa ini adalah masa-masa skripsi, bagi saya. Saya mau ‘cepat’ sarjana karena beberapa alasan. Alasan pertama, tinggal dua mami mata kuliah wajibku, jadi untuk apa lagi tinggal-tinggal. Alasan ke dua tuntutan dari PA. Alasan ke tiga tuntutan finansial. Tapi kata cepat mungkin tidak tepat. Karena katanya PA-ku itu periode waktu dibuat maksudnya sebagai tolak ukur kemampuan mahasiswa. Waktu yang selebihnya itu adalah toleransi. Jadi kata cepat jika sarjana pada semester 9 (4 ½ tahun) itu tidak tepat karena memang sudah seharusnyami. Akan tetapi di masa ini fikiran saya teralihkan ke suatu hal yang baru, padahal proposal penelitian sudah harus segerami dikumpul. Oleh karena itu, ini mi besok mauka ke rumahnya temanku kerja BAB I ku. Ha ha ha...

Saya mau tulis tentang Bunker. Manifestasi dari strategi bertahan bangsa Jepang menjelang kekalahannya. Menurut saya ada tiga model berperang. Pertama model menyerang, ke dua model bertahan, dan ke tiga model counter-attack. Pada awal-awal perang pasifik, bangsa Jepang menggunakan model berperang menyerang. Dia contoh model berperangnya orang Jerman, di Benua Eropa sana, tapi kajili-jili, terburu-buruki. Masa’ pelabuhannya Amerika Serikat diserang tanpa deklarasi perang terlebih dahulu. Itu kan tidak etis. Tahun 1943, Amerika Serikat menyerang balik bangsa Jepang, yang mengakibatkan bangsa Jepang mengalami kekalahan demi kekalahan serta kerugian perang. Baru narasa bangsa Jepang di sini. Masi’ mauko nakal. Kekalahan-kekalahan yang dialami bangsa Jepang itu membuatnya merubah strategi dari strategi menyerang ke strategi bertahan. Sehingga pada saat itu dia melancarkan serangan terakhirnya, yaitu serangan Kamikaze (Dewa Angin). Kerennya namanya saya dengar. Deh, tapi ngeri itu Kamikaze. Cobami bayangkan kita tentara angkatan laut Amerika Serikat yang sedang berada di sebuah kapal perang. Ada pesawat tentara Jepang yang dilihat sebagai sasaran empuk. Maumi ditembak itu pesawat, tapi tiba-tiba itu pesawat mengarah ke kita dengan kecepatan tinggi, yang membuat dahi berkerut (apa mau nabikin ini orang ?!). Mungkin setelah itu uang yang banyak dikasi ke keluarga tentara Kamikaze itu. Bukan hanya orang Jepang tentara Kamikazenya melainkan orang Indonesia juga. Orang Indonesia juga dilatih mengoperasikan pesawat hanya untuk menjadi tentara Kamikaze. Sungguh terlalu.

Bunker ada banyak di Indonesia. Salah satunya di pulau Sulawesi bagian selatan. Di Pulau Sulawesi Selatan terdapat di Kabupaten Maros, Kota Makassar, dan Kabupaten Enrekang, yang sudahmi ditulis sama senior-seniorku. Tapi ada lagi bunker di Malino, Kabupaten Gowa. Di sana itu banyak bunkernya. Itu mi yang jadi fokus penelitian untuk tugas akhirku...

Minggu, 08 September 2013

Sejarah dan Ruang Lingkup Arkeologi Bawah Air

sumber gambar: sagubatas.blogspot.com

Akal Abu Nawas

Ide munculnya tulisan ini sebenarnya karena tugas yang diberi oleh dosen. Mata Kuliah yang dibawakannya adalah Arkeologi Bawah Air. Dosen memberi tugas dengan instruksi: cari situs yang membahas tentang Sejarah dan Ruang Lingkup Arkeologi Bawah Air, kemudian kirim tautannya ke Grup Kuliah Arkeologi Unhas lalu buat resumenya kemudian beri komentar.

Sebelumnya, telah ada materi yang diberikan oleh dosen. Materi tersebut adalah Modul yang berjudul "PERJALANAN PANJANG MENUJU ARKEOLOGI BAWAH AIR". Maka dari situlah muncul ide untuk memasukkan modul itu ke dalam blog-ku sendiri yang kemudian akan dikirim ke Grup Kuliah Arkeologi Unhas. Hal tersebutlah yang membuat gambar awal dari tulisan ini adalah Abu Nawas dan saat ide tulisan ini muncul saya teringat dengan Abu Nawas dan saya merasa ideku dalam mengerjakan tugas ini rada-rada Abu Nawas.

PERJALANAN PANJANG MENUJU ARKEOLOGI BAWAH AIR

PENGANTAR

Keberadaan airlah yang menyebabkan munculnya arkeologi bawah air, dominasi air yang begitu besar menjadikan hampir 70 % permukaan bumi adalah air. Sebagian besar air menjadi lautan yang menjadi pemisah antar daratan. Untuk menaklukan lautan manusia dengan akalnya menghasilkan budaya maritim yang merupakan refleksi kehidupan dalam mengarungi lautan. Hasil budaya maritim tersebut, salah satunya adalah perahu dan kapal yang berfungsi sebagai sarana transportasi untuk menjelajahi lautan sehingga memungkinkan manusia berpindah dari satu daratan ke daratan lainnya di muka bumi ini. Dengan kapal pula manusia, mengadakan perjalanan jauh membawa komoditi perdagangan untuk mereka jual di daratan lain atau pulau lain.

Bahkan dengan itu pula manusia memberangkatkan armada perangnya untuk menyerang suatu wilayah lain, seperti yang dilakukan oleh Amangemon Raja Sparta yang mengirimkan ribuan kapalnya untuk menyerang Troy guna merebut kembali permaisurinya yang diculik oleh Panggeran Paris dari Troy. Dalam khasanah lokal terdapat sebuah kisah yang termaktub di epos Lagaligo, diceritakan Sawerigading membuat kapal yang besar untuk mengarungi dunia dan mencari jodohnya, sehingga dari mitos tersebut di Sulawesi Selatan dikenallah kapal Saweri Gading. Konon, ketika kapal Sawerigading dalam pelayaran pulangnya ke kampung halamannya di Tana Luwu pecah terhempas ombak, sisa-sisa pecahan kapal tersebut kemudian terdampar di desa Ara dan Tana Beru sedangkan tali temali terdampar di Bira. Orang-orang Ara dan Tana Beru lantas mempelajari serpihan papan dan lunas perahu tersebut sehingga menjadi orang-orang yang mahir membuat perahu, sedangkan tali temali dan kemudi yang tedampar di Bira menjadikan orang-orang Bira sebagai pelaut-pelaut ulung. Terlepas dari benar tidaknya mitos tersebut, Tana Beru yang terletak di Kabupaten Bulukumba memang terkenal sebagai salah satu tempat pembuatan perahu tradisional Pinisi yang sudah dikenal sampai ke mancanegara.

Aktifitas manusia dengan kapal dan perahunya dalam berlayar untuk mengarungi lautan bukan berarti tidak mendapatkan kendala. Tidak semua pelayaran yang mereka lakukan berhasil sampai ke tujuannya. Sehingga hal yang lumrah ketika terjadi musibah kapal tenggelam saat mereka berlayar di lautan atau kapal yang karam karena dihantam serangan dari musuh saat mereka bertempur di lautan. Sejak pertama kali manusia mengenal kapal maka sejak itu pula musibah kapal tenggelam terjadi dan akhirnya kemudian karam di dasar laut. Hal itu menjadi daya tarik bagi sebagian orang untuk mengetahui lebih jauh tentang kapal karam tersebut. Hal yang paling menarik buat mereka adalah, ‘harta karun” yang terdapat di kapal karam tersebut. Karena kapal-kapal yang karam biasanya juga merupakan kapal yang mengangkut komoditi perdagangan yang ada pada masa itu, seperti logam mulia, keramik, porselin maupun beragam bentuk senjata yang terdapat dalam kapal yang nilainya sangat mahal. Awalnya kegiatan arkeologi bawah air belumlah dikenal, yang ada hanya perburuan-perburuan harta karun dari kapal karam. Selama ribuan tahun, para pemburu harta karun itu hanya dilengkapi dengan alat-alat seperti jaring, penangkap atau grab dan kait yang mereka pergunakan untuk mendapatkan harta karun dan itu pun hanya dapat dilakukan di perairan yang dangkal dan jernih karena teknologi pakaian selam belum ada pada saat itu.

Pada banyak lokasi yang mudah dijangkau, perburuan harta karun ini terus berlanjut secara perlahan hingga berabad-abad lamanya, dalam beberapa hal ditandai pula dengan meningkatnya rasa penasaran dan ingin tahu mereka dan terkadang para pemburu harta karun menggabungkannya juga dengan penyelidikan arkeologi yang sebenarnya (Muckelroy, 1978 : 45). Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan perburuan harta karun dilaksanakan secara lebih efisien dengan adanya pengembangan peralatan yang memungkinkan manusia untuk turun langsung ke dasar laut yang dimulai oleh Bells pada abad 17 sampai munculnya peralatan selam standar di abad ke -19, tepatnya tahun 1890 diciptakan peralatan selam sederhana berikut tabung udara yang dibuat oleh Alexander Lambert, seorang warga negara Inggris. Ujicoba peralatan tersebut dilakukan sendiri oleh Alexander Lambert ini. Keamanan pemakaian alat selam ini belum teruji karena pada waktu itu belum dikaji mengenai pengaruh tekanan terhadap penyelam.

Penyempurnaan terhadap alat selam yang diciptakan oleh Alexander Lambert terus-menerus dilakukan oleh berbagai pihak, hingga pada tahun 1912 Amerika Serikat berhasil menciptakan peralatan selam modern dengan mempergunakan tabung udara. Dan pada tahun 1943 Jacques-Yves Cousteau dan Emile Gagnan berhasil menciptakan peralatan selam modern yang mempergunakan tangki scuba sehingga penyelaman dapat dilakukan untuk jarak yang lebih dalam dengan waktu yang lebih lama serta keamanan yang lebih terjamin. Pada abad itu juga arkeologi yang semula hadir dari spekulasi pemburu harta karun yang tak terkendali menjadi ilmu yang sistematis, sehingga pencarian kapal karam pun menjadi objek kajian para arkeolog. Dari situlah cikal bakal munculnya arkeologi bawah air menjadi salah satu bagian dari disiplin ilmu arkeologi yang memfokuskan pada tinggalan arkeologi yang terdapat di bawah air.

Jika kita merujuk jauh ke masa lampau, aktifitas bawah air yang tercatat dalam sejarah pertama muncul pada abad ke-11 Masehi ketika Abbat Ealdred dan St. Albans mengirimkan orang-orangnya ke reruntuhan Verulamium untuk mengumpulkan batu-batuan untuk membangun Biara barunya. Selama memgumpulkan batu-batuan terebut, mereka menemukan kayu dengan paku yang merupakan bagian dari tiang puncak sebuah kapal. Pada abad berikutnya tepatnya tahun 1446 Leon Battuta Alberti melakukan usaha penyelaman untuk tindakan penyelamatan terhadap kapal-kapal Romawi yang telah karam di danau Nemi Italia. Sedangkan pada tahun 1535 Francisco Demarchi melakukan penelitian kapal Caligula dari kerajaan Romawi di Italia teknik penyelaman yang masih sederhana. Mereka melakukan aktifitas bawah airnya masih dengan segala macam keterbatasan yang ada dan dengan metode yang belum dapat dikatakan ilmiah, hanya sebatas untuk memenuhi rasa ingin tahunya mereka akan harta karun yang terdapat di kapal karam. Hal tersebut mengakibatkan rekaman data sejarah yang terdeposit pada situs kapal karam tidak terungkap bahkan sebagian besar diantaranya rusak karena ulah para pemburu harta karun tersebut. Kemunculan arkeologi sebagai suatu ilmu, turut berperan dalam memberikan nilai yang positif akan tinggalan kapal karam, dengan pendekatan arkeologi aktifitas pencarian harta karun bawah air menjadi dikenal dengan sebutan arkeologi bawah air atau Underwater Archaeology.

JEJAK ARKEOLOGI BAWAH AIR

Studi arkeologi bawah air yang paling awal dilakukan, diawali dari adanya temuan di darat berupa kapal yang berasal dari masa pertengahan, ekskavasi sistematik kemudian dilakukan oleh Conrad Engelhart pada tahun 1863 dan menemukan perahu abad ke-4 SM dari Nydam atau Denmark. Meskipun demikian temuan kapal dan dan perahu di daratan oleh para arkeolog, belum mendorong mereka untuk langsung melakukan petualangan bawah air dengan mempergunakan peralatan selam standar. Bahkan pada tahun 1907, ketika para kolektor benda antik di London tertarik untuk menyelidiki situs yang terletak di sebelah Utara teluk Herne di Kent karena banyaknya temuan keramik Brazil disana, mereka mempekerjakan seorang “penyelam bersertifikat” Hugh Pollard untuk menyelam ke dalam dan melihat kondisi di bawah. Baru setahun kemudian seorang arkeolog amatir yang juga merupakan pendeta, Reverend Odo Blundel melakukan penyelaman arkeologi di danau Loch Ness di Skotlandia dengan tujuan mengungkap sejarah dan pembangunan Benteng August, dan dia segera berpendapat bahwa salah satu cara untuk lebih mengetahui bagaimana benteng tersebut dibangun di atas danau adalah dengan melakukan penyelaman ke dasar danau dan melihat penutup dasar pada bangunan benteng. Untuk itu dia kemudian meminta bantuan regu penyelaman dari Perusahaan Canal Caledonia dan kemudian melakukan penyelaman lagi di danau Loch Ness. Kegiatan penyelaman seperti ini terus berlanjut, praktisnya Arkeologi bawah air sebelum perang dunia II masih sangat jarang dilakukan, kegiatan penyelaman banyak dilakukan oleh para penyelam amatir yang memiliki latar belakang arkeologi yang minim dan cenderung bersifat pemburu harta karun, yang hanya mementingkan nilai ekonomisnya saja.

Setelah perang dunia II berakhir arkeologi bawah air mulai berkembang dengan di lakukannya beberapa penelitian arkeologi bawah air di berbagai lokasi, seperti di Laut Mediterania dan Herculaneum pada tahun 1958, Mexico Underwater Archaeologi Society mendirikan CEDAM, sebuah organisasi yang mengkoordinir kegiatan Arkeologi Bawah Air dan melindungi situs-situsnya. Pada tahun 1974 bermunculan institusi yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berhubungan dengan arkeologi bawah air, seperti: Universitas Calefornia, Sandiago,Universitas Haifa di Israel dan Universitas Australia Barat di Fremantle.

Baru pada tahun 1978 peninggalan arkeologi bawah air di Indonesia mulai diperhatikan, namun hanya beberapa arkeolog saja yang mengusasi penyelaman bawah air plus menggelar penelitian, di banding kondisi di negara tetangga, Thailand, Malaysia dan Philipina jauh lebih baik. Pada 1979, satu tenaga peneliti Indonesia, yakni Nurhadi, berkesempatan mengikuti latihan ABA yang dikaitkan dengan Arkeologi Maritim (AM) di Thailand. Arkeologi bawah air di Indonesia kemudian mulai dipelajari lebih intensif mulai pada tahun 1980 seiring dengan dikirimnya beberapa arkeolog Indonesia yang tergabung dalam SEAMEO Project in Archaeology and Fine Art (SPAFA) ke Thailand sebanyak 22 orang yang terdiri dari : 8 orang Penyelam, 13 Konservator, dan seorang fotografer. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pun mulai menguji coba kegiatan arkeologi bawah air pada 1981, bekerja sama dengan pasukan katak dari Armada RI Wilayah Timur. 
Selain mempelajari dan menangani segala tinggalan di bawah air juga mengkaji arkeologi maritim yaitu segala sesuatu yang terkait dengan kelautan dan pelayaran, namun datanya terdapat di daratan. Dengan demikian, situs di daerah pantai atau sungai dan kapal yang tertimbun tanah di daratan menjadi cakupan arkeologi maritim. Di Indonesia arkeologi maritim yang mula-mula dikenal lewat penelitian perahu kuno dan arkeologi bawah air. Salah seorang pelopornya adalah Pierre-Yves Manguin, seorang pakar sejarah maritim dari Prancis. Manguin meneliti perahu kuno di Indonesia sejak 1977 (Susantio, 2006). 
Sedangkan secara institusional dibentuk pula Seksi Pengendalian Peninggalan Bawah air yang bertugas mengurusi peninggalan sumberdaya budaya bawah air dalam lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Perkembangan penanganan sumberdaya budaya di perairan Indonesia sudah mulai bangkit dari tidur panjangnya, hal ini disadari sumberdaya budaya di bawah perairan nusantara amat banyak dan kemungkinan pengambilan sumberdaya budaya itu secara illegal masih amat memungkin, bahkan oleh orang asing. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya perhatian pemerintah untuk mendirikan institusi yang menangani khusus sumberdaya budaya bawah air, dan melakukan kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka pengembangan /pencetakan sumberdaya manusia di bidang arkeologi bawah air, yang selama ini jumlahnya sangat minim dan tidak aktif. 
Tahun 2003 – 2005 berturut-turut telah dilakukan pelatihan penyelaman dalam lingkungan Asdep Urusan Pemuseuman dan Kepurbakalaan Deputi Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Bahkan dalam tahun 2005 ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar, telah melakukan pelatihan Underwater archaeology terhadap staff BPPP – Makassar yang berminat dan anggota Makassar Underwater Archaeology Heritage – Jurusan Akeologi Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Hasanuddin. Demikian pula kegiatan pengangkatan terhadap situs-situs bawah air sudah banyak dilakukan di perairan nusantara, seperti misalnya pra-tahun 2000 di Pulau Buaya Wreck, Taksing Cargo, Intan Cargo, Tang Cargo, Nlanakan Wreck dan Pasca 2000 pengangkatan di Selat Karimata, Perairan Utara Cerebon, Karang Haleputan Riau, Batang Selatan Riau, Karang Tombak, Bintang Utara Riau. Sedangkan kegiatan survey arkeologi bawah air (sifatnya Survey Pendahuluan ) juga sudah banyak dilakukan seperti misalnya pada Kantor BPPP-Makassar yang aktif setiap tahunnya memprogramkan kegiatan survey bawah air, dan telah melakukan beberapa kegiatan survey seperti misalnya di perairan selat Makassar, perairan Selayar, dan perairan Buton, dan berhasil menemukan beberapa titik pada perairan tersebut. 
Berdasarkan sumber Litban Oceanologi (2006) tercatat sekitar kurang lebih 463 titik situs bawah air, Arsip Organisasi Arkeologi di Belanda sekitar 245 kapal VOC, sedangkan Tony Wells, Shipwrecks & Sunken Tresure sekitar 186 kapal VOC. Adapun sebaran titik tersebut terdapat di perairan Selat Malaka, Sumatra Selatan yang tersebar di selat Bangka, Perairan Riau, Selat Gaspar, Perairan Blitung, Perairan Enggano, Kepulauan Seribu- Selat Sunda, Pelabuhan Ratu, Perairan Cilacap- Jawa Tengah, Laut Jawa, Perairan Karimun Jawa-Pantai Jepara, Selat Madura-Pulau Kangean, Selat Karimata, Nusa Tenggara Barat-Timur, Perairan Arafura, Perairan Irian Jaya, Perairan Morotai-Teluk Kao, Perairan Almahera Tidore- Bacan, Perairan Ambon – Buru, Perairan Teluk Tomini dan Perairan Selat Makassar. 
Penelitian arkeologi bawah air di perairan Selat Makassar, dimulai sejak tahun 1998 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan dan Tenggara (sekarang berubah nama menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Pubakala Makassar), kelompok kerja ini merupakan kelompok kerja yang paling mudah diantara kelima kelompok kerja yang ada di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar. Terbentuk pada tahun 1998, kemudian kelompok kerja ini bergabung dengan kelompok kerja perlindungan pada tahun 2001. Pada tahun 2006 kelompok kerja bawah air kemudian berdiri sendiri sampai sekarang, kelompok kerja ini bertujuan melakukan kegiatan penelitian dan pelestarian seperti, melakukan survei pada lokasi yang diduga terdapat tinggalan arkeologi bawah air. Dari penelitian yang telah dilakukan mulai dari tahun 1998 sampai tahun 2006, berhasil menemukan beberapa situs arkeologi bawah air antara lain: Situs Panpandangan, Karang Labor, Gosong Tuara dan Karang Samme, Padewakkang, Nirwana dan Kalukkuang (Ramli, 1998 : 3). Selanjutnya survei bawah air oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar (BP3) pada tahun 2007, berhasil menemukan kapal karam di perairan pulau Tomia yang diperkirakan sebagai kapal peninggalan perang dunia kedua (Kaligis, 2007: t. hal). 
Jurusan arkeologi Universitas Hasanuddin sebagai salah satu disiplin ilmu juga membentuk suatu wadah yang bergerak dalam bidang tinggalan bawah air, wadah ini diberi nama Makassar Underwater Arcahaeology Heritage (MUAH) yang selalu melakukan kerja sama dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar (BP3) dalam melakukan kegiatan penelitian dan pelestarian. Makassar Underwater Arcahaeology Heritage (MUAH) ini terbentuk pada tanggal 21 Mei 2005. Selain Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar (BP3) dan Makassar Underwater Arcahaeology Heritage (MUAH), penelitian arkeologi bawah air diselat Makassar juga telah dilakukan oleh beberapa mahasiswa Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin guna menyelesaikan studinya, antara lain : Adriany pada tahun 2001 dalam skripsinya yang berjudul “Keramik Asing di Situs Bawah Air Taka Bulango Kabupaten Pangkep Sebagai Sumber Data Arkeologi”. Kesimpulan dari penelitian tersebut yaitu : pertama, perairan Selat Makassar, pada masa pertumbuhan kerajaan-kerajaan pesisir di kawasan Barat Sulawesi seperti Kerajaan Siang, Kerajaan Suppa merupakan wilayah lalu lintas yang ramai dilewati kapal dan perahu dengan tujuan kongsi dagang, tujuan politik, dan tujuan-tujuan khusus lainya seperti pertukaran cindera mata. Kedua, berdasarkan fragmen temuan keramik yang bervariasi baik jenis maupun negara asal, dapat dikatakan bahwa perdagangan keramik di kawasan Nusantara telah terjalin dalam waktu yang cukup lama (Adriany, 2001: 49-50). 
Penelitian yang dilakukan oleh Kasmawati pada tahun 2002 dalam skripsinya yang berjudul “Bangkai Perahu Pada Situs-Situs Bawah Air di Perairan Selat Makassar”. Penelitian ini dilakukan di situs Sambungan Bulango, Papandangan, Karang Semme, Gusung Tuara, Karang Labor. Kesimpulan penelitian tersebut menyatakan, bahwa bangkai perahu pada situs Sambungan Bulango dan Papandangan masih memiliki keterkaitan atau hubungan dengan industri pembuatan perahu di Bulukumba baik dari aspek bahan maupun teknologi, sedangkan situs Karang Samme dan Gusung Tuara bukan merupakan tradisi lanjutan dari teknologi pembuatan perahu Bulukumba, tetapi teknologi perahu Jung Cina (Kasmawati, 2002 : 118). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Zainab Tahir, 2003, yang dituangkan dalam skripsinya dengan berjudul “Konservsasi Keramik Asing Dari Situs-Situs Bawah Air Selat Makassar, berkesimpulan bahwa yang diperoleh dari kegiatan ini yaitu penggunaan HCL lebih efektif karena dapat mengangkat organisme secara keseluruhan, sedangkan penggunaan H2SO4, tidak secara langsung dapat melepaskan organisme yang ada (Tahir, 2003 : 94). Pada tahun 2007, Andi Jusdi melakukan penelitian tentang arkeologi bawah air pula sebagai tugas akhir atau skripsi, dengan tema penelitian persebaran situs arkeologi bawah air di selat Makassar. Sedangkan Abdullah melakukan penelitian untuk skripsinya dengan mengambil tema model tinggalan arkeologi bawah air di Taka Bulango Pangkep Sulawesi Selatan. 

RUANG LINGKUP KAJIAN ARKEOLOGI BAWAH AIR

Dalam uraian tersebut, terlihat bahwa sejak pertama kali dilakukan penelitian arkeologi bawah air, ruang lingkup arkeologi bawah air di Indonesia masih lebih difokuskan pada kapal karam di dasar laut, bahkan secara rinci disebutkan oleh Direktur Riset dan Sumber Daya Alam titik-titik dari keberadaan kapal karam di perairan Indonesia yang sampai detik ini belum semuanya tuntas diekploirasi. Hanya saja yang perlu kita ingat bahwasannya ruang lingkup objek kajian arkeologi bawah air bukan hanya kapal karam beserta muatannya saja tetapi juga sisa aktifitas manusia lainnya yang berada di bawah permukaan air, sehingga bisa saja objek tersebut tidak menggambarkan aktifitas ke maritiman, salah satu contohnya adalah reruntuhan bangunan kuno di dasar laut merah yang disinyalir sebagai bekas istananya Cleopatra. Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan arkeologi bawah air pada dasarnya sama dengan tujuan arkeologi secara umum, yang membedakannya adalah objek arkeologi bawah air berada di bawah permukaan air, sehingga secara teknis metode ataupun penanganannya tentu harus disesuikan dengan kondisi yang ada. 
Untuk mencapai tujuan tersebut, arkeologi bawah air dewasa ini mengembangkan dua cara pendekatan. Yaitu, pertama pendekatan berdasarkan kerangka kesejarahan ( historical particularism), yang menekankan perhatian pada artefak dan fungsinya sebagai langkah utama, dan penting bagi penyusunan hipotesa yang luas. Kedua adalah pendekatan berdasarkan kerangka pemikiran antropologis ( anthropological approach ), yang cenderung berangkat dari kerangka pemikiran hipotesis dan menggunakan asemblage artefak yang telah diklasifikasi dan dimengerti materialnya sebagai dasar kajian untuk menjelaskan berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lalu (Green 1990). Studi atas situs-situs kapal akan memperlengkap penelitian arkeologi daratan dan pemahaman atas kebudayaan manusia masa lalu. Upaya mendapatkan data kehidupan masa lalu yang sebagian besar tertutup sedimentasi yang terjadi sesudahnya sehingga memerlukan cara khusus. Survey mengawali aktifitas tersebut. Kegiatannnya berupa pengamatan terhadap tinggalan arkeologis disertai dengan analisis. Kerja ini dapat dilakukan dengan mencari keterangan penduduk atau melacak berita dalam naskah kuna, literatur atau laporan penemuan. Selanjutnya adalah ekskavasi yang dalam arkeologi adalah upaya mengupas lapisan sedimentasi untuk menampakkan sisa-sisa benda budaya yang diselimutinya. Kelak bukti aktifitas masa lalu itu menjadi sarana pengungkapan aspek-aspek yang dikandungnya. Mengenai hal ini tidak ada perbedaan antara arkeologi darat dan arkeologi bawah air, sehingga arkeologi bawah air pun memberlakukan metode klasifikasi dan analisis sistematis terhadap artefaknya. 
Ketika objek kajian arkeologi bawah air berupa kapal karam, tentu saja kita akan berusaha untuk mendapatkan gambaran tentang aktifitas kemaritiman yang terjadi, tapi ketika yang kita temukan adalah sisa reruntuhan istana atau bekas pemukiman maka yang akan kita dapatkan mungkin saja tidak ada kaitannya dengan aktifitas maritim secara langsung. Jadi pada hakekatnya inti dari ruang lingkup kajian arkeologi bawah air bukan hanya aktifitas kemaritiman semata, tetapi keseluruhan aktifitas manusia yang terdepositkan dalam benda sisa aktifitas manusia yang ‘kebetulan’ berada di bawah air. Karena keberadaanya yang tidak di daratan, kajian arkeologi bawah air pun meliputi hal-hal yang berkaitan dengan dunia penyelaman untuk memudahkan kita dalam melaksanakan penelitian arkeologi bawah air. 
Demikianlah, kajian arkeologi bawah air terus berkembang sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi. Temuan-temuan arkeologi bawah air pun tidak terbatas di laut saja tetapi ditemukan pula di danau maupun di sungai. Sedangkan dari segi objek temuan, tidak hanya berupa kapal atau perahu saja tetapi banyak situs arkeologi bawah air yang temuannya berupa pemukiman yang tenggelam bahkan bekas istana. Sehingga arkeologi bawah air sebagai suatu studi ilmiah dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan manusia masa lampau berdasarkan tinggalan material budayanya yang masih berada di bawah air. Dimana ruang lingkupnya tidak hanya terbatas pada tinggalan dari aktifitas yang berhubungan dengan pelayaran, perkapalan, perdagangan dan peperangan laut semata. Tetapi juga mencangkup tinggalan-tinggalan lain yang masih berada di bawah air, seperti bekas pemukiman kota Pompeii, Port Royal di Jamaika yang merupakan bekas perkotaan yang tenggelam, reruntuhan bangunan yang diduga bekas istana Cleopatra di laut Merah, sebuah bangunan lama berusia kira-kira 7.500 tahun di dasar Laut Hitam, dekat pantai Turki yang diduga merupakan bukti dari kejadian banjir besar di jaman Nabi Nuh dan situs-situs lainnya. 
Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa bidang kajian penelitian arkeologi bawah air dewasa ini sudah meliputi Perahu/Kapal karam dan komponennya, serta komoditas /benda yang diangkut stuktur dan mekanisme masyarakat masa lalu (Green,1990). Dengan demikian Arkeologi Bawah air secara umum tidak berbeda dengan penelitian arkeologi darat. Secara khusus, arkeologi bawah air ditujukan bagi aktivitas penelitian arkeologi terhadap data arkeologis yang berasal dari bawah permukaan air, meliputi; Laut, sungai, danau, maupun bentuk perairan lainnya. Penemuan bukti kehidupan masa lampau di dasar perairan berkenaan dengan akktivitas manusia, seperti pelayaran dan perdagangan laut yang menghasilkan situs-situs bangkai perahu/kapal. Juga aktivitas alam seperti penurunan elevasi laut yang besar pengaruhnya terhadap daerah pantai atau peristiwa katastrofi lain berupa gempa vulkanik/tektonik yang kelak memunculkan, antara lain situs-situs pelabuhan dan pemukiman yang sekarang berada di bawah air. Hal ini berarti, kajian diluar itu tidaklah termasuk ruang lingkup arkeologi bawah air

Senin, 12 Agustus 2013

Jawabannya Adalah Kita Tidak Tahu


Perang Dunia II (PD II) mulai terjadi pada tahun 1939 dan berakhir pada tahun 1945[1]. Dalam perang itu, banyak negara yang terlibat, seperti: Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Polandia, dan Indonesia. Perang tersebut dapat dibagi dalam 2 wilayah, yaitu Perang di Benua Eropa dan Perang di Pasifik atau Asia. Perang di Benua Eropa dimulai pada tahun 1939 sewaktu Jerman yang dipimpin oleh partai Nazi menginvasi wilayahnya ke Polandia. Perang di Pasifik dimulai sewaktu Jepang menyerang Pangkalan Laut Amerika Serikat (AS) di Pearl Harbor, Hawaii. Perang tersebut berakhir ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, dan tewasnya Hitler bersama istrinya di sebuah bunker di Berlin. 

Partai Nazi terkenal dengan kekejamannya. Partai tersebut dipimpin oleh Adolf Hitler semasa Perang Dunia II. Adolf Hitler adalah seorang pemimpin yang terkenal kejam. Dia mempunyai ideologi bahwa bangsa Arya adalah bangsa yang terunggul sehingga dia ingin menaklukkan dunia. Jika mengacu pada teori yang menyatakan bahwa semuanya berawal dari fikiran, dari fikiran yang berulang-ulang kemudian muncullah ambisi, yang kemudian menggerakkan tubuh menuju cita-cita, maka ideologi itulah yang membuatnya menjadi pemimpin yang sukses. Ideologi itulah yang membuat dunia menjadi kacau pada masa itu. Di sisi lain, pemerintah Jepang yang terdesak dengan kekacauan ekonomi negaranya dengan disertai ideologi ingin menguasai dunia, juga telah sukses mencapai cita-citanya. 

Adolf Hitler dikatakan sebagai pemimpin yang sukses karena telah berhasil mencapai cita-citanya memperluas wilayah Jerman, yang menjadi bukti bahwa bangsa Arya memang unggul. Para pemimpin angkatan perang Jepang masa Perang Dunia II juga dikatakan sebagai pemimpin yang sukses karena telah berhasil mencapai cita-citanya menguasai sumberdaya alam wilayah-wilayah yang kaya akan itu. Adolf Hitler mencapai cita-citanya dengan jalan kekerasan. Dia telah banyak membantai. Bahkan tentaranya sendiri pun dibunuh secara perlahan, dengan hukuman, demi cita-citanya. Hukumannya yang terkenal adalah menggunakan kekuatan fikiran[2]. Para pemimpin angkatan perang Jepang masa Perang Dunia II juga mencapai cita-citanya dengan jalan kekerasan. Dia telah banyak merugikan negara-negara jajahannya, yang salah satunya adalah negara Indonesia, demi cita-citanya. Dia telah merugikan negara Indonesia dengan mengambil kekayaan sumberdaya alamnya, dengan sistem kerja paksa. 

Adolf Hitler dan para pemimpin angkatan perang Jepang masa PD II seperti Yamashita dan Gurita adalah pemimpin yang sukses. Jika melihat ke masa lalau, di Cina, sewaktu zaman Tiga Kerajaan: Wu, Shu dan Wei, juga terdapat seorang pemimpin yang sukses bernama Cao Cao. Cao Cao adalah seorang pemimpin yang terkenal kejam. Dia sukses karena telah berhasil mencapai cita-citanya. Ambisinya adalah ingin menyatukan negara-negara di bawah kepemimpinannya, agar tidak ada lagi perang. Namun ambisinya membenarkan segala cara. Dia telah banyak membunuh, bahkan anggotanya pun dibunuh dengan hukuman, demi cita-citanya. Adolf Hitler, Yamashita, Gurita dan Cao Cao adalah para pemimpin yang sukses. 

Melihat ke masa perkembangan Islam juga terdapat pemimpin sukses yang juga sangat terkenal di seluruh dunia, yaitu nabi Muhammad SAW. Ia sukses karena telah berhasil mencapai cita-citanya menyebarkan Agama Islam. Ia sukses dengan jalan tanpa kekerasan. 

Menurut salah seorang ahli, ada 2 model kepemimpinan yang digunakan oleh para pemimpin. Pertama adalah kepemimpinan yang menggunakan cinta untuk menyukseskan kepemimpinannya. Ke dua adalah kepemimpinan yang menggunakan hukuman. Kedua model kepemimpinan tersebut sama bagusnya, namun jika disuruh memilih lebih baik memilih untuk memimpin dengan menggunakan hukuman, katanya. Para pemimpin di masa lalu dan di masa sekarang dapat diketahui model kepemimpinannya berdasarkan pendapat tersebut. Perang Dunia II telah berakhir. Jepang telah menyerah tanpa syarat, Jerman pun telah menyerah. Namun entah apa yang terjadi di masa depan. Boleh jadi Jepang sakit hati karena kekalahannya pada Perang Dunia II sehingga ingin membalas. Boleh jadi ada seseorang di Jerman yang ingin meneruskan ambisi Hitler, karena perang dapat dimulai karena ambisi seseorang. Hal-hal tersebutlah yang dapat menyebabkan perang dunia selanjutnya atau Perang Dunia III. Namun apakah benar perang tersebut akan terjadi ? Jawabannya adalah Kita tidak Tahu... 




[1] Ada beberapa versi mengenai awal periode terjadinya PD II. Namun, awal periode waktu pada umumnya adalah tahun 1939. 


[2] Anggotanya yang dianggap bersalah dikurung dalam sebuah ruangan, kemudian disugesti bahwa di ruangan tersebut diberi gas beracun—yang sebenarnya tidak ada—sehingga membuatnya meninggal perlahan.

Rabu, 26 Juni 2013

Flight Plan

Sumber foto: www.vatgia.com

Harapan saya adalah semoga setelah ini saya dapat fokus berfikir tentang bungker.

Saat itu pukul 00.00 WITA. Saya harus tidur pada jam itu, karena saya sudah harus berada di rumah sebelum pukul 07.00 WITA. Saya pun merebahkan badan ke tempat tidur yang mengarah ke televisi. Saya memejamkan mata untuk tidur, namun usahaku tidak berhasil dikarenakan suasana yang sangat hening. Saya pun mengambil remote televisi kemudian menyalakan televisi. Saat itu film yang kebetulan ditayangkan adalah sebuah film yang berjudul: Flight Plan. Awal-awal film, hal yang diperlihatkan adalah seorang ibu di pesawat yang sedang membelai-belai putrinya. Sampai di situ, saya menyetel waktu tidur televisi: 60 menit, agar suasana tidak terlalu hening, lalu tidur. Beberapa menit kemudian, saya terbangun lalu kembali menonton. Pada bagian itu, saya menyaksikan wanita itu panik tiba-tiba. Saat itulah timbul pertanyaan: “mengapa dia panik ???”. Saya pun mulai penasaran.

Wanita itu bertanya pada penumpang yang berada di dekatnya: “Sudah berapa lama kita terbang ?”. Orang itu menjawab: “Sudah 3 jam”. “Oh, saya tertidur sudah begitu lama”.
“Di mana Julia ?”, tanya wanita itu dalam hati. Ia pun mencari anaknya. Dia bertanya-tanya pada orang-orang yang dilaluinya, hingga akhirnya meminta bantuan di awak pesawat. Awak pesawat atau pramugari lalu memintanya untuk memperlihatkan tiket anaknya. Ia pun mengeluarkan tiket di dalam kantongnya yang ternyata hanya berjumlah satu buah. Wanita itu langsung berlari menuju seat-nya, dengan diikuti oleh awak pesawat, kemudian memeriksa bagasinya. “Anak berumur 6 tahun tidak mungkin mengambil ransel dengan bagasi yang setinggi ini”, katanya. “Anakku diculik !!!”. Awak pesawat pun lalu bertanya kepada orang-orang yang duduk di dekat wanita itu: “Apakah kau melihat anaknya ?”. Orang-orang menjawab: “tidak”, dan “dia sepertinya tidak bersama anaknya di pesawat ini”.

Wanita itu pun sedih bercampur panik kemudian meminta kepada awak pesawat untuk memberi pengumuman tentang hilangnya anaknya. Awak itu pun mengabulkan permintaan wanita itu. “…Pesawat kami sepertinya cukup besar untuk membuat seorang anak hilang…”. Masih kurang puas, wanita itu pun meminta untuk dipertemukan oleh kapten pesawat. Permintaannya itu pun dikabulkan lagi, mungkin karena mimik wajahnya. Pertemuan itu dihadiri oleh kapten pesawat, para awak pesawat, wanita itu dan orang yang duduk bersebelahan dengannya yang juga adalah seorang polisi udara. Pertemuan itu bertujuan untuk mencari solusi atas masalah itu.

Sebelum pertemuan, kapten pesawat sudah mendapatkan informasi pribadi mengenai wanita itu. “…David, suami kamu, telah meninggal karena terjatuh dari ketinggian, benar ?”. “Ya”, kata wanita itu. “Apakah kamu sedang mengonsumsi sejenis minuman beralkohol ?”. “Tidak”, jawab wanita itu. “Apakah kamu mengonsumsi obat-obatan atau sejenisnya ?”. “Tidak”, jawabnya lagi. “Saya hanya mengonsumsi obat tidur dua buah pagi ini, sama halnya dengan penumpang yang lain”, tambahnya.

“Apakah kau melihat dia bersama putrinya saat masuk di dalam pesawat?”, tanya kapten pada awak pesawat yang bertugas di bagian itu. “Tidak”, jawabnya. Orang yang duduk bersebelahan dengan wanita itu kemudian menambahkan: “Dia sepertinya juga tidak bersama putrinya di pesawat ini”. Wanita itu pun meminta kepada kapten agar para awaknya mencari putrinya di segala ruangan. Kapten pun mengabulkan permintaannya dan awak pesawat patuh. Selama pencarian itu, kapten mencari informasi mengenai daftar penumpang. Wanita itu mengawasi awak-awak pesawat, apakah dia mengerjakan apa yang diperintahkan kapten itu atau tidak.

“Kami sudah melihat daftar penumpang, ada 32 anak di pesawat ini, dan betul, anakmu tidak ada di pesawat ini”, kata kapten pesawat.
Sampai di bagian itu, saya jengkel dan berkata dalam hati: “Lagi frustasi itu kayaknya cewekka”. “Sudah banyak orang yang dia repotkan”. Saya pun sudah tidak berpihak kepada wanita itu, dan juga semua orang yang ada dalam pesawat itu. Sampai di situ, saya berniat untuk menyalakan komputer kemudian online untuk googling sinopsis cerita film itu, lalu beres, sayapun bisa tidur. Akan tetapi saya memberi kesempatan pada film itu. Wanita itu kini hanya sendiri, karena saya sudah tidak berpihak lagi padanya.

Wanita itu dengan rasa paniknya yang bertambah besar, lanjut mencari lagi putrinya. Mungkin karena sudah bosan, orang/ polisi udara yang duduk bersebelahan dengan wanita itu kemudian menyinggung: “Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa putrimu diculik ?”. “Untuk apa orang mau mencelakaimu ?”. “Apa istimewamu ?”. Wanita itu pun menjawab: “Saya pernah bekerja di penerbangan, dan saya tahu detail pesawat ini”.

Karena salah seorang penumpang sudah muak dengan wanita itu, ia lalu memukulinya hingga wanita itu jatuh pingsan. Wanita itu pun diborgol oleh polisi udara yang duduk bersebelahan dengannya, agar dia tidak mengganggu. Setelah sadar, seorang wanita yang sepertinya seorang psikolog mengajaknya ngobrol: “bisakah kau menceritakan sedikit tentang suamimu ?”. Wanita itu tidak berkata apa-apa. Lalu, dengan tekniknya, orang yang sepertinya psikolog itu dapat membuat wanita itu menceritakan tentang suaminya. Orang itu lalu mengajak wanita itu berimajinasi: “bayangkan suamimu sedang berada di suatu pulau yang setiap saat dapat kau kunjungi”. Wanita itupun berimajinasi, kemudian raut wajahnya sudah mulai terlihat membaik. Tiba-tiba wanita itu minta izin ke toilet dengan alasan ia butuh waktu untuk sendiri. Polisi itupun mengawalnya menuju toilet. Di toilet, wanita itu naik ke atas pelapon yang sudah diketahuinya adalah ruang kendali rahasia. Dia pun memainkan kendali itu, untuk membuat para penumpang panik. Dengan situasi itu, dia dapat pergi ke beberapa ruangan yang belum diperiksa oleh awak pesawat sebelumnya. Belum sampai di ruangan terakhir yang belum diperiksa, wanita itu telah lebih dulu ditangkap oleh polisi itu. Dia lalu digiring kembali ke seat-nya.

Pesawat tinggal beberapa menit lagi mendarat. Polisi udara memanggil seorang pramugari yang berada di depannya lalu memintanya menjaga wanita itu karena dia mau pergi sebentar. Saat itu, wanita itu bertanya kepada pramugari itu: “ke mana kau sewaktu para awak pesawat sedang mencari-cari anakku ?” pramugari itu kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum sembari mengatakan: “Aku turut bersedih atas apa yang sedang menimpamu”.

Beberapa saat kemudian, saya menyaksikan seorang anak perempuan yang sedang tertidur di suatu ruangan, dan polisi udara itu yang sedang menaruh alat peledak di sekitar anak itu. Ternyata pesawat itu sedang dibajak oleh polisi udara itu yang bekerja sama dengan seorang pramugari. Peristiwa hilangnya putri wanita itu sudah direncanakan, dan semua kejadian di atas pesawat pun demikian. Sepertinya itulah alasan mengapa film itu diberi judul Flight Plan. Di akhir cerita, senjata makan tuan. Pembajak itu terkena bomnya sendiri, yang diledakkan oleh wanita itu. Setelah kejadian itu, wanita itu, bersama putrinya, keluar dari pesawat, dan orang-orang yang telah bersamanya di dalam pesawat kemudian tersenyum, seolah mengatakan: PERJUANGANMU SUNGGUH HEBAT !

Film Flight Plan adalah sebuah film yang menarik, walaupun backgroundnya hanya di dalam pesawat, bagi saya. Film itu mengajarkan kita arti sebuah perjuangan. Jika kau meyakini sesuatu, yang sesuatu itu berdasarkan pada kebenaran, maka pertahankanlah sesuatu itu. Jangan hiraukan komentar negatif orang-orang di sekelilingmu. Pada film itu, pemeran utamanya hanya berjuang ‘sendiri’. Ada 400-an orang di sekililingnya, dan semuanya tidak ada yang berpihak padanya. Namun walaupun demikian, ia tetap berjuang karena dia yakin bahwa dia benar.

Ngomong-ngomong, sudah pukul 5.27 WITA mi ini. Betul-betul ini film Flight Plan…

Minggu, 17 Maret 2013

Flora dan Fauna Sulawesi Tenggara yang Dilindungi Undang-Undang

Artikel ini merupakan hasil kerja dari penulis selaku orang yang masuk dalam tim studi pustaka Ujungpandag Heritage dalam Tim Observasi Konawe Utara di Sulawesi Tenggara. Karena informasi mengenai Flora dan Fauna Sulawesi Tenggara ini dianggap penting, maka dicarilah datanya. 

Tahap kerja dari Sistem Informasi ini adalah Pengumpulan Data, Pengolahan Data, Penyajian Data. Pada tahap awal, data-data dikumpulkan dari internet, kemudian data-data tersebut diolah sehingga menjadi informasi dan setelah itu informasi itu disajikan. Penyajian informasi dilakukan dengan dua cara yang berbeda. Cara pertama adalah melalui blog. Cara kedua adalah dengan menggunakan software pendukung, yaitu Macromedia Flash MX. Adapun sumber utama dari data nama-nama flora dan fauna Sulawesi Tenggara adalah situs resmi Sulawesi Tenggara atau yang dapat dilihat di sini http://www.sulawesitenggaraprov.go.id/profil-daerah/flora-a-fauna.html. Dengan mengacu pada situs tersebut, maka informasi mengenai flora dan fauna Sulawesi Tenggara hanya terbatas pada yang dilindungi oleh Undang-Undang saja.

Agar tidak berat me-load, artikel ini dibagi menjadi enam (6) tulisan, yaitu: Flora, Fauna Mamalia, Fauna Reptil, Fauna Aves (part 1), Fauna Aves (part 2), Fauna Moluska dan 1 Arthropoda.
Satu hal sebelum dilanjut adalah: dilarang menggandakan tulisan ini tanpa menuliskan sumbernya!
Berikut adalah Informasi Flora dan Fauna Sulawesi Tenggara yang dilindungi oleh Undang-Undang.

Flora

1. Kayu Kuku


Foto 1.  Pohon Kayu Kuku
Sumber foto: http://lh5.ggpht.com

Kayu kuku adalah tanaman tropis yang tumbuh subur di hutan dataran rendah, terutama di hutan dataran rendah yang bertanah podsolik dan aluvial. Kayu kuku ini jika dibandingkan dengan kayu jati, maka kualitasnya lebih. Kayu jenis Kayu kuku dapat diidentifikasi dengan warnanya yang coklat kemerahan, permukaannya yang licin, dan arah seratnya yang tidak teratur. Pohon Kayu kuku dapat dikenali dengan ciri-ciri tinggi pohon 30 hingga 40 meter. Tanaman Kayu Kuku dapat tumbuh berasosiasi dengan Huru Dapung, Bitanggur, Kayu Lara, Damar, dan Bungur.

Klasifikasi
Kerajaan : Plantae
Filum : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Leguminosae
Genus : Pericopsis
Spesies : Pericopsis mooniana

2. Kasumeeto


Foto 2. Kasumeeto
Sumber foto: http://www.wellgrowhorti.com

Kasumeeto adalah tanaman yang tumbuh di hutan hujan dataran rendah. Pohon Kasumeeto dapat diolah menjadi kayu yang berkualitas cukup baik. Kasumeeto dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian lebih dari 35 meter. Kulit pohon bagian luar berwarna hitam, bersisik, kulit bagian dalam berwarna kemerahan. Daunnya berbentuk memanjang dan terlihat mengkilat. Bunganya kecil dan berwarna putih. Buahnya, yang dinamakan buah Sawo, berbentuk bulat, dan rasanya manis. Adapun bijinya dapat dijadikan obat, yaitu obat diare.

Klasifikasi
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Ebenales
Famili : Ebenaceae
Genus : Diospyros
Spesies : Diospyros malabarica

Untuk lanjut ke Fauna klik di sini.

Fauna Mamalia

1. Rusa Timor


Foto 3. Rusa Timor
Sumber foto; http://www.antarafoto.com

Rusa Timor atau bahasa latinnya Cervus timorensis adalah salah satu dari tiga jenis rusa yang ada di Indonesia. Jenis rusa yang menjadi fauna identitas Nusa Tenggara Barat (NTB) ini biasa juga disebut Rusa Jawa. Rusa jenis ini setidaknya dapat diidentifikasi dengan ciri-ciri: memiliki tanduk yang bercabang tiga, bulunya berwarna coklat kemerah-merahan, bagian perutnya berwarna putih. Rusa Timor dewasa memiliki panjang badan 195 hingga 210 cm, tinggi badan 91 – 110 cm, berat badan 103 hingga 115 kg.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Cervidae
Genus : Cervus
Spesies : Cervus Timorensis

2. Anoa

Anoa adalah salah satu jenis hewan endemik Sulawesi. Hewan ini mirip kerbau namun ukurannya lebih kecil. Anoa memiliki bulu yang saat masih muda lebih tebal dan berwarna lebih cerah dari saat usianya sudah dewasa. Bulu anoa akan menipis dan warnanya akan berubah menjadi lebih gelap saat dewasa. 
Anoa hidup tidak berkelompok-kelompok, melainkan sendiri-sendiri atau berpasangan. Sepasang Anoa bersama-sama hanya pada saat musim kawin. Saat musim kawin telah selesai, pejantan meninggalkan pasangan dan anaknya. Kemudian anoa betinalah yang merawat anaknya. Anoa masuk dalam kategori hewan diurnal. Hewan ini juga memiliki kebiasaan seperti kerbau, yaitu mandi di lumpur. Hewan yang menjadi fauna identitas Sulawesi Tenggara ini terbagi menjadi 2 jenis: anoa dataran rendah dan anoa dataran tinggi. Sesuai namanya, Anoa dataran rendah dapat ditemukan di hutan dataran rendah sedangkan Anoa dataran tinggi atau yang biasa disebut Anoa gunung, dapat ditemukan di hutan dataran tinggi. Anoa dataran tinggi lebih banyak dijumpai daripada Anoa dataran rendah.

2.1 Anoa Dataran Rendah


Foto 4.1 Anoa Dataran Rendah
Sumber foto: http://www.biolib.cz

Anoa dataran rendah memiliki kulit yang berwarna hitam dengan bulu yang pendek berwarna coklat. Warna bulu yang jantan lebih gelap daripada warna bulu yang betina. Di beberapa bagian, bulunya berwarna putih. Bagian-bagian tersebut adalah: kaki depan, pangkal paha, dan leher. Khusus pada bagian leher, warna putihnya berbentuk seperti bulan sabit. 
Tanduk Anoa dataran rendah bentuknya pipih dan pada bagian pangkalnya terdapat lingkaran cincin. Panjang tanduknya sekitar 40 cm. Anoa dataran rendah memiliki berat yang lebih dari anoa dataran tinggi. Beratnya yaitu 150 kg hingga 300 kg. Panjang tubuhnya adalah 150 hingga 180 cm. Tinggi badannya adalah sekitar 85 cm. sedangkan ekornya memiliki panjang sekitar 40 cm.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Bovidae
Genus : Bubalus
Spesies : Bubalus depressicornis

2.2 Anoa Dataran Tinggi


Foto 4.2 Anoa Dataran Tinggi
Sumber foto: http://www.ultimateungulate.com

Anoa dataran tinggi memiliki bobot yang lebih ringan dari anoa dataran rendah. Beratnya yaitu 100 hingga 150 kg. Anoa dataran tinggi memiliki bulu yang lebat, berwarna coklat gelap atau hitam. Tanduk anoa dataran tinggi tidak berbentuk pipih, melainkan berbentuk melingkar. Pada bagian pangkalnya tidak terdapat lingkaran cincin. Panjang tanduknya 15 hingga 27 cm. Panjang tubuhnya adalah 122 hingga 153 cm, dengan tinggi bahu tidak lebih dari 75 cm. Panjang ekornya 27 cm ke atas.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Bovidae
Genus : Bubalus
Spesies : Bubalus quarlesi

3. Babirusa


Foto 5. Babirusa Sulawesi
Sumber foto: http://www.naturephoto-cz.com

Babirusa yang nama latinnya Babyrousa babyrussa adalah hewan endemik Indonesia. Babirusa adalah hewan sejenis babi, yang memiliki gading. Gading babirusa tumbuh melingkar dari moncongnya hingga ke dekat mata. Gading itu dapat tumbuh hingga 31 cm, dan aktif diasah di pohon untuk yang jantan. 
Babirusa yang termasuk hewan kategori diurnal ini juga memiliki kebiasaan seperti babi, yaitu mandi di lumpur. Hewan ini juga memiliki kemampuan berenang. Hewan ini sering berjalan berkelompok tidak lebih dari 8 ekor. Habitat babirusa adalah hutan lembab. Dapat ditemukan di tepi sungai atau danau. 
Babirusa memiliki panjang tubuh sekitar 1,1 meter, tinggi kaki depan naik ke bahu 65 hingga 80 cm, panjang ekor 20 hingga 32 cm, dan bobot sekitar 100 kg. Babirusa memiliki kulit yang kasar berkeriput, berwarna coklat atau abu-abu gelap. Ada tiga sub-spesies Babirusa: Babirusa emas (Babyrousa babyrussa babyrussa), Babirusa Sulawesi (Babyrousa babyrussa celebensis), dan Babirusa Togian (Babyrousa babyrussa togeanensis). Ketiga sub-spesies babirusa itu mempunyai warna yang berbeda-beda. Babirusa Sulawesi memiliki warna kulit abu-abu gelap dengan hanya beberapa bulu. Babirusa Togian memiliki kulit berwarna coklat hingga hitam, dengan warna yang lebih cerah pada bagian bawahnya. Babirusa emas warna kulit pada bagian bawahnya berwarna emas, dan warna kulit selain itu berwarna hitam.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Ordo : Cetartiodactyla
Famili : Suidae
Genus : Babyrousa
Spesies : Babyrousa babyrussa

4. Bajing Tanah


Foto 6. Bajing Tanah
Sumber foto: http://www.ecologyasia.com

Bajing tanah adalah bajing yang tidak hidup di pepohonan melainkan hidup di permukaan tanah. Bajing tanah tidak hidup dengan berpindah-pindah dari pohon satu ke pohon lain seperti bajing terbang, melainkan hidup di permukaan tanah. Bajing yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan Three-striped Ground Squirrel memiliki karakteristik: terdapatnya tiga garis hitam dari bahu hingga ke ekor. Bulu bajing tanah berwarna coklat tua dengan bercampur sedikit warna oranye. Adapun habitat hewan ini adalah hutan hujan primer.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Ordo : Rodentia
Famili : Sciuridae
Genus : Lariscus
Spesies : Lariscus insignis

5. Kera Bersepatu Boot


Foto 7. Kera Bersepatu Boot

Kera Bersepatu Boot atau kera yang nama ilmiahnya Macaca ochreata adalah kera endemik Sulawesi, yang hanya terdapat di Sulawesi Tenggara. Kera yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan Booted macaque ini memiliki karakteristik: warna kaki dan tangan yang berbeda dengan warna badannya, sehingga terlihat seperti memakai boot atau kaus kaki dan kaus tangan putih. Warna badan Kera Bersepatu Boot adalah coklat kehitam-hitaman. Kera Bersepatu Boot memiliki panjang 47,50 hingga 49,50 cm untuk pejantan. Sedangkan untuk betina 39,50 hingga 40,47 cm. Berat rata-rata pejantan adalah 10 kg, betina 6 kg. Kera Bersepatu Boot dapat ditemukan di hutan hujan. 
Kera Bersepatu Boot terbagi menjadi dua sub-spesies, yaitu: Macaca ochreata brunnescens dan Macaca ochreata ochreata, yang keduanya terdistribusi di dua daerah geografi yang berbeda. Macaca ochreata brunescens atau yang nama lokalnya Andoke terdistribusi di kepulauan Buton, sedangkan Macaca ochreata ochreata terdistribusi di Sulawesi Tenggara.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Ordo : Primata
Famili : Cercopithecidae
Genus : Macaca
Spesies : Macaca ochreata

6. Musang Sulawesi


Foto 8. Musang Sulawesi

Musang Sulawesi atau yang nama latinnya Macrogalidia musschenbroekii adalah hewan endemik Sulawesi. Hewan ini mempunyai bulu yang pendek dan halus, berwarna coklat gelap di bagian atas, coklat kuning di bagian bawah badan, coklat hitam di bagian ekor. 
Hewan yang masuk dalam kategori hewan nokturnal ini adalah hewan yang hidup tidak berkelompok, melainkan sendiri-sendiri. Makanannya adalah daging hewan, seperti tikus, ayam, tupai. Hewan ini pandai memanjat pohon. Adapun habitatnya adalah hutan hujan. 
Selain daging hewan, makanan Musang Sulawesi juga adalah buah Enau. Karena itu, keberadaan Musang Sulawesi dapat diperkirakan dengan melihat keberadaan tumbuhan Enau karena hewan ini penyebar benih Enau.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Ordo : Carnivora
Famili : Viverridae
Genus : Macrogalidia
Spesies : Macrogalidia musschenbroekii

7. Kus kus Beruang


Foto 9. Kus kus Beruang

Kuskus Beruang adalah hewan herbivora mirip Kukang, yang memiliki kantung di perutnya seperti Kanguru. Kuskus Beruang adalah jenis Kuskus yang terbesar. Panjangnya 1 meter lebih, dengan rincian: panjang kepala dan badan sekitar 61 cm, panjang ekor sekitar 58 cm. Adapun bobotnya adalah 7 hingga 10 kg. 
Kuskus Beruang memiliki ekor yang kuat yang digunakan untuk melilit batang pohon. Hewan yang gerakannya lamban tapi pasti ini menghabiskan waktu lebih banyak untuk istirahat. Hewan yang masuk dalam kategori hewan diurnal ini hidup tidak berkelompok, melainkan sendiri-sendiri atau berpasang-pasangan. Adapun habitatnya adalah hutan hujan dataran rendah yang ketinggiannya mencapai hingga 600 mdpl.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Ordo : Diprotodontia
Famili : Phalangeridae
Genus : Ailurops
Spesies : Ailurops ursinus

Untuk lanjut ke Fauna Reptil silahkan klik di sini.

Fauna Reptil

8. Buaya Muara


Foto 10. Buaya Muara

Buaya muara atau yang nama latinnya Crocodylus porosus adalah jenis buaya yang terbesar di antara keenam jenis buaya yang terdapat di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Buaya muara dinamakan seperti itu karena habitatnya adalah di muara sungai. Buaya muara memiliki panjang hingga 7 meter. Berat hingga 1000 kilogram. Namun Panjang betinanya hanya 2,5 hingga 3 meter.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Reptilia
Ordo : Crocodylia
Famili : Crocodylidae
Genus : Crocodylus
Spesies : Crocodylus porosus

9. Sanca Bodo


Foto 11. Python molurus bivittatus

Sanca Bodo atau yang nama latinnya Python molurus adalah salah satu jenis ular yang biasa dijadikan hewan peliharaan. Sanca Bodo termasuk kategori hewan nokturnal. Hewan ini hidup tidak berkelompok, melainkan sendiri-sendiri. Habitat hewan yang dalam bahasa Inggris dinamakan Asiatic Rock Python ini adalah hutan hujan, yang dapat ditemui di kaki bukit berbatu, lembah sungai, semak belukar, dan rawa. Hewan ini seringkali ditemukan tidak jauh dari sumber air. 
Sanca Bodo betina memiliki panjang dan bobot yang lebih dari Sanca Bodo jantan. Panjang Sanca Bodo sekitar 5 meter, sedangkan bobotnya sekitar 160 kilogram. Sanca Bodo memiliki kulit yang berwarna krem, coklat hingga coklat tua, dan memiliki pola. 
Sanca Bodo terdiri dari dua (2) sub-spesies, yaitu Python molurus molurus dan Python molurus bivittatus. Python molurus molurus tersebar di India, Bangladesh, Pakistan sampai Nepal. Sedangkan Python molurus bivittatus tersebar di Indonesia, yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sumbawa dan Sulawesi. 
Kedua sub-spesies Sanca Bodo memiliki perbedaan yang cukup mudah diidentifikasi. Python molurus bivittatus berwarna lebih gelap dari Python molurus molurus. Pola pada badan Python molurus bivittatus berbentuk dasar persegi panjang dengan garis batas berwarna hitam, pada bagian kepala terdapat tanda bentuk panah yang juga merupakan bagian dari polanya. Python molurus molurus juga memiliki tanda berbentuk panah di bagian atas kepalanya, namun hanya sebagian atau ujung tanda panahnya memudar.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Famili : Boidae
Genus : Python
Spesies : Python molurus

10. Soa soa


Foto 12. Soa soa
Sumber foto: http://www.dahmstierleben.de

Soa soa atau hewan yang nama latinnya Hydrosaurus amboinensis adalah hewan yang dikatakan mirip dengan dinosaurus. Dikatakan pula Soa soa adalah hewan zaman prasejarah yang masih tersisa hingga kini. Soa soa memiliki semacam layar di ekornya, yang akan mengembang saat merasa dirinya terancam. Panjang badan reptil ini sekitar 120 cm. Hidupnya di pepohonan, juga di pinggiran sungai. Adapun makanannya adalah serangga.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Famili : Agamidae
Sub Famili : Hydrosaurinae
Genus : Hydrosaurus
Spesies : Hydrosaurus amboinensis

11. Penyu Belimbing


Foto 13. Penyu Belimbing

Penyu belimbing adalah jenis penyu terbesar di dunia. Penyu ini dinamakan Penyu belimbing karena cangkangnya yang menyerupai belimbing. Penyu ini mempunyai cangkang berukuran panjang 1 hingga 1,75 meter. Panjang keseluruhannya adalah 1,83 hingga 2,2 meter. Beratnya mencapai 250 hingga 700 kilogram, bahkan dapat mencapai 916 kg dengan panjang keseluruhan 3 meter, seperti pada spesies yang ditemukan di pantai Barat Wales di tahun 1988. Warna Penyu ini adalah hitam dengan bintik-bintik putih dan juga merah jambu. Salah satu hal yang membedakan Penyu belimbing dengan penyu-penyu lainnya adalah tidak terbentuknya sudut yang tajam antara cangkang atas dengan cangkang bawah. 
Penyu belimbing tidak hidup berkelompok, melainkan sendiri-sendiri. Makanannya adalah binatang invertebrata, seperti ubur-ubur. Karena Penyu Belimbing atau penyu pada umumnya adalah hewan yang kebanyakan beraktifitas di air, maka Penyu Belimbing sangat jarang dilihat di daratan. Namun Penyu Belimbing betina dapat dilihat di daratan pada waktu yang digunakan untuk bertelur, yaitu malam hari.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudines
Famili : Dermochelyidae
Genus : Dermochelys
Spesies : Dermochelys coriacea

12. Penyu Tempayan


Foto 14. Penyu Tempayan

Penyu Tempayan adalah jenis penyu yang memiliki cangkang yang berwarna coklat tanah liat. Panjang penyu ini adalah 81 hingga 105 cm, berat 65 hingga 101 kg. Penyu ini memiliki rahang yang sangat kuat untuk menghancurkan mangsanya. Makanannya adalah hewan yang memiliki cangkang, seperti kerang. Namun, penyu ini juga memakan hewan lunak, seperti ubur-ubur.

Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudines
Famili : Cheloniidae
Genus : Caretta
Spesies : Caretta caretta

Untuk lanjut ke Fauna Aves silahkan klik di sini.