Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Senin, 20 Februari 2012

Manusia Komponen Sistem Alam Semesta

         
        Manusia merupakan komponen sistem alam semesta. Sistem adalah satuan yang terdiri dari komponen-komponen atau subsistem-subsistem yang mempunyai hubungan saling ketergantungan satu sama lain untuk suatu tujuan. Jadi, sistem alam semesta ini pun diciptakan oleh si pencipta sistem untuk suatu tujuan. Walaupun belum diketahui tujuan diciptakannya sistem alam semesta, tapi si pencipta sistem sudah menerangkan kepada masing-masing komponen suatu prosedur-prosedur untuk mencapai tujuan sistem alam semesta. Adapun beberapa komponen-komponen sistem alam semesta adalah manusia, hewan, dan tumbuhan, yang ketiganya saling bergantung satu sama lain.  Namun, diantara komponen-komponen tersebut, komponen yang paling berperan penting dalam sistem alam semesta adalah manusia. Manusia adalah komponen yang termulia yang telah diciptakan oleh si pencipta sistem. Manusia adalah komponen yang telah diberikan kelebihan di antara semua komponen yang ada di alam semesta.
Kelebihan tersebut tak terhingga bila dimanifestasikan dalam syukur. Walaupun demikian, komponen yang termulia dan yang dilebihkan di antara semua komponen ini, haruslah tetap bersyukur. Pencipta sistem alam semesta ini adalah Allah subhanahuwata’ala, yang hidup kekal, berdiri sendiri, dan tidak ada yang menyamai-Nya. Kita diperintahkan untuk bersyukur atas kelebihan yang telah diberikan kepada kita. Kelebihan utama yang telah diberikan-Nya itu adalah pikiran, yang terdapat di dalam otak, yang terletak di kepala. Itulah sebabnya, sewaktu melaksanakan prosedur sholat, dalam prosedur tersebut, ada yang namanya sujud. Sujud adalah kepala ditundukkan dan disentuhkan ke tanah yang maknanya adalah rasa syukur terbesar kita kepada-Nya atas pemberian otak—yang di dalamnya terletak pikiran—ini.
Manusia: saya, anda, dan semua orang adalah komponen sistem alam semesta. Oleh karena itu, manusia dan bumi membutuhkan kita. Dan oleh karenanya pula, kita tidak boleh beranggapan bahwa keberadaan kita tidak penting di dunia ini. Tingkah laku kita, akan berpengaruh terhadap alam semesta ini.
Sistem alam semesta ini sangatlah rumit, jika ingin diketahui. Bahkan mungkin tidak dapat diketahui. Tapi, karena dalam diri kita terdapat hasrat ingin tahu, maka kita tetap berupaya untuk mengetahui sistem alam semesta ini. Komponen manusia adalah merupakan suatu sistem dari sistem alam semesta. Sistem yang terdapat dalam sistem disebut subsistem. Suatu subsistem berhubungan dengan subsistem lain. Suatu sistem yang lebih besar adalah lingkungan bagi sistem yang lebih kecil. Dalam suatu sistem, dikenal istilah input, proses, dan output. Kita mempunyai 5 panca indera. Indera penglihatan, indera pendengaran, indera penciuman, indera pengecap, dan indera peraba. Kita dan lingkungan (sistem yang lebih besar) saling berinteraksi. Interaksi tersebut adalah interaksi antar subsistem dari sistem alam semesta. Contoh: indera penglihatan seorang pemburu ‘menangkap’ suatu komponen obyek rusa. Maka ‘tangkapan’ komponen obyek rusa tersebut adalah input yang kemudian diproses oleh otak. Hasil proses—yang kemudian disebut output—itu merubah (mentransformasi) si pemburu. Hasil proses tersebut kemudian menimbulkan suatu perasaan. Perasaan tersebut kemudian merubah gerak tubuh, maupun ekspresi wajah pemburu. Hasil gerakan tubuh (yang misalnya: menusukkan tombak ke tubuh rusa, yang membuat rusa tersebut mati) kemudian akan memberi pengaruh terhadap sistem alam semesta.
Untuk menambah kesadaran bahwa kita adalah komponen sistem alam semesta, maka penulis memaparkan sebuah contoh lagi. Contoh yang sudah sangat umum, yaitu komponen siklus hidrologi (komponen sirkulasi air). Air di bumi, memiliki jumlah yang tetap. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita bertanya: mengapa terjadi hujan? Maka jawabannya adalah: karena panas matahari membuat air menguap, kemudian uap tersebut bergerak ke atas. Suhu udara semakin ke atas, maka akan semakin rendah. Pada tingkatan tertentu, maka uap air berubah wujud menjadi zat padat, yang kemudian dikenal dengan nama: awan. Awan tersebut kemudian dipengaruhi oleh daya tarik (gravitasi) bumi, sehingga awan tersebut jatuh ke bumi dalam bentuk titik-titik air, yang kemudian dinamakan: hujan. Namun, pada hakekatnya, mengapa terjadi hujan adalah karena makhluk hidup membutuhkan air. Dengan hujan, maka tumbuh-tumbuhan tumbuh, hingga menghasilkan buah. Buah tersebut kemudian dinikmati oleh manusia dan hewan.
Pemikiran adalah awal suatu hasil. Apa yang kita pikirkan hari ini adalah realita di hari esok. Jika kita memilih untuk menanam benih apel, maka yang tumbuh adalah bukan anggur, bukan jeruk, bukan durian, ataupun langsat, melainkan buah apel. Begitupun dengan pemikiran. Jika kita menanamkan pikiran positif di dalam benak kita, maka hasilnya adalah hal positif. Jika kita menanamkan pikiran negatif, maka hasilnya adalah hal negatif. Pikiran kita, akan berpengaruh terhadap alam semesta. Oleh karena itu, kita harus memilih pikiran yang sebaik-baiknya untuk ditanam di benak kita demi kebaikan kita sendiri, dan kebaikan bersama. Dengan itu, maka terciptalah kedamaian. Peace. J
Alhamdulillah...