Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Kamis, 11 Oktober 2012

Majapahit: Sedikit Tentang Maritimnya

sumber foto: id.wikipedia.org

Pengantar 

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan yang mulai ada sejak abad XIV s.d XV M. Pendirinya adalah Raden Wijaya. Raja-raja yang terkenal di kerajaan tersebut adalah Raden Wijaya (sebagai pendirinya) dan Hayam Wuruk. Hayam Wuruk sendiri terkenal karena selama masa pemerintahannya, ia telah berhasil melakukan ekspansi wilayah. Sebelum kerajaan Majapahit, berdiri kerajaan Singasari. Kerajaan Majapahit didirikan di atas reruntuhan Kerajaan Singasari. Menurut beberapa sumber, dikatakan bahwa kata Majapahit berasal dari nama buah: Maja, yang memang rasanya pahit. Sehingga diberilah nama Majapahit. Ada pun yang menjadi sumber data para peneliti untuk menyusun sejarah kerajaan ini adalah naskah, prasasti, laporan perjalanan dan artefak seperti candi, arca, dan relief pada candi. Selain itu, sumber data lainnya adalah artefak-artefak yang terdapat di dalam tanah. 

Saya sendiri sebenarnya belum layak untuk membuat tulisan mengenai Majapahit, oleh karena pemahaman mengenai kerajaan tersebut masih kurang. Oleh karena itu, untuk dapat dikatakan layak, saya harus membaca tulisan-tulisan mengenai Majapahit untuk mendapatkan pemahaman mengenai kerajaan tersebut. Adapun referensi mengenai Majapahit dari tulisan ini adalah: draft seminar yang diperoleh dari Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) II, artikel mengenai Krtanagara yang ditulis oleh Agus Aris Munandar, dan artikel-artikel dari hurahura.wordpress.com. Selain itu, pemahaman mengenai kerajaan Majapahit juga diperoleh melalui diskusi-diskusi dengan teman-teman dari Udayana dan UGM via facebook (thanks bantuannya ya). 

Walaupun telah membaca tulisan-tulisan yang telah disebutkan di atas, pemahaman mengenai kerajaan Majapahit masih kurang. Oleh karena itu, tulisan ini masih perlu dan butuh diklarifikasi. Adapun yang akan dibahas pada tulisan ini adalah kemaritiman Kerajaan Majapahit. 

Kerajaan Majapahit: Letak dan Pengidentifikasian Batasnya 

Kerajaan Majapahit terletak di Situs Trowulan yang luasnya meliputi Kabupaten Mojokerto dan Jombang, Jawa Timur. Namun, keletakannya di situs Trowulan telah menjadi perdebatan para ahli. Salah satu alasan yang memperkuat keletakan kerajaan Majapahit di situs Trowulan adalah luas situs trowulan cocok dengan luas Majapahit yang digambarkan pada sumber data; dan situs-situs lain tidak ada yang luasnya cocok dengan sumber data. 

Adapun batas-batas situs Trowulan. Batas-batas situs tersebut diidentifikasi berdasarkan frekuensi temuan keramik di permukaan tanah, yang diselenggarakan pada kegiatan IFSA (Indonesian Fieldschool of Archaeology) yang berlangsung selama 3 tahun (1991 – 1993). Berdasarkan kegiatan tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa daerah di kolam segaran adalah pusat aktifitas di kerajaan Majapahit karena paling besar frekuensi temuan keramiknya; dan semakin jauh suatu area dari kolam Segaran, frekuensi temuan keramik permukaannya semakin berkurang yang mengindikasikan tingkat aktifitas manusia semakin rendah. Dari situlah diidentifikasi batas-batas situs Trowulan. 

Gajah Mada dan Sumpah Palapanya 

Gajah Mada adalah Patih (penasehat raja) dari Hayam Wuruk. Gajah Mada adalah tokoh pada masa Kerajaan Majapahit atau lebih tepatnya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk yang terkenal karena Sumpah Palapanya. Menurut suatu sumber, Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon. Sumpah Palapa Gajah Mada berbunyi sebagai berikut: 

“Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, TaƱjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa". 

Terjemahan: 
“Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa". 

Nama-nama daerah yang disebutkan yang harus tunduk pada kerajaan Majapahit adalah: Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik. 

Gurun adalah daerah yang terletak di Lombok. Seran adalah daerah yang terletak di kepala burung Papua. Tanjung Pura adalah daerah yang berada di pulau Kalimantan. Haru adalah daerah yang berada di wilayah pantai timur Sumatera Utara. Pahang adalah daerah yang berada di Semenanjung Melayu. Dompo adalah daerah yang berada di Sumbawa, dekat dengan Bima. Bali adalah pulau Bali. Sunda adalah daerah yang berada di Jawa Barat. Palembang adalah daerah yang berada di Sumatera bagian selatan dan terakhir Tumasik adalah wilayah yang sekarang bernama Singapura (sumber: hurahura.wordpress.com). Namun, menurut suatu sumber, dikatakan bahwa antara kerajaan Majapahit dengan kerajaan Sunda terjalin hubungan baik. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pengakuan dari kerajaan Sunda, kerajaan Majapahit tidak memilih jalan peperangan. Akan tetapi, pada akhirnya peperangan terjadi juga di antara kedua kerajaan tersebut. Peperangan terjadi akibat permasalahan asmara. Perang tersebut dikenal dengan nama perang Bubat. 

Usaha Mewujudkan Sumpah Palapa 

Karena telah bersumpah, Patih Gajah Mada pun berusaha untuk mewujudkan sumpahnya. Seperti yang terlihat pada peta-peta pada umumnya, daerah-daerah yang disebutkan pada Sumpah Palapa adalah daerah-daerah yang harus dilalui dengan transportasi laut. Besar kemungkinan demi mewujudkan sumpahnya, salah satu hal yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada adalah membuat alat transportasi laut, seperti perahu dan kapal laut. 

Sedikit tentang Maritim Majapahit 

Berdasarkan data-data yang ada mengenai kerajaan Majapahit, hanya sedikit yang membahas persoalan maritim Majapahit. Berdasarkan data-data tersebut, yang dapat diketahui hanyalah gambaran perahu Majapahit. Perahunya berukuran panjang 10 depa, haluannya dilapisi baja dan tombak di haluan tersebut adalah besi, terdapat bendera-bendera kecil yang terbuat dari kain berwarna emas, mempunyai 40 kayuh, dan tubuh perahu berwarna merah gelap, biru terang, dan warna emas. Ada juga perahu kecil yang hanya memuat dua orang. Bukti dari adanya perahu tersebut adalah relief yang terletak di Candi Panataran, Jawa Timur. 

Kesimpulan 

Demi mewujudkan sumpah palapanya, maka dibuatlah alat transportasi laut. Namun, keberadaan alat transportasi laut atau hal yang membahas maritim Majapahit itu, datanya kurang. Menurut beberapa sumber, gambaran perahu Majapahit adalah: berukuran panjang 10 depa, haluannya dilapisi baja dan tombak di haluan tersebut adalah besi, terdapat bendera-bendera kecil yang terbuat dari kain berwarna emas, mempunyai 40 kayuh, dan tubuh perahu berwarna merah gelap, biru terang, dan warna emas. Selain itu, berdasarkan data berupa relief pada Candi Panataran, Jawa Timur, ada juga perahu kecil yang hanya memuat dua orang.