Klik "ide judul blog" untuk membaca tulisan ide dari judul blog...

Minggu, 01 April 2012

Teori Pengaruh Pikiran Terhadap Hasil Pencapaian

Sumber foto: www.backgroundsppt.net

Saya mengapresiasi teori ini. Teori ini adalah dari Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya yang berjudul "Terapi Positive Thinking". Teori ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Berfikir
V
Perhatian
V
Perasaan
V
Tindakan
V
Hasil:
Negatif/ Positif


Hasil yang dicapai berawal dari pemikiran atau kegiatan berfikir. Dari kegiatan berfikir, kemudian otak akan memberikan perhatian (fokus) terhadap yang difikirkan. Setelah itu, muncullah perasaan terhadap yang difokuskan. Perasaan tersebut kemudian menjadi bahan bakar (penggerak) tubuh, yang menggerakkan tubuh untuk melakukan tindakan. Dari tindakan itulah, hasil diperoleh. Tidak peduli apakah pemikiran awalnya adalah positif ataupun negatif.
Jika pemikiran awal adalah negatif, maka hasilnya negatif. Dengan hasil tersebut, maka pikiran negatif akan bertambah kuat, sehingga menghasilkan hasil yang negatif lagi. Proses ini akan terus berulang, sampai pola pikir dirubah. Hal ini sejalan dengan Firman Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d: 11).

Di samping itu, jika pemikiran awal adalah positif, maka hasilnya adalah positif. Dengan hasil tersebut, maka fikiran positif akan bertambah kuat, sehingga menghasilkan hasil yang positif lagi. Proses ini akan terus berulang. Dan tentu saja, dengan itu kebahagiaan akan dirasakan. Namun, proses tersebut tidak selamanya seperti itu. Seperti halnya pemikiran negatif yang dapat berubah. Pemikiran positif pun dapat berubah. Faktor yang merubah pikiran positif berbeda dengan faktor yang merubah pikiran negatif. Jika faktor yang merubah pikiran negatif adalah faktor internal yaitu diri sendiri, maka faktor yang merubah pikiran positif adalah kebalikannya; faktor eksternal, yaitu orang lain.
Jika orang mengatakan sesuatu hal yang negatif tentang diri kita, kemudian kita mempercayainya atau menafsirkannya sebagai hal yang negatif, maka fikiran kita akan bergeser dari positif ke negatif. Perkataan tersebut didukung oleh pernyataan Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul “Social Intelligence” yang mengatakan bahwa: orang yang lebih kuat emosinya akan menularkan emosinya ke orang yang lebih lemah emosinya.

2 komentar:

  1. pengalaman masa lalu di ambil manfaatnya saja bro, lalu diterapkan untuk masa depan yang lebih baik. Saya juga sudah membaca buku dr. Ibrahim Elfiky. Buku yang bagus, juga post yang bagus bro, wassalaam!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims atas masukannya...
      Memang, saat menuliskan posting ini, saya menaruh subyektifitas saya (entah itu sedikit atau banyak). Karena memang saya terbawa perasaan (emosi) sewaktu menulis. Itulah mungkin kekurangan saat menulis posting ini (posting yang berkategori curhat). Sulit untuk tidak terbawa emosi...

      Hapus