Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Rabu, 26 Juni 2013

Flight Plan

Sumber foto: www.vatgia.com

Harapan saya adalah semoga setelah ini saya dapat fokus berfikir tentang bungker.

Saat itu pukul 00.00 WITA. Saya harus tidur pada jam itu, karena saya sudah harus berada di rumah sebelum pukul 07.00 WITA. Saya pun merebahkan badan ke tempat tidur yang mengarah ke televisi. Saya memejamkan mata untuk tidur, namun usahaku tidak berhasil dikarenakan suasana yang sangat hening. Saya pun mengambil remote televisi kemudian menyalakan televisi. Saat itu film yang kebetulan ditayangkan adalah sebuah film yang berjudul: Flight Plan. Awal-awal film, hal yang diperlihatkan adalah seorang ibu di pesawat yang sedang membelai-belai putrinya. Sampai di situ, saya menyetel waktu tidur televisi: 60 menit, agar suasana tidak terlalu hening, lalu tidur. Beberapa menit kemudian, saya terbangun lalu kembali menonton. Pada bagian itu, saya menyaksikan wanita itu panik tiba-tiba. Saat itulah timbul pertanyaan: “mengapa dia panik ???”. Saya pun mulai penasaran.

Wanita itu bertanya pada penumpang yang berada di dekatnya: “Sudah berapa lama kita terbang ?”. Orang itu menjawab: “Sudah 3 jam”. “Oh, saya tertidur sudah begitu lama”.
“Di mana Julia ?”, tanya wanita itu dalam hati. Ia pun mencari anaknya. Dia bertanya-tanya pada orang-orang yang dilaluinya, hingga akhirnya meminta bantuan di awak pesawat. Awak pesawat atau pramugari lalu memintanya untuk memperlihatkan tiket anaknya. Ia pun mengeluarkan tiket di dalam kantongnya yang ternyata hanya berjumlah satu buah. Wanita itu langsung berlari menuju seat-nya, dengan diikuti oleh awak pesawat, kemudian memeriksa bagasinya. “Anak berumur 6 tahun tidak mungkin mengambil ransel dengan bagasi yang setinggi ini”, katanya. “Anakku diculik !!!”. Awak pesawat pun lalu bertanya kepada orang-orang yang duduk di dekat wanita itu: “Apakah kau melihat anaknya ?”. Orang-orang menjawab: “tidak”, dan “dia sepertinya tidak bersama anaknya di pesawat ini”.

Wanita itu pun sedih bercampur panik kemudian meminta kepada awak pesawat untuk memberi pengumuman tentang hilangnya anaknya. Awak itu pun mengabulkan permintaan wanita itu. “…Pesawat kami sepertinya cukup besar untuk membuat seorang anak hilang…”. Masih kurang puas, wanita itu pun meminta untuk dipertemukan oleh kapten pesawat. Permintaannya itu pun dikabulkan lagi, mungkin karena mimik wajahnya. Pertemuan itu dihadiri oleh kapten pesawat, para awak pesawat, wanita itu dan orang yang duduk bersebelahan dengannya yang juga adalah seorang polisi udara. Pertemuan itu bertujuan untuk mencari solusi atas masalah itu.

Sebelum pertemuan, kapten pesawat sudah mendapatkan informasi pribadi mengenai wanita itu. “…David, suami kamu, telah meninggal karena terjatuh dari ketinggian, benar ?”. “Ya”, kata wanita itu. “Apakah kamu sedang mengonsumsi sejenis minuman beralkohol ?”. “Tidak”, jawab wanita itu. “Apakah kamu mengonsumsi obat-obatan atau sejenisnya ?”. “Tidak”, jawabnya lagi. “Saya hanya mengonsumsi obat tidur dua buah pagi ini, sama halnya dengan penumpang yang lain”, tambahnya.

“Apakah kau melihat dia bersama putrinya saat masuk di dalam pesawat?”, tanya kapten pada awak pesawat yang bertugas di bagian itu. “Tidak”, jawabnya. Orang yang duduk bersebelahan dengan wanita itu kemudian menambahkan: “Dia sepertinya juga tidak bersama putrinya di pesawat ini”. Wanita itu pun meminta kepada kapten agar para awaknya mencari putrinya di segala ruangan. Kapten pun mengabulkan permintaannya dan awak pesawat patuh. Selama pencarian itu, kapten mencari informasi mengenai daftar penumpang. Wanita itu mengawasi awak-awak pesawat, apakah dia mengerjakan apa yang diperintahkan kapten itu atau tidak.

“Kami sudah melihat daftar penumpang, ada 32 anak di pesawat ini, dan betul, anakmu tidak ada di pesawat ini”, kata kapten pesawat.
Sampai di bagian itu, saya jengkel dan berkata dalam hati: “Lagi frustasi itu kayaknya cewekka”. “Sudah banyak orang yang dia repotkan”. Saya pun sudah tidak berpihak kepada wanita itu, dan juga semua orang yang ada dalam pesawat itu. Sampai di situ, saya berniat untuk menyalakan komputer kemudian online untuk googling sinopsis cerita film itu, lalu beres, sayapun bisa tidur. Akan tetapi saya memberi kesempatan pada film itu. Wanita itu kini hanya sendiri, karena saya sudah tidak berpihak lagi padanya.

Wanita itu dengan rasa paniknya yang bertambah besar, lanjut mencari lagi putrinya. Mungkin karena sudah bosan, orang/ polisi udara yang duduk bersebelahan dengan wanita itu kemudian menyinggung: “Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa putrimu diculik ?”. “Untuk apa orang mau mencelakaimu ?”. “Apa istimewamu ?”. Wanita itu pun menjawab: “Saya pernah bekerja di penerbangan, dan saya tahu detail pesawat ini”.

Karena salah seorang penumpang sudah muak dengan wanita itu, ia lalu memukulinya hingga wanita itu jatuh pingsan. Wanita itu pun diborgol oleh polisi udara yang duduk bersebelahan dengannya, agar dia tidak mengganggu. Setelah sadar, seorang wanita yang sepertinya seorang psikolog mengajaknya ngobrol: “bisakah kau menceritakan sedikit tentang suamimu ?”. Wanita itu tidak berkata apa-apa. Lalu, dengan tekniknya, orang yang sepertinya psikolog itu dapat membuat wanita itu menceritakan tentang suaminya. Orang itu lalu mengajak wanita itu berimajinasi: “bayangkan suamimu sedang berada di suatu pulau yang setiap saat dapat kau kunjungi”. Wanita itupun berimajinasi, kemudian raut wajahnya sudah mulai terlihat membaik. Tiba-tiba wanita itu minta izin ke toilet dengan alasan ia butuh waktu untuk sendiri. Polisi itupun mengawalnya menuju toilet. Di toilet, wanita itu naik ke atas pelapon yang sudah diketahuinya adalah ruang kendali rahasia. Dia pun memainkan kendali itu, untuk membuat para penumpang panik. Dengan situasi itu, dia dapat pergi ke beberapa ruangan yang belum diperiksa oleh awak pesawat sebelumnya. Belum sampai di ruangan terakhir yang belum diperiksa, wanita itu telah lebih dulu ditangkap oleh polisi itu. Dia lalu digiring kembali ke seat-nya.

Pesawat tinggal beberapa menit lagi mendarat. Polisi udara memanggil seorang pramugari yang berada di depannya lalu memintanya menjaga wanita itu karena dia mau pergi sebentar. Saat itu, wanita itu bertanya kepada pramugari itu: “ke mana kau sewaktu para awak pesawat sedang mencari-cari anakku ?” pramugari itu kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum sembari mengatakan: “Aku turut bersedih atas apa yang sedang menimpamu”.

Beberapa saat kemudian, saya menyaksikan seorang anak perempuan yang sedang tertidur di suatu ruangan, dan polisi udara itu yang sedang menaruh alat peledak di sekitar anak itu. Ternyata pesawat itu sedang dibajak oleh polisi udara itu yang bekerja sama dengan seorang pramugari. Peristiwa hilangnya putri wanita itu sudah direncanakan, dan semua kejadian di atas pesawat pun demikian. Sepertinya itulah alasan mengapa film itu diberi judul Flight Plan. Di akhir cerita, senjata makan tuan. Pembajak itu terkena bomnya sendiri, yang diledakkan oleh wanita itu. Setelah kejadian itu, wanita itu, bersama putrinya, keluar dari pesawat, dan orang-orang yang telah bersamanya di dalam pesawat kemudian tersenyum, seolah mengatakan: PERJUANGANMU SUNGGUH HEBAT !

Film Flight Plan adalah sebuah film yang menarik, walaupun backgroundnya hanya di dalam pesawat, bagi saya. Film itu mengajarkan kita arti sebuah perjuangan. Jika kau meyakini sesuatu, yang sesuatu itu berdasarkan pada kebenaran, maka pertahankanlah sesuatu itu. Jangan hiraukan komentar negatif orang-orang di sekelilingmu. Pada film itu, pemeran utamanya hanya berjuang ‘sendiri’. Ada 400-an orang di sekililingnya, dan semuanya tidak ada yang berpihak padanya. Namun walaupun demikian, ia tetap berjuang karena dia yakin bahwa dia benar.

Ngomong-ngomong, sudah pukul 5.27 WITA mi ini. Betul-betul ini film Flight Plan…