Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Kamis, 23 April 2020

AWAL MASUK VIRUS CORONA DI INDONESIA

Sumber foto: http://blog.ryan-collection.com/?p=3328

Pendahuluan

Dalam masalah penyebaran wabah, terdapat sebuah istilah yang menarik, yaitu pasien 0. Istilah tersebut sebenarnya berawal dari sebuah kesalahpahaman yang terjadi pada saat wabah HIV. Pada saat itu, karena kesalahan baca, istilah pasien 0 yang dimaksud adalah pasien o (bukan angka nol melainkan huruf “o”) yang kepanjangannya adalah pasien “outside”. Kesalahan tersebut pun bertahan hingga saat ini. Pasien 0 sendiri adalah orang yang pertama kali terjangkit wabah. 

Untuk kasus sebuah pandemik, apalagi pandemik global seperti yang terjadi saat ini, maka tentulah sangat sulit untuk mengidentifikasi siapa pasien 0 dan para peneliti pun belum dapat mengidentifikasinya hingga saat ini. Sejauh yang kita ketahui bersama bahwa wabah COVID-19 berawal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Negara Cina. Kemudian menyebar hingga hampir ke seluruh permukaan bumi. 

Berbeda halnya dengan wabah virus Ebola yang terjadi pada tahun 2014 lalu di beberapa negara di dunia. Virus tersebut belum dapat dikategorikan sebagai pandemik global karena hanya mewabah di beberapa negara saja, seperti: Afrika, Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, dan beberapa negara lainnya. Mungkin istilah yang tepat untuk kasus itu adalah pandemik benua, satu tingkat ke bawah dari pandemik global. Implikasinya adalah walaupun pasien 0 sulit diidentifikasi, tapi masih memungkinkan dan para peneliti pun dapat mengidentifikasinya pada saat itu, yaitu seorang anak di Guinea yang diduga terinfeksi pada saat bermain di sebuah pohon yang merupakan sarang kelelawar. 
Mengetahui siapa pasien 0 adalah hal yang penting dalam ilmu pengetahuan, karena dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meliputi: kapan, mengapa, dan bagaimana suatu wabah dapat bermula. Tapi di sisi lain, memiliki dampak negatif. Seseorang yang teridentifikasi sebagai pasien 0 bisa dianggap sebagai “biang kerok” atau pembawa masalah oleh masyarakat. Oleh karenanya, beberapa ilmuwan tidak suka dengan istilah tersebut, dan oleh karenanya pula dalam tulisan ini penulis tidak menggunakan istilah pasien 0.

Awal Masuk Virus Corona di Indonesia

Senin, 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama Virus Corona di Indonesia, yaitu dua orang perempuan yang memiliki hubungan ibu dan anak, warga Depok, Jawa Barat. Keduanya diberi istilah dengan pasien 1 dan pasien 2. Pasien 1 bernama Sita Tyasutami, berumur 31 tahun, yang merupakan penari professional atau guru dansa; dan pasien 2 (ibunya) bernama Maria Darmaningsih, berumur 64 tahun, Dosen Tari di Institut Kesenian Jakarta. 

Kejadiannya bermula pada tanggal 14 Februari 2020. Saat pasien 1 melakukan kontak fisik dengan WN (Warga Negara) Jepang, seorang perempuan berusia 41 tahun yang bekerja (berdomisili) di Malaysia sejak 14 Februari 2020, yang merupakan teman dekat pasien 1. Kontak fisik yang dimaksud adalah berdansa. Dua hari kemudian, tanggal 16 Februari 2020, pasien 1 mengalami batuk-batuk sehingga membawa dirinya ke rumah sakit terdekat. Mungkin karena dianggap batuk biasa, pasien 1 diperbolehkan pulang dan mengalami rawat jalan. Namun, batuk yang dideritanya tidak kunjung sembuh, sehingga pada tanggal 26 Februari 2020, ia dirujuk ke sebuah rumah sakit. Pada saat itulah, batuk yang dideritanya disertai dengan sesak napas. 

Tanggal 28 Februari 2020, pasien 1 mendapatkan telepon dari temannya (WN Jepang) di Malaysia bahwa temannya tersebut telah dinyatakan positif Corona. Mendengar berita tersebut, pasien 1 lalu memberitahukan informasi tersebut ke perawat rumah sakit. 

Kasus WN Jepang tersebut merupakan kasus ke-24 di Malaysia, yang telah dirawat di rumah sakit sejak 17 Februari 2020. Tes dilakukan pada tanggal 20 Februari 2020, dan hasilnya baru dikonfirmasi positif Corona pada tanggal 27 Februari 2020, 1 hari sebelum ia menelepon pasien 1. 

Menanggapi pemberitahuan dari pasien 1, pihak rumah sakit lalu memasukkan pasien 1 dalam status pemantauan. Hingga pada akhirnya, pasien dinyatakan positif Corona pada tanggal 1 Maret 2020. Tidak hanya ia, ibunya pun dinyatakan positif Corona. Selanjutnya, pasien dibawa ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Setelah kejadian ini, pemerintah membentuk tim khusus untuk melakukan tracing, untuk mengetahui siapa-siapa saja yang telah melakukan kontak dengan pasien 1. Karena orang-orang yang telah melakukan kontak dengan pasien 1, kemungkinan besarnya juga tertular Virus Corona. 

Pengumuman kembali dikeluarkan oleh pemerintah pada tanggal 6 Maret 2020 mengenai kasus penginfeksian virus Corona, yaitu 2 orang: pasien 3 dan pasien 4. Informasi tersebut merupakan hasil tracing dari pasien 1, oleh tim khusus yang telah dibentuk oleh pemerintah sebelumnya. Pasien 3 adalah Ratri Anindyajati, seorang wanita berusia 33 tahun, kakak pasien 1. 

Tanggal 2 Maret 2020, pasien 3 diperiksa dan hasilnya adalah negative Corona. Dua hari kemudian, tanggal 4 Maret 2020, pasien ketiga dipanggil kembali untuk diperiksa ulang, dan hasilnya adalah positif Corona. Pasien 3 ini dirawat di RSPI Sulianto Saroso sejak 4 Maret 2020. Kemudian pada Senin (16 Maret 2020), pasien 3, pasien 1 dan pasien 2 diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena dinyatakan sudah sembuh. Selanjutnya, pasien keempat adalah seseorang yang berusia 34 tahun dan jenis kelamin tidak disebutkan. 

Tanggal 8 Maret 2020, pemerintah kembali mengumumkan kasus 5 Virus Corona, yaitu pasien 5, seorang laki-laki berumur 55 tahun. Kasus ini merupakan hasil tracing dari pasien 1. Baik kasus 1, 2, 3 dan 4 dan 5 semuanya di Jakarta. 

Tanggal 9 Maret 2020, pemerintah mengumumkan lagi kasus Virus Corona, yaitu jumlah orang yang terinfeksi mencapai 19 orang. Kasus 6 atau pasien 6 bukan merupakan hasil tracing dari kasus awal. Ia adalah seorang laki-laki berumur 36 tahun, yang merupakan ABK (Anak Buah Kapal) kapal pesiar Diamond Princess, di Jepang yang sempat di karantina di Yokohama, pada bulan Februari. Kasus 6 ini adalah imported case, yakni Warga Negara Indonesia (WNI) yang kasus penularannya terjadi di luar Indonesia. Pasien 7 dan 8 adalah pasangan suami istri. Pasien 7 adalah seorang perempuan, berumur 59 tahun diketahui baru pulang dari luar negeri. Dengan begitu, kasus 7 ini merupakan imported case pula. Pasien 8 adalah suaminya yang berusia 56 tahun, tertular dari istrinya. Pasien 9 adalah seorang perempuan berusia 55 tahun yang baru datang dari luar negeri. Ini juga merupakan Imported case. 

Pasien 10, 11, dan 12, merupakan hasil tracing dari pasien 1. Pasien 10, seorang laki-laki berusia 29 tahun, dan pasien 11 seorang perempuan berusia 54 tahun. Keduanya adalah Warga Negara Asing (WNA), yang tidak disebutkan asal negaranya. Selanjutnya, pasien 12 adalah seorang laki-laki berumur 31 tahun. 

Pasien 13 adalah seorang perempuan berusia 16 tahun, masih ada hubungannya dengan pasien 3. Pasien 14, seorang laki-laki berusia 50 tahun, dan pasien 15 seorang perempuan berusia 34 tahun (namun di salah satu sumber lain mengatakan berusia 43 tahun). Pasien atau kasus 14 dan 15 adalah imported case. Pasien 16, adalah seorang perempuan berusia 17 tahun yang masih ada kaitannya dengan kasus 15. 

Selanjutnya pasien 17, 18 dan 19 semuanya adalah laki-laki yang secara berurutan berusia 56 tahun, 55 tahun, dan 40 tahun. Ketiganya diketahui baru bepergian di negara yang memang sudah terinfeksi virus Corona. Dengan begitu, kasus untuk ketiga pasien ini adalah imported case. 

Tanggal 10 Maret 2020, pemerintah kembali mengumumkan jumlah positif corona di Indonesia bertambah 8 orang (2 orang WNA, dan 6 orang WNI), sehingga total menjadi 27 orang. Pasien 20 adalah WNI. Pasien 21 juga WNI, dari Jakarta. Pasien 22 merupakan seorang perempuan berusia 36 tahun yang masuk dalam imported case. Pasien 23 adalah seorang perempuan berusia 73 tahun yang masuk dalam imported case. Pasien 24 adalah seorang laki-laki berusia 46 tahun, WNI. Pasien 25 adalah seorang perempuan berusia 53 tahun, WNA dan masuk dalam kategori imported case. Pasien 26 adalah seorang laki-laki berusia 46 tahun. Terkahir, pasien 27 adalah seorang laki-laki berusia 33 tahun. 

Untuk lebih mudahnya, berikut bagannya:

Selanjutnya berikut laju virus corona di Indonesia, berdasarkan sumber COVID19.GO.ID:
Dibuat oleh: Lukman Hakim

Dibuat oleh: Lukman Hakim

Prediksi Sebelumnya

Sebelumnya, Dr. Nuning Nuraini, Kamal Khairudin S., dan Dr. Mochamad Apri S, ilmuwan dari Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS), Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan prediksi bahwa puncak wabah di Indonesia berada pada pertengahan April, tepatnya 12 April 2020 dengan jumlah kurang lebih 8.000 kasus. Prediksi tersebut diberitakan pada tanggal 18 Maret 2020 melalui website https://www.itb.ac.id/

Prediksi tersebut didasarkan pada pembuatan model, pengembangan dari model Richard’s Curve (kurva Richard), yang diperkenalkan oleh F.J Richards. Model kurva tersebut dipilih karena terbukti memberi hasil yang baik sebelumnya, yaitu pada kasus endemik SARS di Hong Kong pada tahun 2003. Sekarang adalah 23 April 2020, dan jumlah positif Corona di Indonesia sebanyak 7.418 kasus. Dengan begitu, prediksi yang dibuat oleh Dr. Nuning beserta rekannya bisa dibilang hampir tepat. Berikut kurva yang dimaksud:

Minggu, 19 April 2020

JANGAN MELUPAKAN CORONA

Sumber Foto: https://qz.com/1600886/the-best-thing-you-can-do-on-earth-day-is-sit-perfectly-still/

Saat ini, bumi kita sedang dilanda sebuah wabah bernama COVID-19. Dalam menanggapi wabah yang tersebut, ada berbagai tanggapan dari kita, mulai dari yang sangat cuek, cuek, biasa-biasa saja, khawatir, dan sangat khawatir. Penulis sendiri, berada di tingkat khawatir. Entah apa penyebabnya yang membuat kita menjadi berbeda dalam menanggapi wabah tersebut. 

Rasa ketertarikan penulis terhadap virus, berawal dari tahun 2013, dari sebuah buku yang tanpa sengaja penulis beli di sebuah toko buku di Makassar. Buku tersebut berjudul Hot Zone, karya Richard Preston, terbitan tahun 1994, yang berisi sebuah kisah nyata mengenai penginfeksian Virus Ebola. Melalui buku tersebut, virus yang pertama kali penulis kenal adalah Virus Ebola. Pengetahuan-pengetahuan yang penulis peroleh dari buku tersebutlah yang mungkin secara tidak langsung menjadi penyebab rasa khawatir penulis dalam menanggapi wabah COVID-19 ini.

Jika mau dibandingkan antara Virus Ebola dengan Virus yang menyebabkan COVID-19, maka virus yang meyebabkan COVID-19 ini tidak ada apa-apanya. Virus Ebola lebih ganas dari virus tersebut. Jika terdapat 10 orang yang terinfeksi Virus Ebola, maka hanya satu orang yang kemungkinan dapat bertahan hidup. Jika di antara 90% populasi yang terinfeksi, maka kemungkinan yang dapat bertahan hidup hanya 10%. Virus Ebola juga hanya membutuhkan waktu 2 minggu untuk membunuh suatu organisme. Hal ini pula yang membuat penulis bersyukur, karena virus yang mengglobal ini, bukan jenis virus seperti virus Ebola. Padahal secara teori, virus Ebola dapat menyebar hingga ke seluruh permukaan bumi.

Adapun kekhawatiran lain penulis adalah jika wabah ini dilupakan nantinya. Karena tidak begitu berkesan, wabah ini memiliki potensi untuk dilupakan. Padahal, wabah COVID-19 ini sudah merupakan bagian dari sejarah dunia yang memiliki dampak yang cukup berarti, terutama bagi ekonomi dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Beberapa dampak yang cukup berarti bagi penulis adalah tidak ada lagi sholat berjamaah di masjid, tidak ada lagi sholat Jumat, bahkan pemerintah akan memberlakukan aturan tidak diperbolehkan sholat taraweh, buka puasa bersama, dan tidak diperbolehkan sholat Idul Fitri. Selain itu, dampak yang berarti juga adalah dalam dunia kampus. Pertemuan tatap muka antara dosen dengan mahasiswa beralih ke sistem daring (dalam jaringan), dan masih banyak lagi dampak-dampak lain yang cukup berarti yang tidak sempat penulis uraikan satu persatu dalam tulisan ini. Dengan dampak-dampak tersebut, maka sejarah akan wabah ini tidak patutlah untuk dilupakan.

Virus Corona yang sedang mewabah secara global ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya sudah ada 6 varian virus yang telah ditemukan, yaitu: 229E, NL63, OC43, HKU1, MERS-CoV, dan SARS-CoV. Keenam varian virus tersebut masuk ke dalam Family Virus Corona (Coronaviridae) yang dapat menginfeksi manusia. Dengan munculnya Virus Corona varian baru ini, berarti sudah ada 7 varian virus Corona yang dapat menginfeksi manusia.

Adapun nama virus yang sedang mewabah ini adalah Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau Koronavirus Sindrom Pernapasan Akut Berat 2. Nama itu diberikan oleh Kelompok Studi Virus Corona dari International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) atau Komite Internasional Taksonomi Virus. Pada awal-awal kemunculannya, virus ini diberi nama sementara Novel Coronavirus (novel dalam Bahasa Inggris berarti kata sifat yang artinya baru) disingkat NCoV yang dideklarasikan oleh pemerintah Jepang bertepatan dengan kasus pertama penginfeksian di negaranya pada tanggal 16 Januari 2020. Namun walaupun nama virus corona varian baru ini sudah ada, sebagian orang masih menyebut nama virus corona varian baru itu dengan nama sementaranya, mungkin karena lebih enak disebut dan lebih mudah diingat. Selanjutnya pada tanggal 11 Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Heritage Organization (WHO) mendeklarasikan nama resmi dari penyakit yang disebabkan oleh NCoV sebagai COVID-19 (Co adalah Corona, Vi adalah Virus, D adalah Disease, dan angka 19 adalah tahun dimana wabah virus pertama kali diidentifikasi, yaitu pada tahun 2019, tepatnya pada tanggal 31 Desember 2019).

Sejak saat itu, ternyata wabah COVID-19 terus saja meluas. Hingga pada tanggal 11 Maret 2020, WHO membuat sebuah deklarasi yang menyatakan bahwa COVID-19 adalah sebuah pandemik. Pernyataan tersebut diawali dengan penguraian fakta: 118.000 lebih kasus penginfeksian dengan 114 negara yang terinfeksi dan 4.291 orang yang telah meninggal. 

Ada hal yang juga cukup menarik untuk dibahas terkait Virus Corona, yaitu asal-usul penamaannya. Mengapa dinamakan Virus Corona? Jawabannya simpel karena bentuknya seperti Corona Matahari saat dilihat menggunakan mikroskop.

Foto 1  Virus Corona (SARS-CoV-2)
Sumber:  https://hpd.de/artikel/neue-ziele-fuer-alte-medikamente-17942
Foto 2  Corona Matahari yang tampak jelas saat Gerhana Matahari Total tahun 1999 di Prancis
Sumber: Wikipedia 
Foto 3  Virus Corona lainnya
Sumber: Wikipedia
Karena bentuknya yang bulat, maka virus corona dapat juga diberi nama Virus Bulat, tapi mengapa meski dinamakan virus corona? Hal tersebut adalah hak preogratif sang peneliti. Nama Virus Corona pertama kali diperkenalkan pada tahun 1968 oleh kelompok informal virolog dalam jurnal Nature. Diberi nama demikian, karena pada saat dilihat di bawah mikroskop, virus tersebut mengingatkan pada corona matahari. 

Corona matahari adalah atmosfir terluar matahari yang baru dapat terlihat jelas saat Gerhana Matahari Total (Total Eclipse). Lantas, mengapa atmosfir terluar matahari itu dinamakan dengan corona atau mahkota? Lagi-lagi hal tersebut adalah hak preogratif sang peneliti. Penamaan corona matahari diberikan oleh seorang ahli astronomi asal Spanyol bernama José Joaquin de Ferrer pada tanggal 16 Juni 1806. Pada saat itu, ia membuat sebuah sketsa Gerhana Matahari Total dan menamakan atmosfir terluar matahari yang dilihatnya dengan nama corona atau mahkota.
Gambar 1  Sketsa Gerhana Matahari Total tanggal 16 Juni 1806
oleh Jose Joaquin de Ferrer
Sumber: https://www.nasa.gov/content/goddard/1806-sketch-of-solar-eclipse

Kembali ke asal-muasal penyebaran SARS-CoV-2. Pada awalnya, yaitu pada tanggal 22 Januari 2020, diterbitkan sebuah laporan penelitian melalui sebuah jurnal bernama Journal of Medical Virology yang menyatakan bahwa reservoir atau perantara virus yang paling memungkinkan adalah ular, namun demikian masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Beberapa ilmuwan juga percaya bahwa virus corona berasal dari ular yang sangat berbisa (Bungarus multicinctus) yang dijual di pasar Wuhan, Cina. Akan tetapi, pernyataan tersebut dikritik melalui sebuah artikel yang diterbitkan di Jurnal Nature yang menyatakan bahwa ular sangat tidak mungkin menjadi reservoir, hewan yang lebih memungkinkan menjadi reservoir adalah hewan mamalia.
Foto 4  Bungarus multicinctus
Sumber: https://indonesian.alibaba.com/product-detail/bungarus-multicinctus-109023545.html

Selama masa perdebatan tersebut, muncul lagi hasil penelitian oleh seorang peneliti dari Institut Virologi Wuhan, Rumah Sakit Jinyintan Wuhan, Universitas Akademi Sains Tiongkok, dan Centers for Disease Control and Prevention (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) disingkat CDC Provinsi Hubei, Cina, melalui “jurnal bioRxiv”, yang mengatakan bahwa NCoV berasal dari kelelawar, karena berdasarkan analisis mereka, virus corona yang terdapat pada manusia memiliki kemiripan sebesar 96% dengan virus corona yang terdapat pada Rhinolophus affinis, spesies kelelawar yang banyak ditemukan di Cina.
Foto 5  Rhinolophus affinis
Sumber: https://www.sciencephoto.com/

Penulis sendiri belum mengetahui, apakah Rhinolophus affinis juga dijual di Pasar Seafood Huanan, Kota Wuhan, Cina atau tidak. Sebatas yang penulis ketahui bahwa pasar tersebut tidak mengacu pada namanya, karena di sana dijual juga daging-daging hewan non-seafood, seperti: merak, anjing, babi, keledai, domba, landak, dan hewan-hewan ekstrem, seperti: ular, buaya, anak serigala, kelelawar, dan tikus bambu. Hal yang jelas adalah penginfeksian NCoV ini berawal dari hewan ke hewan, kemudian bermutasi sehingga bisa bertransimisi dari hewan ke manusia, dan kemungkinan besarnya dari kelelawar, dan dunia percaya bahwa sumber wabah NCoV berasal dari Pasar Seafood Huanan, Kota Wuhan, Cina. Karena kebanyakan korban juga pada awalnya berasal dari para konsumen pasar tersebut. Jika ingin melihat betapa ekstremnya pasar Huanan, silahkan searching di internet, karena atas pertimbangan tertentu, penulis tidak mencantumkan foto pasar tersebut dalam tulisan ini. 

Selain itu, adapula orang yang berpikiran liar mengenai asal-muasal penyebaran NCoV. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah sebuah kesengajaan yang menjadikannya sebagai senjata biologis. Adapula yang memberitakan bahwa ini adalah sebuah kecelakan kebocoran virus di laboratorium virus di Wuhan, Cina. Penulis sendiri lebih cenderung ke pernyataan pertama, yaitu tidak ada unsur kesengajaan, dan berasal dari Rhinolophus affinis. 

Hal yang dapat disimpulkan dari tulisan ini adalah penamaan antara virus dan penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut. Di kalangan masyarakat awam, masih banyak orang yang keliru soal penyebutan nama antara virus dan penyakitnya. Oleh karenanya, dalam tulisan ini dipertegas, nama varian virus Corona yang mewabah saat ini adalah Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau Koronavirus Sindrom Pernapasan Akut Berat 2. Walaupun demikian, masih terdapat orang yang menyebut virus tersebut dengan nama Novel Coronavirus (NCoV). Hal tersebut juga tidak salah. Penulis sendiri masih sering menyebut nama virus corona varian baru itu dengan nama sementaranya, karena lebih enak disebut dan lebih mudah diingat. Selanjutnya, nama penyakit yang disebabkan oleh NCoV adalah COVID-19 (Corona Virus Disease 2019). 

NCoV adalah varian baru virus corona. Dalam sistem klasifikasi, NCoV termasuk dalam Spesies SARS-CoV, Genus Betacoronavirus (Beta-CoV), Family Coronaviridae, Kingdom Virus. Saat ini, sudah ditemukan 7 varian virus Corona, yaitu: 229E, NL63, OC43, HKU1, MERS-CoV, SARS-CoV, dan SARS-CoV-2. 

Teori yang paling kuat mengenai asal-muasal NCoV adalah penginfeksian dari hewan ke hewan yang kemudian bermutasi hingga dapat bertransmisi dari hewan ke manusia. Hewan yang diduga kuat menjadi reservoir (perantara virus) adalah kelelawar spesies Rhinolophus affinis, yang banyak ditemukan di Cina, dan sumber wabah berasal dari Pasar Seafood Huanan, Kota Wuhan, Cina. 

Akhir kata, penulis bukanlah seorang ahli virus, sehingga tidak pantaslah kiranya jika penulis membuat tulisan mengenai virus ini. Banyak tulisan yang membahas Virus Corona yang jauh lebih baik dari tulisan ini. Namun, tulisan ini dibuat atas dasar tiga alasan. Alasan pertama adalah agar orang-orang tidak melupakan bahwa bumi kita pernah dilanda wabah COVID-19, yang dampaknya cukup berkesan, utamanya dari segi ekonomi dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Alasan kedua adalah agar pengetahuan-pengetahuan yang penulis peroleh dapat bertahan sedikit lebih lama. Penulis percaya bahwa dengan menulis, pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh dapat bertahan lebih lama. Alasan ketiga adalah agar tidak ketinggalan informasi.

Sebagai penutup, dengan rendah hati, penulis menyadari bahwa tulisan ini masih memiliki banyak kekurangan. Hal yang penting adalah bahwa kita harus selalu waspada, dan tetap menjaga kesehatan, agar terhindar dari COVID-19. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Semoga kita semua, khususnya para pembaca, terhindar dari COVID-19.