Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Jumat, 08 November 2013

Sebuah Cerpen: BELAJARLAH UNTUK MENDENGARKAN

 
sumber gambar: galery-lukisan.blogspot.com
Zaman dahulu, terdapat sebuah perguruan bela diri yang terletak di daerah pegunungan. Dalam perguruan itu terdapat fasilitas-fasilitas hunian: kamar tidur, ruang makan, dapur, dan tempat cuci pakaian, yang disediakan untuk murid-murid. Dalam perguruan itu, murid-murid dikarantina dengan tujuan dihasilkannya murid-murid yang berkualitas. Latihan diadakan tiga kali sehari: pagi, sore dan malam. Pagi adalah latihan untuk meningkatkan kekuatan (power), sore adalah latihan untuk meningkatkan kecepatan (speed), dan malam adalah latihan untuk mengembangkan teknik (techniques) bertarung. Inti dari semuanya adalah power, speed, techniques. Akan tetapi latihan dapat dikatakan tidak hanya di tiga waktu itu saja, melainkan latihan adalah di setiap saat. Semua murid, pada kedua tangan dan kedua kakinya dipasangkan pemberat, masing-masing 10 Kg, total berat 40 kg. Pemberat itu tidak boleh dilepas, baik itu di waktu latihan maupun di saat bukan waktu latihan. Mencuci, makan, tidur, harus memakai pemberat itu. Jika melepas pemberat itu, murid dianggap gagal, dan dikeluarkan dari perguruan. Kedisiplinan sangat ditekankan dalam perguruan ini.

Seorang murid yang tergolong unik dalam perguruan itu merasa berberat hati dengan pemberat itu. Ia selalu bertanya-tanya dalam hati: “mengapa pemberat ini tidak boleh dilepas !?”. Murid-murid yang telah dikarantina dan kemudian diikutkan dalam turnamen, kabarnya hanya sampai ke gurunya. Kabar mereka terputus sampai di situ. Murid-murid dikarantina harus menggunakan pemberat selama dua tahun, karena turnamen diadakan sekali dalam dua tahun. Turnamen itu bernama Turnamen Arsipelago, yang diambil dari bentuk kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau yang tersebar tidak beraturan. Perguruan-perguruan yang terdapat dalam kepulauan tidak hanya perguruan itu. Terdapat juga perguruan-perguruan lain. Dalam sebuah pulau terkadang terdapat dua, tiga, ataupun empat perguruan. Pulau tempat perguruan itu berada sendiri, hanya ada satu perguruan.

Latihan di waktu sore hari tiba. Di saat murid yang unik itu sudah merasa sangat tersiksa dengan pemberat di kedua tangan dan kakinya, ia melontarkan pertanyaan kepada gurunya: “mengapa pemberat ini tidak boleh dilepas, padahal ini adalah waktu untuk melatih kecepatan !?”. Suasana pun menjadi hening, murid-murid lain terdiam. Guru lalu menantang murid itu untuk bertarung, dan dengan percaya diri murid pun menerima tantangan itu. Selang beberapa detik, murid itu terhempas ke permukaan tanah. Ia lalu mengatakan: “aku kalah karena pemberat ini !”. Guru itu lalu menantangnya lagi dan murid pun bertanya: “apakah aku dapat melepas pemberat ini ?”. Guru: “tidak”. Dengan emosi yang meningkat, murid itu menerima tantangannya. Kurang dari waktu pertarungan sebelumnya, ia terhempas lagi ke permukaan tanah. Pertarungan itu sekaligus mengakhiri latihan pada sore itu. Murid itupun dengan perasaan kesal meninggalkan tempat latihan. Setelah itu, di waktu istirahat setelah latihan di malam hari, dia merenung-renung, gelisah, memikirkan turnamen yang sudah semakin dekat. Dia tidak mengenal sedikitpun lawannya. Dia tidak mengetahui sedikitpun bagaimana latihan yang telah dijalani orang-orang yang akan menjadi lawannya di turnamen nanti.

Turnamen sudah semakin dekat. Hanya beberapa di antara murid-murid yang diikutkan, dan salah satunya adalah murid yang unik itu. Porsi latihan mereka ditingkatkan, yang sebelumnya selama tiga jam, kini empat jam. Sehingga total waktu latihan adalah 12 jam. Murid yang unik itu sanggup menjalani latihan hingga pada akhirnya tiba turnamen. Mereka yang terpilih, berangkat bersama gurunya ke pulau tempat diadakannya turnamen. Selama turnamen, di perguruan itu yang melatih adalah asisten guru. Murid-murid dari seluruh perguruan berkumpul di pulau tempat diadakannya turnamen. Di pulau itu disediakan sebuah tempat penginapan untuk para peserta yang akan mengikuti turnamen. Turnamen dimulai dua hari setelah para peserta dari pulau-pulau telah berkumpul, karena satu hari digunakan untuk menyusun jadwal turnamen, dan satu hari digunakan untuk beristirahat. Malam hari sehari sebelum turnamen, jadwal telah berada di tangan para peserta. Murid yang unik itu mendapat giliran pada siang hari, sedangkan teman yang lainnya pada pagi, sore dan malam hari.

Turnamen pun dimulai, kini tiba giliran murid yang unik itu untuk bertarung. Melihat lawannya, rasa takut pun menyebar ke seluruh tubuhnya. Lawannya itu lebih tinggi dari dia, otot-ototnya sungguh mengerikan, ditambah lagi raut wajahnya yang menggambarkan hasrat untuk membunuh. Sepertinya dia dilatih untuk membunuh. Dia lalu mengatakan kepada gurunya: “guru, saya takut menghadapi lawanku”. Gurunya lalu mengatakan: “semua orang pernah mengalami rasa takut. Jika kau dapat mengalahkan rasa takutmu, maka kau adalah pemberani. Akan tetapi jika kau memang benar-benar merasa takut dengan lawanmu itu, maka tidak apa-apa jika kau mentolerir rasa takutmu itu. Mungkin dapat dengan cara jangan menatap matanya, cukup dengan memperhatikan gerak-geriknya saja”. Murid itu pun lalu menarik nafas yang panjang lalu menghembuskannya. Dahinya lalu berkerut dan kembali berkata kepada gurunya: “guru, saya masih merasa takut”. Gurunya pun sambil tersenyum berkata: “silahkan buka pemberatmu”. Murid itupun lalu tersentak, berdebar-debar, akhirnya dia bisa membuka pemberatnya itu, setelah dua tahun lamanya. Rasa takut yang telah dirasakannya kini telah terabaikan. Murid itu pun melepaskan pemberatnya. Ia lalu berjalan menuju ke tengah-tengah arena. Saat berjalan dia merasa seperti kaki dan tangannya tidak ada. Kaki dan tangannya terasa sangat ringan dibawanya. Dia pun berkata dalam hati: “inikah tujuan kami diberi pemberat selama dua tahun lamanya ?”. Kekuatan kini menyebar ke seluruh tubuhnya.

Wasit mengangkat tangan ke atas, keduanya memasang kuda-kuda, pertarungan pun dimulai. Lawannya melepaskan tendangan ke arahnya, saat itupun dia menghindar dan membaca gerakan lawannya. Setelah kakinya sampai ke tanah, lawan melancarkan lagi tinju ke arahnya dan dia menghindar dan dapat membaca gerakannya lagi. Lawannya itu terheran-heran dengan kecepatan murid itu. Pertarungan pun berlangsung selama beberapa menit, dan murid itu belum juga menyerang, melainkan hanya menghindar. Beberapa menit yang telah berlalu itu digunakannya untuk membaca gerakan lawannya. Lawannya itu gerakannya tidak cepat, tidak memiliki teknik, dia hanya mengandalkan kekuatan. Dia kurang bisa menggunakan kaki kirinya, dia lebih sering menggunakan kaki tangannya. Saat kaki kanannya berada di belakang, maka itu yang akan digunakan untuk menendang. Saat kaki kirinya berada di belakang, maka kaki kanannya pula yang digunakan untuk menendang. “Saat badannya sedikit membungkuk, itu artinya ia akan melancarkan tinju ke arah wajahku”. Untuk melancarkan tendangan, mengangkat kaki dari tanah ke arahku, ia membutuhkan waktu sekitar satu detik dan tidak ada keseimbangan pada saat itu. “Akan tetapi, jika saya terkena serangannya satu kali saja, maka itu adalah hal yang gawat bagi saya”. “Kini saatnya menyerang !”. Sadar akan kelebihan kecepatan yang dimilikinya, ia memasang kuda-kuda kaki kanan di depan saat melihat lawannya itu memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di depan dan badannya tidak membungkuk. Saat sudah melihat tumit kanan lawannya mulai terangkat, dia langsung melancarkan tendangan ke arah rusuk lawannya, dia pun memperoleh satu poin. Wasit memisahkan mereka, lalu memberi aba-aba lagi untuk memulai. Saat itu lagi-lagi tendangan dilancarkan ke rusuk lawannya itu dan dia mendapatkan satu poin lagi. Kemudian lawannya lalu memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di belakang dan tidak membungkuk, karena itu murid itu memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di depan dengan maksud untuk menjatuhkan lawannya itu ke tanah. Saat lawannya melancarkan tendangan ke arahnya, ia lalu mengangkat kaki kanannya lalu dengan cepat menempelkan kakinya ke dada lawannya kemudian mendorongnya. Lawannya itu lalu kehilangan keseimbangan, tendangpun lalu dilancarkan lagi. Tendangan itu bagaikan sebuah cangkul menyerang dada lawannya, dan lawannya pun terjatuh ke tanah, murid itu pun mendapatkan satu poin lagi, dan memenangkan permainan.

Selama turnamen, dia berhadapan dengan berbagai macam orang. Ada yang kecepatannya lebih dari dia, yang teknik bertarungnya sangat mengagumkan, yang sangat cerdik, yang semangat bertarungnya sangat besar dan yang menjadi lawan terakhirnya adalah yang lebih hebat dari dia. Dalam hal power, speed dan techniques, murid itu dikalahkan. Akan tetapi dengan arahan dari gurunya, dia pada akhirnya dapat memenangkan permainan, dan turnamen. Dia mendapatkan juara pertama dalam turnamen itu. Piala, medali serta uang pun diberi kepada murid itu yang memang berhak didapatkannya karena perjuangan yang telah dilakukannya. Seluruh peserta pun kembali ke perguruannya masing-masing, begitupun dengan murid-murid dari perguruan itu. Perjalan dari pulau tempat diadakan turnamen ke tempat perguruannya membutuhkan waktu tiga jam.

Sesampainya di tempat perguruan, orang-orang bersorak-sorak gembira atas nama baik yang dibawa oleh murid-murid yang pulang dari turnamen. Kini tiba saatnya pelepasan. Murid-murid yang tidak ikut turnamen, diperbolehkan untuk pulang, diperbolehkan pula untuk tinggal, sehingga beberapa di antara mereka ada yang memilih untuk pulang dan juga ada yang memilih untuk tetap tinggal untuk dapat mengikuti turnamen dua tahun ke depan. Suasana saat itu sangat mengharukan. Murid-murid yang telah ikut di turnamen diberi selembar kertas kecil yang baru boleh dibuka saat mereka telah sampai ke daerah asalnya. Masing-masing isi dari kertas kecil itu berbeda-beda untuk tiap-tiap murid. Kertas kecil itu berisi sebuah pelajaran, sebuah pesan yang ditulis berdasarkan perilaku murid-murid itu dalam menjalani latihan selama dua tahun.

Murid yang tergolong unik itu pun sudah berada di atas perahu. Terlintas dalam benaknya untuk membuka kertas kecil itu, akan tetapi dia teringat kata-kata gurunya untuk baru membukanya jika sudah sampai di daerah asal masing-masing. Ia lalu bersandar di sebuah box yang di dalamnya adalah pemberat-pemberatnya. Perjalanan dari perguruan menuju daerah asalnya membutuhka waktu sekitar empat jam. Tak terasa malam sudah tiba dan dia pun sudah sampai di daerah asalnya. Ia lalu mengangkat box yang di dalamnya pemberat-pemberatnya dan membawanya ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, ia lalu merobohkan tubuhnya ke tempat tidur lalu melemaskan badannya. Saat itu pun rasa sakit baru terasa di seluruh tubuhnya. Dengan cahaya bulan yang masuk ke dalam kamarnya, dia melihat luka-luka memar di tangan dan kakinya. Saat itu pun dia merasa bangga terhadap dirinya akan perjuangan yang telah dilakukannya, akan pengorbanan yang telah dilakukannya selama dua tahun, sembari mengatakan: “sepertinya saya butuh istirahat selama seharian”. Saat itu, dia mengambil kertas kecil yang diberikan oleh gurunya dan dengan rasa penasaran membukanya. Dalam kertas itu tertulis sebuah kalimat: “BELAJARLAH UNTUK MENDENGARKAN”. Melihat kalimat itu, murid itu lalu teringat akan semua perilakunya terhadap gurunya, dan pada saat yang bersamaan dia membuka boxnya lalu mengambil pemberat-pemberat yang ada di dalamnya kemudian memajangnya di dinding kamarnya lalu mengatakan: “ini adalah pengalaman hidupku yang paling berkesan, dan yang mungkin tak akan pernah kulupakan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar