Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Senin, 30 April 2012

Pengalaman Ber-Komputer

Sumber foto: kkpi.16mb.com

Sejak ditemukannya tabung hampa udara (vacum-tube) hingga penemuan micropocessor, pekerjaan menyimpan data, dan mengolah data berangsur-angsur menjadi semakin mudah. Penemuan tabung hampa udara yang berfungsi sebagai penguat sinyal, mengawali terciptanya komputer. Pada tahun 1946 tercipta ENIAC, komputer pertama di dunia. Komputer tersebut, terdiri dari 18.800 tabung hampa udara, mempunyai berat 30 ton, mempunyai ukuran: panjang 30 m, tinggi 2,4 m, Sehingga dibutuhkan suatu ruangan khusus untuk menempatkannya.
Transfer Resistor (transistor) yang merupakan pembaharuan dari tabung hampa udara merupakan cikal bakal terciptanya komputer generasi ke dua. Dengan transistor, yang membuat ukuran komputer menjadi lebih kecil, komputer generasi ke dua—seperti MARK IV yang merupakan komputer pertama yang diproduksi di Jepang (yang diproduksi di tahun 1957)—tercipta. Commercial Computer (komputer komersial), komputer generasi ke dua (seperti IBM-7090 yang diproduksi oleh Amerika), mulai menyebar luas di tahun 1960-an.
Komputer generasi ke tiga seperti Apple Computer dan IBM S/360 kemudian tercipta dengan ditemukannya Integrated Circuit-Chip (IC-Chip). IC-Chip tercipta dengan pemikiran ingin mengembangkan konsep transfer resistor yang membuat fisik alat penguat sinyal menjadi semakin lebih kecil. IC-Chip, terdiri dari ribuan transistor yang telah diperkecil. Selanjutnya dengan masih ingin memperkecil ukuran, LSI (Large Scale Integration)—yang merupakan penggabungan dari beribu-ribu IC-Chip—tercipta, dan penemuan tersebut mengawali komputer generasi ke empat. Perkembangan selanjutnya adalah diciptakannya microprocessor, yang masih merupakan komputer generasi ke empat. Microprocessor ini kemudian dikenal dengan istilah Pentium.
Saya hidup di masa komputer generasi ke empat. Tahun 2001, ayah membeli sebuah PC (Personal Computer) second, Pentium 2, seharga Rp. 2.000.000. Di tahun itulah saya mulai mengenal komputer. Software pertama yang kupelajari adalah paint. Saya menghabiskan waktu berjam-jam dengan berlatih menggunakan software tersebut. Karena perasaan (emosi) adalah suatu hal yang sulit untuk dideskripsikan, maka saya tidak tahu apa yang sedang kurasakan saat ini. Saat membayangkan waktu menggambar dengan menggunakan paint dulu. Mungkin emosi ini adalah dorongan untuk menggambar dengan menggunakan paint lagi. Karena saat ini, saya ingin melakukan hal tersebut. Akan tetapi, tidak logis juga jika emosiku saat ini adalah ingin menggambar dengan paint, karena saya bisa saja menggunakan software Corel Draw untuk menggambar, yang akan lebih efisien dan efektif daripada menggunakan software paint.
Jika dibandingkan antara software paint dengan Corel Draw, software Corel Draw lebih efisien dan efektif. Untuk membuat warna gradasi, saya harus membuat garis satu persatu di software paint. Dengan Corel Draw, warna gradasi dibuat dengan sangat mudah.
Dengan adanya komputer di rumah, di samping belajar paint, saya juga belajar mengetik 10 jari. Saya disarankan pula untuk mengadakan jasa pengetikan komputer, yang pada waktu itu, saya masih SMA. Pengalaman pertamaku dari pelanggan pertamaku adalah mengetik surat lamaran kerja. Satu lembar surat lamaran kerja, memakan waktu sekitar satu hari untuk proses pengerjaannya. Pelanggan saya waktu itu terpaksa datang bolak balik karena ia sudah mau mengambil surat lamarannya, sedangkan saya masih mengerjakannya. Namun, setelah beberapa tahun berbisnis jasa pengetikan komputer, jasa pengetikan komputer ini sudah cukup terkenal di lorongku. Lorong 4, Jalan Kakatua II. Mahasiswa/ mahasiswi dari Universitas Panca Sakti di Jl. Mangngerangi serta mahasiswa/ mahasiswi dari universitas lain yang tinggal di Jalan Kakatua II datang ke rumah menggunakan jasaku jika ada tugas mereka. Selain surat lamaran kerja, saya juga pernah menerima koran dan skripsi untuk kuketik, dari pelangganku.
Software yang kemudian kupelajari adalah Adobe Photoshop. Sayapun membeli buku untuk mempelajarinya. Dengan mempelajari software tersebut, akhirnya saya bisa menggunakannya. Dengan kemampuan menggunakan Photoshop, saya memanipulasi foto-foto tetanggaku. Ada yang ingin mengganti background, ada yang ingin membuat foto hitam putih-nya menjadi foto berwarna, dll. Akhirnya dengan hasil kerja saya itu, saya juga mendapatkan hasil.
Di samping mempelajari Adobe Photoshop, saya juga tertarik dengan software Corel Draw. Saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajarinya. Dengan kemampuan design grafis dengan Corel Draw, saya membuat design: logo, baju kaos, dan pin.
Selain itu, saya juga tertarik dengan software pembuat animasi: Macromedia Flash MX dan 3D Studio Max, serta software Auto CAD. Namun software yang sempat kupelajari hanyalah Macromedia Flash MX dan 3D Studio Max. Dengan bahasa pemrograman Action Script yang terdapat dalam software Macromedia Flash MX, saya belajar membuat game. Akhirnya, beberapa game telah berhasil kubuat. Dengan mengetahui bahasa pemrograman, saya pun berencana membuat produk sistem informasi arkeologi dengan menggunakan bahasa pemrograman action script yang masih dalam proses pengerjaan bersama kawan-kawan sekelompokku sekarang ini—dalam rangka tugas kuliah.

Senin, 09 April 2012

Resume Buku Prasejarah Sulawesi Selatan

LINGKUNGAN ALAM SULAWESI

1. Proses Terbentuknya Pulau Sulawesi

Sejarah geologi dan uraian geologi, adalah hal yang mendasar yang harus diketahui untuk dapat memahami kebudayaan manusia prasejarah di suatu wilayah. Hal tersebut dapat dipahami, karena faktor yang mempengaruhi kebudayaan manusia (prasejarah/ modern) adalah lingkungan (geologi). Untuk memahami kebudayaan manusia prasejarah Sulawesi pun harus demikian.

Pulau Sulawesi bentuknya dahulu tidak seperti sekarang. Dahulunya, pulau Sulawesi adalah dua buah lempeng; lempeng Sulawesi Timur dan lempeng Sulawesi Barat. Kedua lempeng benua tersebut kemudian menyatu, sehingga terbentuklah seperti sekarang. Sejarah geologi terbentuknya pulau Sulawesi, dapat menjelaskan sejarah-sejarah pulau Sulawesi yang lainnya.

Tiga lempeng yang menjadi cikal bakal pulau Sulawesi, yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Timur, dan Banggai-Sula; masing-masing keadaan geologinya (batuannya) berbeda.

Sungai Walannae di Soppeng, adalah sebuah sungai yang dahulunya adalah pegunungan bawah laut. Gunung tersebut kemudian naik ke permukaan. Dari proses tersebut, terjadilah proses pengikisan (oleh angin, air, dll), sehingga terbentuklah Sungan Walannae.

2. Iklim Masa Plestosen

Pada masa plestosen, bumi mengalami fenomena menyebar-mencair es. Es tersebut bersumber dari puncak-puncak pegunungan, menyebar ke daratan yang lebih rendah. Zaman menyebarnya es disebut zaman es (glasial), dan zaman mecairnya es disebut sebagai zaman interglasial. Begitupun dengan Indonesia. Indonesia juga mengalami kedua zaman tersebut pada zaman plestosen. Pada zaman glasial, daratan menjadi lebih luas, oleh karena air laut menurun. Pada zaman interglasial, daratan kembali menyempit, dikarenakan air laut kembali naik.

Diakibatkan oleh penurunan air laut, maka kepulauan Indonesia menjadi lebih luas pada zaman glasial. Sehingga, pada zaman tersebut, Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu: Paparan Sunda, Zona Wallacea, dan Paparan Sahul. Paparan Sunda adalah sebuah pulau besar, yang sekarang adalah: Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Palawan, dan pulau-pulau kecil lainnya—yang dulunya saling menyambung. Paparan Sahul adalah sebuah pulau besar, yang sekarang adalah: Papua Nugini dan Australia—yang dulunya saling menyambung. Di antara dua daratan tersebut, terdapat daratan-daratan yang lebih kecil. Daratan-daratan yang lebih kecil ini dinamakan Zona Wallacea. Nusa Tenggara dari Lombok hingga Timor, Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, dan Filipina termasuk Sulu. Dengan terpisahnya Zona Wallacea dari kedua paparan, maka jika makhluk hidup (hewan & manusia) ingin ke Zona Wallacea, ia harus melalui jalur air.

3. Flora dan Fauna

Landasan teori pada penjelasan ini adalah teori Whitten. Agihan suatu organisme biasanya dibatasi oleh habitat yang tidak cocok (air untuk organisme tanah atau daratan untuk organisme akuatik), iklim yang cocok atau adanya jenis yang menyebabkan ketidakberhasilan organisme itu untuk bersaing (Whitten, 1987).

Dari iklim yang telah dijelaskan di atas, maka vegetasi Sulawesi Selatan juga kurang. Oleh karena vegetasi kurang, maka Fauna juga kurang. Sebagian besar informasi tumbuhan purba didapatkan dari analisis seksama pollen dari endapan organik di dalam rawa-rawa dan danau-danau. Vegetasi yang ada di Sulawesi Selatan pada zaman plestosen adalah gambut. Hewan purba yang terdapat di Sulawesi Selatan adalah Babi Rusa Cabbenge dan Pigmy Stegodon.
MASA AWAL, BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN

Di Sulawesi Selatan, belum ditemukan fosil manusia pendukung zaman paleolitik. Tapi, disamping itu artefak-artefak batu sudah banyak ditemukan di Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah di Cabbenge, Soppeng. Pinggiran sungai Walannae Soppeng adalah undakan. Di undakan inilah ditemukan artefak-artefak batu. Temuan artefak batu itu dibagi dua kelompok. Kelompok pertama yang terdapat di undakan tertinggi adalah kelompok artefak batu inti. Kelompok kedua yang terdapat di undakan terendah (dekat sungai) adalah kelompok artefak batu serpih bilah. Kelompok artefak batu yang pertama lebih tua daripada kelompok kedua. Hal tersebut dilihat dari artefak-artefak batu di kelompok pertama ketajamannya sudah aus diakibatkan proses transformasi yang lebih lama. Sedangkan kelompok kedua ketajamannya masih tajam (tapi tidak setajam awalnya dibuat).

Dengan artefak-artefak batu yang ditemukan di Cabbenge, Soppeng, maka pola hidup manusia purbanya dapat diketahui. Artefak-artefak batu yang ditemukan di Cabbenge seperti: kapak genggam, kapak penetak, kapak perimbas, serpih bilah, adalah artefak-artefak yang digunakan dalam proses mengolah makanan. Oleh karena itu, mata pencaharian utama manusia purba Cabbenge adalah mengumpul dan meramu makanan. Manusia purba Cabbenge memilih lokasi hunian, dekat dengan sumber air. Sama seperti manusia-manusia purba pada umumnya.

MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN

TINGKAT LANJUT

Zaman Holosen ditandai dengan berhentinya zaman glasial dan interglasial. Pada zaman Holosen inilah manusia hidup dengan pola hidup berburu dan mengumpulkan makanan. Pola hidup tersebut sama dengan manusia di zaman paleolitik, akan tetapi sudah mengalami kemajuan. Zaman tersebut dinamakan mesolitik. Adapun iklim Sulawesi pada zaman holosen sama dengan iklim Sulawesi yang sekarang.

Sekedar perbandingan. Di Sumatera pada zaman mesolitik mengembangkan kebudayaan Hoabinhian (Kapak Sumatera); di Jawa megnembangkan kebudayaan tulan (bone culture); di Sulawesi sendiri, mengembangkan kebudayaan Maros Point, dan seni lukis di dinding gua (Rock Art).

Fosil manusia pendukung untuk masa mesolitik sudah ditemukan di Sulawesi Selatan, tepatnya di Leang Codong, Soppeng. Penemuan fosil di Sulawesi khususnya, Indonesia umumnya, belum dapat menjelaskan manusia serta kebudayaannya pada zaman mesolitik—baru hanya sekedar hipotesis.

MASA BERCOCOK TANAM

Manusia pendukung untuk zaman neolitik adalah suku Austronesia: ras Mongoloid dan Australomelanesid. Suku tersebut datang dari Taiwan, melalui Filiphina, lalu sampai ke Indonesia. Untuk Sulawesi sendiri, manusia pendukungnya adalah ras Mongoloid.

Zaman ini merupakan revolusi peradaban manusia. Dari pola hidup berburu dan mengumpulkan makanan ke budidaya tumbuhan dan penjinakan binatang. Pola hidup bertani ini adalah cikal bakal terbentuknya peradaban manusia.

Sejauh ini, situs-situs neolitik yang terdapat di Sulawesi Selatan Adalah: Kamasi dan Minanga Sipakka (Kec. Kalumpang, Kab. Mamuju), Mallawa dan Tallasa (Maros), Buttu Banua (Enrekang).

Peralatan-peralatan pada zaman neolitik di Sulawesi Selatan adalah Kapak Lonjong, Beliung Persegi, Beliung Bahu, Tembikar, Batu Ike, Alat Serpih, dll.

Adapun tehnik pembuatan tembikar ada tiga. Pertama adalah teknik pijit. Ini adalah tehnik pertama yang digunakan manusia dalam pembuatan tembikar. Tembikar dengan teknik pembuatan seperti ini permukaannya kasar. Permukaan bagian dalam lebih kasar daripada di bagian luar. Di permukaan juga terlihat bekas pijit-pijitan jari tangan. Teknik ke dua adalah dengan teknik tatap-landas. Alatnya adalah batu kerikil dan pemukul dari kayu. Tehnik ke tiga adalah dengan roda putar.

Batu Ike adalah alat yang dipergunakan untuk membuat pakaian dari kulit kayu. Batu ike mempunyai cekungan-cekungan persegi panjang. Kerapatan antar cekungan sesuai dengan tingkat kekasaran kulit kayu. Semakin halus kulit kayu, maka batu ike yang digunakan adalah yang cekungannya lebih rapat.

Pada zaman Neolitik di Sulawesi Selatan, masih ditemukan serpih. Artefak serpih tersebut ditemukan di kuburan pra-Islam Garassi. Artefak serpih tersebut diperkirakan fungsi adalah yang berhubungan dengan kesakralan. Selain alat-alat tersebut, terdapat juga perhiasan-perhiasan dari batu.

ZAMAN LOGAM

Pada zaman ini, manusia sudah mengenal logam sehingga terciptalah teknologi baru. Dengan teknologi baru tersebut, teknologi lama tidak sepenuhnya ditinggalkan. Seperti tembikar. Teknologi tersebut masih digunakan hingga sekarang. Zaman logam terdiri dari: zaman tembaga, zaman perak, dan zaman besi. Akan tetapi di Indonesia zaman perak tidak dikenal. Yang ada hanya zaman tembaga dan zaman besi.

Dengan munculnya teknologi logam ini, maka berkembang pulalah undagi-undagi. Undagi-undagi tersebut adalah orang-orang yang ahli dalam pengerjaan alat. Misalkan: pandai besi, pembuat kapak perunggu, pembuat perhiasan, dll. Oleh karena itu, zaman ini disebut juga sebagai zaman perundagian. Alat-alat yang dihasilkan pada zaman ini adalah Kapak perunggu, nekara dan moko, perhiasan.

TRADISI MEGALITIK DI SULAWESI SELATAN

Mega = besar. Litik = batu. Jadi berdasarkan terminologinya megalitik adalah kebudayaan batu besar. Kebudayaan batu-batu besar adalah kebudayaan yang sangat erat kaitannya dengan religi. Digunakan kata tradisi adalah karena kebudayaan megalitik masih dipertahankan sampai sekarang. Hal tersebut dikarenakan nilai yang dianut oleh manusia pendukungnya masih tertanam dengan kuat. Beberapa tradisi megalitik di Sulawesi Selatan adalah erong, liang, menhir, sarkofagus, lesung batu, dolmen, dakon, arca menhir, batu bergores, batu temu gelang.

(sumber: Buku Prasejarah Sulawesi Selatan)

Selasa, 03 April 2012

Sistem Informasi Arkeologi


Sistem
Sistem adalah suatu satuan yang terdiri dari komponen-komponen atau subsistem-subsistem yang mempunyai hubungan saling keterkaitan satu sama lain untuk suatu tujuan.

Informasi
Informasi adalah keluaran dari data yang telah diolah. Data adalah fakta yang tersimpan di dalam memori otak. Fakta adalah segala sesuatu yang tertangkap oleh panca indera.
Jika kita melihat sebuah fenomena alam; angin topan misalnya. Maka angin topan tersebut adalah fakta; fakta bahwa angin topan itu adalah nyata. Fakta tersebut kemudian akan tersimpan dalam memori. Fakta yang tersimpan di dalam memori disebut data. Jika data tersebut diolah dalam otak, kemudian dikeluarkan, maka itu adalah informasi. Sederhananya adalah: masuknya fakta ke dalam memori disebut sebagai input, pengolahan data disebut sebagai proses, keluaran dari data yang telah diolah disebut sebagai output. Kata kuncinya adalah: input, proses, dan output.

Sistem Informasi Arkeologi
Seperti halnya penemuan pesawat oleh wright bersaudara yang mencontohnya dari alam, yaitu burung. Begitupun dengan komputer. Komputer dicontoh dari alam, yaitu otak manusia; atau cara kerja komputer dicontoh dari cara kerja otak manusia.
Dengan adanya komputer, maka penyebutan informasi tidak lagi hanya untuk keluaran hasil olahan otak manusia. Akan tetapi disebut juga untuk keluaran hasil olahan komputer.
Berdasarkan defenisi dari sistem dan informasi di atas, maka Sistem Informasi Arkeologi dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari data-data arkeologi dan pengolah yang mempunyai hubungan saling keterkaitan satu sama lain, yang bertujuan untuk menyampaikan informasi arkeologi.

Minggu, 01 April 2012

Teori Pengaruh Pikiran Terhadap Hasil Pencapaian

Sumber foto: www.backgroundsppt.net

Saya mengapresiasi teori ini. Teori ini adalah dari Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya yang berjudul "Terapi Positive Thinking". Teori ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Berfikir
V
Perhatian
V
Perasaan
V
Tindakan
V
Hasil:
Negatif/ Positif


Hasil yang dicapai berawal dari pemikiran atau kegiatan berfikir. Dari kegiatan berfikir, kemudian otak akan memberikan perhatian (fokus) terhadap yang difikirkan. Setelah itu, muncullah perasaan terhadap yang difokuskan. Perasaan tersebut kemudian menjadi bahan bakar (penggerak) tubuh, yang menggerakkan tubuh untuk melakukan tindakan. Dari tindakan itulah, hasil diperoleh. Tidak peduli apakah pemikiran awalnya adalah positif ataupun negatif.
Jika pemikiran awal adalah negatif, maka hasilnya negatif. Dengan hasil tersebut, maka pikiran negatif akan bertambah kuat, sehingga menghasilkan hasil yang negatif lagi. Proses ini akan terus berulang, sampai pola pikir dirubah. Hal ini sejalan dengan Firman Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d: 11).

Di samping itu, jika pemikiran awal adalah positif, maka hasilnya adalah positif. Dengan hasil tersebut, maka fikiran positif akan bertambah kuat, sehingga menghasilkan hasil yang positif lagi. Proses ini akan terus berulang. Dan tentu saja, dengan itu kebahagiaan akan dirasakan. Namun, proses tersebut tidak selamanya seperti itu. Seperti halnya pemikiran negatif yang dapat berubah. Pemikiran positif pun dapat berubah. Faktor yang merubah pikiran positif berbeda dengan faktor yang merubah pikiran negatif. Jika faktor yang merubah pikiran negatif adalah faktor internal yaitu diri sendiri, maka faktor yang merubah pikiran positif adalah kebalikannya; faktor eksternal, yaitu orang lain.
Jika orang mengatakan sesuatu hal yang negatif tentang diri kita, kemudian kita mempercayainya atau menafsirkannya sebagai hal yang negatif, maka fikiran kita akan bergeser dari positif ke negatif. Perkataan tersebut didukung oleh pernyataan Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul “Social Intelligence” yang mengatakan bahwa: orang yang lebih kuat emosinya akan menularkan emosinya ke orang yang lebih lemah emosinya.

Manajemen Sumberdaya Arkeologi

Sumberdaya arkeologi adalah budaya-budaya materi masa lalu. Sumberdaya arkeologi ini rapuh dan tidak dapat diperbaharui. Konsekuensi dari sifat tersebut adalah melestarikannya. Sumberdaya arkeologi harus dilestarikan karena itu adalah bukti sejarah. Kebenaran adalah kepercayaan yang dibuktikan dengan fakta. Jika suatu sejarah diceritakan oleh orang-orang terdahulu melalui prasasti, maka nilai sejarahnya hanya sebatas kepercayaan. Jika bukti sejarah ada, maka sejarah tersebut akan melampaui nilai kepercayaan atau dengan kata lain akan sampai kepada nilai kebenaran sejarah.
Mengevaluasi diri, memperbaiki diri. Semua itu adalah usaha untuk hidup yang lebih baik di hari esok. Implikasi dari evaluasi diri dan perbaikan diri adalah menengok ke masa lalu. Melihat apa yang terjadi di masa lalu. Mempelajari masa lalu. Usaha itu akan memberi konstribusi kepada kita sebagai pertimbangan untuk menentukan keputusan apa yang akan diambil di hari esok. Jika kita hidup pada masa marak-maraknya orang korupsi, maka kita bisa menengok ke masa lalu. Apabila di masa lalu orang-orang tidak korupsi, maka kita harus bercermin pada masa itu. Jika kita hidup pada masa kesejahteraan setelah melewati berbagai konflik, kita harusnya juga tidak melupakan masa lalu untuk bersyukur, dan mempelajari masa lalu tersebut agar konflik-konflik serupa tidak terulang lagi.
Sebuah negara adalah sebuah organisasi. Setiap negara mengurusi negaranya masing-masing—tapi itu tidak menutup kemungkinan untuk berhubungan dengan negara-negara lain. Dalam setiap negara, aturan-aturan atau hukum-hukum dibuat untuk mengatur manusia mulai dari keilmuan, pernikahan, pembangunan, sumber daya alam, hingga ke sumberdaya arkeologi. Tujuannya pastilah agar tercipta hubungan baik antar manusianya.
Sumberdaya arkeologi adalah milik negara. Artinya sumberdaya arkeologi adalah milik semua manusia yang ada dalam suatu negara. Saat ini, berlaku otonomi daerah. Jadi, sumberdaya arkeologi milik semua orang yang berada di suatu daerahnya masing-masing. Konsekuensinya adalah semua orang berhak atas sumberdaya arkeologi. Demi mengendalikan hak orang-orang terhadap sumberdaya arkeologi, maka haruslah ada hakim, yaitu aturan atau hukum.
Ilmu yang mempelajari benda-benda peninggalan masa lalu adalah arkeologi. Benda-benda peninggalan masa lalu itu adalah sumberdaya arkeologi. Oleh karena itu, disamping hukum, arkeolog berperan penting dalam mengendalikan hak orang-orang yang berkepentingan terhadap sumberdaya arkeologi.
Aturan yang paling mendasar dalam pemanfaatan sumberdaya arkeologi adalah tidak boleh merusaknya. Itu adalah konsekuensi dari sifat sumberdaya arkeologi. Agar orang-orang yang berkepentingan terhadap sumberdaya arkeologi ini dapat memanfaatkan sumberdaya arkeologi tanpa saling merugikan—sehingga dapat menimbulkan konflik kepentingan—, maka sumberdaya arkeologi perlu dikelola atau pada sumberdaya arkeologi dibutuhkan manajemen yang tepat.
Manajemen sumberdaya arkeologi adalah cabang dari ilmu arkeologi. Orang yang menekuni bidang ini, berperan penting dalam mengendalikan hak orang-orang yang berkepentingan terhadap sumberdaya arkeologi. Sebelum menentukan kebijakan apa yang akan diambil, terlebih dulu dilakukan penelitian, yaitu: identifikasi masalah dan potensi sumberdaya arkeologi, perancangan solusi, setelah itu, barulah monitoring dan evaluasi.
Contoh kasus konflik kepentingan sumberdaya arkeologi adalah konflik kepentingan di Situs Leang Bulu Tianang, Desa Salenra, Rammang-rammang, Kab. Maros. Perusahaan pertambangan berkonflik dengan arkeolog dan kaum akademisi serta Organisasi Pecinta Alam. Perusahaan pertambangan ingin memanfaatkan (ingin menambang) karst di dekat situs. Hal tersebut merugikan pihak arkeolog, kaum akademisi, dan organisasi pecinta alam, karena itu akan merusak situs. Menanggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Maros mempertemukan pihak yang berkonflik, serta badan-badan dinas dalam sebuah rapat membahas masalah ini. Hasil dari rapat, akan diadakan survey bersama. Di samping itu, sebuah tim dari kalangan arkeolog juga turun tangan untuk menyelesaikan konflik ini. Hasil dari pekerjaan tim arkeolog ini adalah sebuah laporan yang harusnya menjadi rekomendasi pengambilan keputusan Pemerintah Kabupaten Maros.