Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Jumat, 05 September 2014

Masyarakat Bada

Sumber foto: koleksi pribadi, 2014

Siapa yang tidak mengenal Poso? Poso adalah sebuah Kabupaten yang terkenal hingga kini karena kerusuhannya yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Kerusuhan tersebut, mengisi media cetak dan media elektronik di Indonesia, dan tersebar bahkan hingga ke luar negeri. Namun melihat lebih ke dalam, terdapat sebuah daerah di pedalaman yang dapat menyeimbangkan atau bahkan menghapuskan citra buruk Kabupaten Poso. Daerah tersebut, dikenal dengan nama Lembah Bada.

Lembah Bada adalah suatu daerah yang secara administratif terletak di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah dan juga berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Lembah Bada terdiri dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Lore Barat, dengan ibukotanya adalah Desa Lengkeka, dan Kecamatan Lore Selatan, dengan ibukotanya adalah Desa Gintu. Secara geografis, Lembah Bada dikelilingi oleh pegunungan Lore, yang di tengah-tengahnya terdapat dua sungai, yaitu Sungai Lariang dan Sungai Malei.

Hal yang membuat Lembah Bada menjadi terkenal bahkan hingga ke luar negeri adalah fenomena arkeologinya. Lembah Bada adalah surganya budaya megalitik. Budaya megalitik yang terdapat di Lembah Bada beragam, seperti arca-arca patung (baik manusia maupun binatang), kalamba (sejenis wadah dari batu yang berukuran besar), bakal kalamba (kalamba yang belum jadi), batu dakon, lumpang batu, batu bergores dan batu berukir. Sedangkan Master Piece Lembah Bada adalah Arca Palindo yang terletak di Situs Padang Sepe, Desa Lengkeka, Kecamatan Lore Barat, Kabupaten Poso. Walaupun Lembah Bada terkenal dengan fenomena arkeologinya (megalitik), namun dalam tulisan ini hal yang akan dibahas adalah fenomena sosial masyarakat Lembah Bada, yang penulis anggap sebagai fenomena yang unik. Tulisan ini merupakan hasil dari pengamatan yang penulis lakukan di Lembah Bada, tepatnya di Desa Lengkeka, Kecamatan Lore Barat, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Sebelum berangkat ke Lembah Bada, mindset yang ada di kepala penulis adalah masyarakat Lembah Bada memiliki kulit yang putih karena Lembah Bada merupakan daerah pegunungan dan pada umumnya daerah pegunungan memiliki suhu udara yang dingin. Akan tetapi, mindset tersebut keliru, karena masyarakat Lembah Bada ternyata tidak berkulit putih, melainkan sawo matang. 

Suhu udara Lembah Bada adalah unik, karena sangat panas pada siang hari namun sangat dingin pada malam hari. Efek dari suhu udara yang unik tersebut adalah warna kulit yang dapat berubah menjadi lebih gelap. Variabelnya adalah tinggal di Lembah Bada minimal selama satu minggu dengan aktifitas keseharian adalah bekerja di luar rumah pada pagi hingga sore hari. Hubungan kausalitas (sebab-akibat) antara suhu udara yang unik dengan aktifitas keseharian bekerja di luar rumah pada pagi hingga sore hari, terimplementasikan pada masyarakat Lembah Bada yang memiliki mata pencaharian bercocok tanam atau berkebun. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa suhu udara yang unik tersebut membuat kulit masyarakat Lembah Bada tidak berwarna putih melainkan berwarna sawo matang.

Fenomena unik lainnya adalah pemikiran tukang ojek Lembah Bada yang termanifestasi dari motornya. Jika berada di Lembah Bada dan kita ingin menyewa jasa tukang ojek, maka kita termasuk orang yang beruntung dari aspek kenyamanan jika mendapatkan ojek yang memiliki motor yang terawat atau motor yang bagus. Motor-motor milik tukang ojek Lembah Bada kondisi fisiknya tidak bagus dan tidak terawat namun masih tetap digunakan untuk mencari nafkah. Melihat kondisi fisik motor tukang ojek Lembah Bada, maka dapat diketahui pemikirannya bahwa dalam mencari nafkah, mereka memperhatikan hasil produksi namun mengabaikan aset. Pemikiran tersebut memang berdampak pada penumpang atau penyewa jasa (kenyamanannya) namun lebih berdampak pada pemilik aset itu sendiri.

Melihat fenomena sosial tersebut, penulis jadi teringat dengan sebuah prinsip yang disebut oleh Covey sebagai Prinsip Keseimbangan P/KP (Covey, 2010: 62). P adalah Produksi dan KP adalah Kemampuan Produksi. Dalam kasus di atas, P adalah uang, dan KP adalah motor. Berdasarkan prinsip tersebut, maka jika kita memiliki pola hidup yang berfokus pada P dan mengabaikan KP, maka kita akan segera kehilangan KP. Sebaliknya, jika kita memiliki pola hidup yang berfokus pada KP dan mengabaikan P, maka hasil produksi yang diperoleh tidak akan cukup untuk menafkahi keluarga bahkan untuk menafkahi diri kita sendiri. Tukang ojek Lembah Bada memiliki pola hidup yang berfokus pada P dan mengabaikan KP. Pola hidup tersebut akan membuat mereka kehilangan KP atau motornya.

Sebagai contoh adalah pada saat penulis menggunakan jasa mereka dari Basecamp menuju Padang Sepe untuk menyaksikan Arca Palindo. Ban luar motor tukang ojek tersebut sudah gundul dan yang parahnya adalah ban tersebut sudah robek, sehingga sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Ban luar yang robek tersebut hanya ditutupi dengan pengikat dari karet agar masih dapat dipakai. Dalam perjalanan menuju Padang Sepe, ban luar motor tersebut masih dapat dipakai. Namun dalam perjalanan kembali ke Basecamp, ban luar tersebut sudah tidak dapat dipakai lagi karena ban dalamnya hamil (membengkak ke luar). Sehingga jika tidak segera diganti, ban dalamnya juga akan robek. Dalam kasus ini, Prinsip Keseimbangan P/KP berlaku. Solusi atas permasalahan tersebut adalah dengan pengaturan keuangan secara baik. Pengaturan keuangan secara baik yang dimaksud adalah dengan mengalokasikan sebagian uang dari hasil ojek untuk perawatan motor karena tanpa motor, maka tidak akan ada uang.

Pengamatan yang telah penulis lakukan, hanya pada masyarakat di Desa Lengkeka, Kecamatan Lore Barat, Kabupaten Poso. Pengamatan yang terbatas tersebut tidak memungkinkan dilakukannya generalisasi untuk masyarakat Lembah Bada, karena Lembah Bada tidak terdiri dari hanya satu desa saja (Desa Lengkeka), melainkan terdiri dari beberapa desa di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Lore Barat dan Kecamatan Lore Selatan. Oleh karena itu, kondisi masyarakat yang telah diuraikan pada tulisan ini belum tentu sama dengan masyarakat di desa-desa lainnya di Lembah Bada.



Pustaka:
Covey, Stephen R. 2010. The 7 Habits of Highly Effective People. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar